Senin, 28 Desember 2020

Pentingnya Pemeriksaan TORCH Sebelum Hamil

TORCH, TORCHS


DokDin.ID - Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil biasa dirasakan ketika seorang ibu hamil mengalami keguguran berulang. Beberapa ibu hamil belum merasakan pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil. Sehingga ketika ibu dalam program hamil ditawarkan pemeriksaan TORCH ini, beberapa calon ibu atau ibu hamil muda menolak karena biaya pemeriksaan TORCH ini relatif mahal. Ketika ibu hamil tersebut mengalami keguguran berulang barulah ia sadar betapa pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil ini.

Pernahkah Anda mendengar pemeriksaan TORCH
yang dilakukan ketika seorang ibu melakukan

 program hamil atau tengah hamil muda ? 


 Tes darah TORCH biasa dilakukan saat wanita tengah hamil muda atau sedang dalam program kehamilan sebagai screening test terhadap penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan cacat bawaan atau bahkan keguguran. Jadi dengan pemeriksaan TORCH, Anda dapat mencegah terjadinya cacat bawaan atau keguguran. 

 Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil ini yaitu agar keberadaan penyakit TORCH bisa diketahui dan diobati terlebih dahulu sehingga Dokter dapat menanganinya dan diharapkan penyakit TORCH yang terdeteksi lebih awal ini tidak mengganggu perkembangan janin. 

 Periksa TORCH juga kadang dilakukan pada bayi baru lahir terkait indikasi dan kondisi bayi tersebut. Jika curiga adanya penyakit tersebut, maka deteksi dini dan pengobatan segera sangat diperlukan. 

 Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan TORCH? 


 Pemeriksaan TORCH adalah cek darah untuk menyaring kemungkinan terjadinya penyakit yang disebabkan oleh: Toxoplasmosis, Rubella, Citomegalovirus, dan Herpes simpleks.

Jika pemeriksaan TORCH juga mencakup pemeriksaan untuk Sifilis maka pemeriksaan disebut TORCHS.  

Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil untuk mengetahui adanya :


1. Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil untuk mengetahui adanya : TOXOPLASMOSIS.  


Toxoplasmosis disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. 

Transmisi parasit biasanya melalui mulut. Bisa disebabkan oleh makan makanan yang kurang matang, misalnya daging asap atau steak, sate, sayuran mentah, telur mentah, atau paparan kotoran kucing. 


2. Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil untuk mengetahui adanya : RUBELLA 


 Rubella adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan ruam, cacat bawaan misalnya ketulian pada bayi atau penyakit jantung bawaan. 

 Rubella disebut juga campak jerman. Infeksi virus Rubella ditularkan melalui udara dan percikan air liur (droplet) dari penderita virus ini. 


3. Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil untuk mengetahui adanya : CITOMEGALOVIRUS 


Pada orang dewasa, infeksi Citomegalovirus memberikan gejala seperti flu, namun pada perkembangan janin dapat menimbulkan cacat bawaan seperti retardasi mental, kejang, gangguan fungsi hati sehingga bayi lahir dengan sakit kuning (jaundice), dan bayi lahir dengan berat badan rendah. 


4. Pentingnya Pemeriksaan TORCH  sebelum hamil untuk mengetahui adanya : HERPES SIMPLEX  


Virus herpes simpleks yang dimaksud di sini adalah herpes simpleks tipe-2, atau disebut juga herpes genital. 

 Gejala herpes genital mengenai organ vital dan dapat menularkan janin saat dalam kandungan (5%), persalinan (85%), dan saat masa nifas(10%). 

 Ibu hamil yang terinfeksi Herpes simpleks biasanya tidak menimbulkan gejala, sehingga infeksi tidak terdeteksi, kecuali dengan pemeriksaan darah (TORCH). 

Pemeriksaan TORCH biasanya ditambahkan juga pemeriksaan darah untuk mendeteksi adanya penyakit sifilis sehingga dinamakan pemeriksaan TORCHS.

 Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang ditularkan secara kontak seksual. Selain itu, sifilis juga dapat ditularkan oleh ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat dalam kandungan atau ketika persalinan menyebabkan sifilis bawaan (kongenital). 

 Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi sifilis akan menderita penyakit pada beberapa tahun mendatang kehidupannya, berupa hati dan limpa yang membesar (70%), radang paru (pneumonitis) 70%, neurosifilis/ penyakit saraf akibat sifilis (20%), bahkan kelainan anatomi berupa hidung pelana. 

 2 dari 3 bayi yang terlahir dengan sifilis bawaan, tidak menimbulkan gejala. 

Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil, untuk berjaga-jaga apakah diri Anda terinfeksi penyakit-penyakit Toxoplasma, Rubella, Citomegalovirus, Herpes Simplex, atau bahkan Sifilis, yang bisa menimbulkan keguguran atau cacat bawaan pada bayi Anda. 

 Deteksi dini penyakit ini dengan pemeriksaan TORCH dapat mencegah bayi lahir dengan cacat bawaan misalnya cacat mata atau katarak, tuli, retardasi mental (IQ rendah), kelainan jantung bawaan, Gangguan saraf pusat (kejang), Penyakit hati (sakit kuning), dan kelainan darah / gangguan pembekuan darah (kadar trombosit rendah). 

 Hasil periksa TORCH dapat 'positif' atau 'negatif'. Dikatakan 'positif' mengidap salah satu atau lebih penyakit TORCH jika terdapat antibodi IgM dalam darah. Adanya antibodi IgM menunjukan terdapatnya infeksi saat ini. 

 Dikatakan 'negatif' jika hasil darah tidak menunjukkan adanya antibodi IgM. Sedangkan antibodi IgG dapat muncul atau tidak. 

Jika terdapat antibodi IgG pada darah itu menunjukkan bahwa infeksi telah terjadi di masa lampau yang saat ini sudah tidak aktif lagi. Namun perlu diwaspadai jika kadar antibodi IgG meningkat. Tak ada salahnya Anda menjamin keamanan diri Anda dari infeksi yang bisa menyebabkan cacat bawaan dan keguguran. 

Jumat, 25 Desember 2020

Mengenal Episiotomi Saat Persalinan Normal

episiotomi,
Img Source : Pexels


DokDin.ID - Jika saat ini Anda tengah hamil dan berencana untuk melahirkan secara normal maka inilah yang patut Anda ketahui. Episiotomi dan persalinan normal bisa saja menjadi bagian yang tidak terpisahkan. 

Apakah Yang Dimaksud Dengan Episiotomi?


 Episiotomi adalah sayatan yang dibuat di perineum - jaringan yang terletak di antara pembukaan jalan kelahiran dan "maaf" anus (tempat pembuangan sisa makanan) - saat melahirkan. 

Episiotomi biasa dilakukan dengan menggunakan gunting bedah. Meskipun episiotomi dan persalinan normal pernah menjadi bagian rutin yang tidak terpisahkan, itu tidak lagi terjadi saat ini. 

 Dulu, episiotomi dan persalinan normal tak terpisahkan. 

Episiotomi dianggap sangat membantu proses kelahiran, membantu agar robekan yang terjadi di jalan lahir tidak lebar, dan membantu menjaga kekuatan otot dan jaringan ikat di sekitar jalan lahir. 

 Namun efek episiotomi juga banyak dilaporkan pasien seperti pemulihan masa nifas yang tidak nyaman. Bahkan keluhan seperti sayatan episiotomi yang terlalu luas sering dilaporkan. 

Apa Efek Yang Dapat Ditimbulkan Dari Tindakan Episiotomi Saat Persalinan Normal?


 Efek yang dapat ditimbulkan dari tindakan episiotomi saat persalinan normal adalah bahwa efek  sayatan episiotomi yang terlalu luas dapat mempengaruhi timbulnya infeksi, perasaan nyeri yang dirasakan sampai beberapa bulan setelah melahirkan, dan pada beberapa wanita dapat terjadi inkontinensia alvi (tidak dapat menahan rasa ingin buang air besar). 

 Oleh karena itu, sekarang, Episiotomi dan persalinan normal yang menjadi bagian rutin tidak lagi direkomendasikan. 

 Meski episiotomi dan persalinan normal sekarang tidak lagi menjadi bagian rutin, namun prosedur ini diperlukan pada beberapa kasus dimana episiotomi lebih baik dilakukan dibandingkan tidak dilakukan, yaitu pada kondisi tertentu. 

Kapan Tindakan Episiotomi Dipertimbangkan Untuk Dilakukan Saat Persalinan Normal?


 Tindakan episiotomi dipertimbangkan untuk dilakukan pada persalinan normal yang mempunyai Kemungkinan bahwa robekan jalan lahir yang akan terjadi dapat luas dan tidak beraturan akibat  kondisi tertentu.

Kondisi tertentu yang memungkinkan terjadinya robekan luas dan tidak beraturan pada jalan lahir adalah sebagai berikut.

  • Makrosomia yaitu berat badan bayi yang dilahirkan lebih dari 4 KG, 
  • Keadaan bayi dimana diperlukan persalinan yang cepat, misalnya hipoksia (kekurangan oksigen) yang diperiksa dengan alat CTG (CardioTocoGraphy).
Jika Dokter memutuskan untuk melakukan episiotomi pada proses persalinan Anda, maka Dokter akan memberikan obat bius lokal, sehingga Anda tidak akan merasakan nyeri saat dilakukan tindakan episiotomi. 

 Ada dua jenis sayatan episiotomi: 


1. Sayatan Episiotomi : Garis tengah atau sayatan median. 

 Sebuah sayatan median dilakukan lurus arah vertikal. Untuk memperbaiki bekas sayatan median ini lebih mudah daripada sayatan mediolateral, namun risiko untuk merobek anus lebih besar. 

 2. Sayatan Episiotomi : Sayatan mediolateral. 

 Sebuah sayatan mediolateral adalah sayatan yang letaknya agak ke pinggir jadi tidak searah dengan jalan lahir dan lubang anus. Sayatan mediolateral lebih sering dilakukan saat episiotomi karena mencegah risiko robekan vagina dan anus, meskipun lebih sulit untuk memperbaiki sayatannya setelah bayi lahir. 

 Dilaporkan bahwa rasa nyeri pasca episiotomi dan persalinan normal dengan sayatan median lebih cepat hilang daripada episiotomi dengan sayatan mediolateral. 

Jika Anda mengalami tindakan episiotomi saat persalinan atau robekan alami yang lebar, biasanya rasa nyeri akibat episiotomi dan robekan jalan lahir tersebut akan bertahan selama beberapa minggu setelah melahirkan. 

 Bahkan untuk robekan atau sayatan yang lebih luas, rasa nyeri akan bertahan lebih lama. 

Rasa tidak nyaman akibat jahitan perineum juga dirasakan mengganggu beberapa minggu setelah melahirkan. Benang jahitan yang digunakan dalam tindakan episiotomi akan terserap dengan sendirinya. 

 Apa Saja Yang Dapat Anda Lakukan Agar Luka Pasca Tindakan Episiotomi Pada Persalinan Normal Cepat Sembuh? 


 Inilah yang dapat Anda lakukan  agar luka jahitan akibat tindakan episiotomi atau robekan jalan lahir akibat persalinan normal bisa cepat sembuh. 


  1. Anda dapat mengatasi luka robekan atau episiotomi pasca melahirkan dengan menggunakan cairan antiseptik saat buang air besar dan buang air kecil. 
  2. Minumlah obat antibiotika secara teratur dan jangan lupa untuk menghabiskannya. Biasanya Anda akan diberikan obat anti nyeri dan antibiotika selama beberapa hari untuk menghilangkan rasa nyeri dan mencegah terjadinya infeksi terutama pada bekas luka robekan/sayatan di perineum.
  3. Jangan tunda untuk buang air kecil karena hal tersebut dapat memicu timbulnya infeksi saluran kemih (ISK) dan dapat memicu terjadinya konstipasi (kesulitan buang air besar). 
  4. Untuk mencegah susah buang air besar yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada bagian perineum, Anda dapat minum obat pencahar. Konsultasikan pada Dokter ObGyn obat pencahar apa yang aman untuk Anda, terutama jika Anda memberikan ASI untuk bayi Anda.
  5. Berhati-hatilah saat duduk. Dianjurkan duduk di tempat yang empuk atau tempat duduk berbentuk cincin agar bekas luka pasca tindakan episiotomi tidak terasa nyeri. 
  6. Makan makanan bernutrisi tinggi untuk mempercepat penyembuhan misalnya makanan yang mengandung protein tinggi seperti ikan, telur, dan ayam.

Rabu, 23 Desember 2020

Mengenal Endometriosis : Salah Satu Penyebab Kemandulan

endometriosis, nyeri perut, wanita sakit perut


DokDin.ID - Rahim wanita terdiri dari 3 lapisan. Lapisan terluar disebut perimetrium, lapisan tengah terdiri dari otot polos disebut miometrium, dan lapisan terdalam di mana janin tumbuh disebut endometrium. 

Apakah Endometriosis itu?


Pada saat jaringan endometrium tumbuh di luar rahim maka keadaan tersebut disebut endometriosis. 

Jaringan endometrium yang tumbuh ke luar rahim ini disertai dengan perambatan pembuluh darah sehingga memungkinkan endometriosis makin besar dan melebar bahkan dapat membentuk kista endometriosis. 

 Radang atau kista endometriosis ini bisa melekat pada indung telur, usus halus, usus besar, vagina, bahkan bisa sampai ke organ yang jauh dari rahim, misalnya paru-paru. Kista endometriosis ini menimbulkan rasa nyeri yang sangat tidak tertahankan pada sebagian wanita. 

Apa Saja Faktor Risiko Terjadinya Endometriosis ?

 FAKTOR RISIKO ENDOMETRIOSIS adalah sebagai berikut :

  •  Keturunan, 
  •  Siklus menstruasi nya kurang dari 28 hari, 
  •  Panjang menstruasi lebih dari 7 hari,  
  • Pertama kali mendapat haid usia kurang dari 14 tahun, 
  •  Melahirkan di atas 30 tahun untuk anak pertama,  
  • mempunyai bentuk rahim yang tidak normal, 
  •  kulit putih, 
  •  Paparan terhadap pestisida (organoklorin), 
  •  Kurang aktivitas fisik (olahraga), 
  •  Berat badan kurang dari normal (kurang dari Indeks Massa Tubuh Normal), 
  •  Diet (kurang serat dan asam lemak omega 3, tinggi protein hewani seperti sapi), dan 
  •  Perilaku rumah tangga yang menyimpang misalnya berhubungan suami-istri saat menstruasi belum selesai. 

Endometriosis : Salah Satu Penyebab Kemandulan

Endometriosis sering dikaitkan pada terjadinya infertilitas/kemandulan karena keberadaan endometriosis dapat menghalangi jalannya sel telur menuju ke rahim. 

Apa Saja Penyebab Terjadinya Endometriosis?


Penyebab pasti terjadinya endometriosis belum dapat ditegakkan. 

Namun ada beberapa teori yang menjelaskan beberapa kemungkinan sebagai penyebab endometriosis, di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Jalannya menstruasi yang bergerak mundur ke saluran telur atau indung telur akibat adanya kelainan bentuk rahim atau faktor lain, 
2. Kelainan sistem kekebalan yang memungkinkan jaringan menstruasi tumbuh di luar dinding rahim, dan 
3. faktor genetika. 

Apa Saja Gejala Endometriosis ?

GEJALA ENDOMETRIOSIS adalah sebagai berikut. 


 1. Gejala Endometriosis : Nyeri haid dan kemandulan 

 Endometriosis menyebabkan nyeri haid karena pada saat siklus haid dimulai, jaringan endometriosis juga ikut dalam siklus itu. Jaringan endometriosis menebal dan terjadi peluruhan saat tidak ada pembuahan janin. Jadi pada saat haid, jaringan endometriosis sama seperti dinding rahim yang sehat, meluruh dan mengeluarkan perdarahan haid, hanya saja perdarahan pada jaringan endometriosis sangat banyak dan menimbulkan nyeri. Perlengketan jaringan endometriosis dapat terjadi pada organ-organ lain dimana jaringan endometriosis yang ikut meluruh pada saat haid ini menjadi jaringan parut pada organ lain yang kontak dengan jaringan endometriosis. Perlengketan yang diakibatkan oleh jaringan endometriosis dapat menyebabkan infertilitas atau kemandulan jika terjadi pada tuba falopii (saluran telur) yang menghalangi jalannya ovum (sel telur) menuju ke rahim (endometrium). 

 2. Gejala Endometriosis : Menstruasi yang tidak teratur 

 Pada saat siklus haid, perdarahan awal berupa bercak-bercak (spotting) yang berasal dari jaringan endometriosis. 

 3. Gejala Endometriosis : Dispareunia 

 Dispareunia adalah nyeri pada saat berhubungan suami-istri. 

4. Gejala Endometriosis : Pembengkakan perut 

 Jika jaringan endometriosis melekat pada usus besar, jalannya sisa makan akan terhambat sehingga menimbulkan pembengkakan perut. Biasanya timbul nyeri pada saat buang air besar, membuat penderita endometriosis trauma untuk pergi ke belakang. 

 5. Gejala Endometriosis : Perdarahan 

 Kista endometriosis dapat melekat pada ovarium dan berisi darah. Pada suatu saat, kista endometriosis yang berisi darah (endometrioma) tersebut dapat pecah dan menimbulkan perdarahan, nyeri yang sangat hebat, dan apabila tidak ditangani secara cepat dapat membahayakan jiwa. 

 

Bagaimana Pengobatan Endometriosis?

Pilihan pengobatan endometriosis dapat berbeda-beda tergantung kepada usia penderita, rencana kehamilan, dan perjalanan penyakitnya. 

 Pengobatan endometriosis dapat berupa obat-obatan hormonal yang dapat menghambat perkembangan endometrium, bahkan sampai dilakukan pembedahan. 

 Pembedahan endometriosis seringkali menyertai pembuangan rahim, saluran telur, dan indung telur, dengan tujuan membuang sebanyak mungkin jaringan endometriosis. 

 Pengobatan endometriosis menjadi lebih kompleks jika penyebarannya sudah mencapai organ yang jauh, seperti misalnya paru-paru. 

 Meskipun demikian, kadang endometriosis dapat muncul tanpa gejala dan tidak terjadi perjalanan penyakit endometriosis lebih lanjut.
This entry was posted in

Senin, 21 Desember 2020

Hipertensi Pada Usia Lanjut

hipertensi usia lanjut


DokDin.ID - Hipertensi pada usia lanjut
pada awalnya dianggap normal akibat adanya perubahan fungsi tubuh terkait proses penuaan. Ternyata, hipertensi pada usia lanjut yang tidak diobati dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit yang terkait hipertensi. 

Diperkirakan 2/3 penderita hipertensi pada usia lanjut , di atas usia 60 tahun, akan mengalami gagal jantung, infark miokard (penyakit jantung), dan stroke , dalam 5 tahun ke depan, jika hipertensi pada usia lanjut ini tidak diobati. 

Hipertensi pada usia lanjut ini adalah bila tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih. Tekanan darah sistolik meningkat sampai usia 70 tahun, sedangkan tekanan darah diastolik meningkat sampai usia 50-60 tahun, lalu kemudian menetap atau menurun pada usia 70 tahun. 

Mengapa pada usia lanjut dapat terjadi hipertensi? 

Pada usia lanjut, terjadi perubahan-perubahan fungsi tubuh yang memudahkan seseorang terkena hipertensi. 

Perubahan fungsi tubuh usia lanjut berupa : curah jantung yang rendah, jumlah denyut jantung yang berkurang (bradikardia), aliran darah ginjal menurun, kemampuan ginjal menyaring zat-zat buangan urin menurun (filtrasi glomerulus menurun), aktivitas hormon renin plasma rendah, terjadi gangguan kapasitas konservasi air dan natrium, aktivitas simpatik meningkat, dan volume darah dalam pembuluh darah berkurang (intravaskuler). 

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada hipertensi usia lanjut adalah : Pemeriksaan tekanan darah pada usia lanjut memerlukan beberapa kali pengukuran tekanan darah sebelum benar-benar memastikan apakah orang usia lanjut tersebut terkena hipertensi atau tidak. 

Pada usia lanjut, kekakuan pembuluh darah arteri bisa saja terjadi, sehingga pada waktu diukur tekanan darahnya, hasilnya lebih tinggi dari tekanan darah pembuluh darah arteri yang sebenarnya. Hal ini disebut pseudo-hipertensi. 

Tekanan darah sebaiknya diukur dengan posisi duduk maupun berdiri, untuk memeriksa adanya hipertensi postural, yaitu tekanan darah sistolik yang menurun 20 mmHg atau lebih pada posisi berdiri). 

Tekanan darah pada saat berdiri biasanya dipakai untuk menghentikan pengobatan hipertensi, pada hipertensi postural. 

Penyebab terbanyak hipertensi pada usia lanjut adalah hipertensi esensial dan hipertensi renovaskular (ginjal). 

Pengobatan hipertensi pada usia lanjut harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan organ akibat hipertensi. 

Gaya hidup yang perlu dimodifikasi pada hipertensi usia lanjut berupa : penurunan berat badan bagi penderita hipertensi yang gemuk, melakukan gerak badan yang teratur (jalan pagi), menghentikan konsumsi alkohol jika mungkin, berhenti merokok jika penderita hipertensi merokok, diet rendah garam, diet tinggi serat dan sayur, penanganan rutin jika penderita hipertensi juga mengalami diabetes melitus dan dislipidemia (kolesterol tinggi), dan kurangi stres. 

Hipertensi pada usia lanjut dikatakan sudah berhasil diobati jika tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 80 mmHg atau kurang.
This entry was posted in

7 Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan

ibu pasca melahirkan, dokdin.id, baby blues ibu pasca melahirkan

DokDin.ID - Seorang ibu pasca melahirkan dapat mengalami beberapa hal yang mungkin belum pernah dialami sebelumnya. Setiap ibu pasca melahirkan memiliki beberapa hal yang berbeda yang terjadi pasca melahirkan.

8 Hal yang sering terjadi pada ibu pasca melahirkan adalah sebagai berikut.


Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :    

No. 1 KELELAHAN 

Ibu pasca melahirkan akan langsung merawat bayinya. Meskipun beberapa ibu pasca melahirkan menggunakan jasa babysitter, tetap ibu pasca melahirkan harus menyusui atau memberikan asi kurang lebih tiap 2 jam sekali. 

Kelelahan sering terjadi pada ibu pasca melahirkan bayi terkait kondisi fisik yang sedang dalam proses pemulihan kembali ke keadaan tubuh seperti sebelum kehamilan, adanya perubahan hormonal, aktivitas merawat bayi, kurangnya waktu istirahat, dan pola diet yang kurang sesuai untuk ibu menyusui.


Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :    

No. 2 KURANG TIDUR

Ibu pasca melahirkan biasanya kurang tidur. Untuk dapat meminimalisir ibu pasca melahirkan yang kurang tidur, dapat diantisipasi dengan pengaturan pola tidur misalnya ketika bayi tertidur, ibu pasca melahirkan juga mengusahakan untuk dapat tidur. 

Ibu pasca melahirkan perlu mengatur jam tidurnya dan mengusahakan agar jam tidur tetap minimal 8 jam sehari. Ibu pasca melahirkan juga perlu menjaga kesehatan mentalnya menghadapi kehidupan baru dengan lahirnya buah hati. Salah satunya adalah menjaga tidur minimal 8 jam per hari untuk menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya stres. Hal ini sangat diperlukan bagi ibu pasca melahirkan dalam merawat bayinya.  


Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :
No. 3 BABY BLUES 


Menurut data yang dilansir oleh americanpregnancy.org, baby blues dapat terjadi 70-80% pada ibu pasca melahirkan. 

Biasanya ibu pasca melahirkan yang mengalami babyblues akan sering menangis tanpa alasan saat sedang menghadapi bayinya. Ibu pasca melahirkan dengan Baby Blues juga mengalami berbagai situasi emosional yang tidak stabil seperti hilangnya kesabaran saat sedang mengurus bayi, perasaan ibu pasca melahirkan menjadi lebih sensitif akan hal-hal kecil jika dibandingkan sebelumnya, insomnia, sampai hilangnya konsentrasi. 

Perubahan suasana hati ibu pasca melahirkan yang begitu tidak stabil biasanya disebabkan oleh perubahan hormonal. Biasanya babyblues akan hilang dengan sendirinya sekitar 14 hari kemudian setelah persalinan. Dukungan keluarga sangat berarti untuk mengatasi Baby Blues pada ibu pasca melahirkan.
 

Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca melahirkan :
No. 4 KONSTIPASI 


Tingginya kadar hormon progesteron selama kehamilan dapat menyebabkan susah buang air besar atau konstipasi yang dapat terjadi pada ibu pasca melahirkan. 

Konstipasi pada ibu pasca melahirkan harus segera ditangani agar terjadinya hemoroid atau wasir dapat dihindari.

Di samping akibat hormon progesteron, kebiasaan ibu pasca melahirkan juga mempengaruhi timbulnya konstipasi. Sebagian ibu pasca melahirkan akan takut untuk buang air besar setelah melahirkan normal, terlebih lagi bagi ibu pasca melahirkan normal dengan tindakan episiotomi. 

Sikap menunda untuk buang air besar akan mempermudah terjadinya konstipasi ini. Untuk mencegah konstipasi, ibu pasca melahirkan sedapat mungkin segera bangun dan perlahan melakukan aktivitas ringan seperti berjalan ke toilet atau duduk ketika sudah merasa cukup tenaga (jika tidak ada penyulit persalinan, biasanya 2 jam setelah bersalin) namun hal ini perlu mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Dokter atau Bidan yang merawat ibu pasca melahirkan. 

Aktivitas ringan seperti berjalan pelan untuk mandi dapat membantu agar tubuh kita segera pulih. Dengan melakukan aktivitas ringan, metabolisme tubuh ibu pasca melahirkan dapat segera berjalan kembali normal termasuk saluran pencernaan. Sehingga metabolisme saluran pencernaan yang lambat dan dapat memicu timbulnya konstipasi pasca melahirkan, dapat dihindari dengan melakukan aktivitas ringan.

Diet tinggi serat, misalnya buah, sayur, makanan whole grains seperti oat, dapat membantu mencegah terjadinya konstipasi. Konsumsi minimal 2 liter air per hari juga diperlukan untuk membantu mencegah terjadinya konstipasi.


Hal yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :
No. 5 HEMOROID / WASIR 


Ibu pasca melahirkan dapat mengalami hemoroid atau wasir. Terjadinya hemoroid dipicu oleh adanya konstipasi yang tidak segera ditangani atau keadaan ibu yang terlalu mengejan saat bersalin normal. Akibatnya terjadi pelebaran vena atau pembuluh darah balik di saluran pencernaan bagian bawah. 

Pelebaran vena pada saluran pencernaan bagian bawah disertai dengan semakin tipisnya pembuluh darah tersebut sehingga memungkinkan terjadinya pecah pembuluh darah.

Hemoroid juga dapat dialami setiap orang. Hemoroid dapat berupa gejala buang air besar berdarah atau keluar seperti daging lemak berwarna pink dari saluran pembuangan. Hemoroid dapat nyeri atau gatal. 

Meski Hemoroid dapat sembuh sendiri, nyatanya sebagian besar penderitanya datang ke Dokter untuk mencari pengobatan Hemoroid karena tidak tahan atas nyeri yang dirasakan akibat Hemoroid.     

Hemoroid dapat dicegah dengan cara mencegah konstipasi. 

Pasca melahirkan, hemoroid yang terjadi biasanya akibat mengejan terlalu kuat dalam waktu yang relatif lama, misalnya saat ibu mencoba mengejan dengan kuat padahal terjadinya pembukaan persalinan belum lengkap. 

Selain itu, Hemoroid yang terjadi pada ibu pasca melahirkan juga dapat disebabkan karena faktor perubahan hormon dan pemberian suplemen anti anemia yang mengandung zat besi.

Anemia pada ibu pasca melahirkan dapat diketahui dengan pemeriksaan laboratorium di mana kadar hemoglobin darah di bawah 10 g/dl. 

Anemia pada ibu pasca melahirkan sebagian besar adalah anemia defisiensi besi. Inilah mengapa ibu pasca melahirkan mendapat suplementasi zat besi untuk mencegah terjadinya anemia dimana risiko pemberian zat besi pada ibu pasca melahirkan ini dapat menyebabkan terjadinya konstipasi yang memicu timbulnya Hemoroid.


Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :
No 6. NYERI PERUT BAGIAN BAWAH 


Ibu pasca melahirkan sebagian besar mengalami nyeri perut bagian bawah akibat adanya proses alami dimana rahim akan berkontraksi menuju ukuran rahim seperti sebelum kehamilan. 

Jangan khawatir.

Karena timbulnya nyeri perut bagian bawah ini berkaitan dengan pemulihan ibu pasca melahirkan. Pada ibu pasca melahirkan yang memberikan ASI pada bayinya, proses pemulihan rahim bisa lebih cepat karena proses menyusui akan memicu produksi hormon oksitosin yang akan menyebabkan rahim semakin giat berkontraksi. Dalam hal ini, penyembuhan rahim pada ibu pasca melahirkan yang menyusui dapat lebih cepat jika dibandingkan dengan ibu pasca melahirkan yang memberikan susu formula pada bayinya.


Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :
No.7 BREAST ENGORGEMENT 



Breast engorgement pada ibu pasca melahirkan ditandai dengan adanya pembengkakan  yang menyebabkan nyeri yang sangat akibat terlalu banyak terisi ASI. 

Dua sampai lima hari pasca melahirkan, produksi ASI mulai aktif, namun bayi saat itu belum terlalu aktif untuk meminta ASI, akibatnya terjadi penumpukan ASI yang menyebabkan Breast Engorgement pada ibu pasca melahirkan.

Nyeri akibat Breast Engorgement dapat diminimalisir dengan pengompresan handuk hangat dan terus memberikan ASI pada bayi ketika ia membutuhkan ASI.

Minggu, 20 Desember 2020

Yuk ! Hitung Kebutuhan Kalori Per Hari

kebutuhan kalori per hari, dokdin.id, kalori makanan



DokDin.ID -
Kebutuhan kalori setiap orang tidaklah sama. Karena itu, menu diet tiap orang juga tidak sama. Menu diet yang tepat disusun berdasarkan kebutuhan kalori Anda, tergantung pada usia, berat badan, tinggi badan, dan jenis kelamin. 

 Oleh karena itu, Anda patut mengetahui cara menghitung kebutuhan kalori per hari berdasarkan usia, berat badan, tinggi badan, dan jenis kelamin. 

 Bagaimana cara menghitung kebutuhan kalori per hari berdasarkan usia, berat badan, tinggi badan, dan jenis kelamin? 


 Inilah cara menghitung kebutuhan kalori per hari berdasarkan usia, berat badan, tinggi badan, dan jenis kelamin. 

 Ini rumusnya: 

 Kebutuhan kalori per hari = 
Basal metabolisme (BM) + Aktivitas + Efek Termik dari Makanan 

Basal Metabolisme


 Basal metabolisme adalah sejumlah energi yang diperlukan oleh tubuh dalam keadaan istirahat, dalam keadaan berbaring, suhu badan normal, dan berada di lingkungan dengan suhu ruangan (sekitar 25 derajat celcius). 

 Energi metabolisme basal ini diperlukan tubuh untuk memelihara proses-proses biokimiawi yang terjadi dalam organ-organ tubuh. 

Untuk Menghitung Basal Metabolisme (BM) digunakan rumus Harris-Benedict, yang bisa digunakan baik untuk seseorang yang Indeks Massa Tubuh (IMT)nya normal, underweight, dan overweight/obese. 


Basal Metabolisme Wanita    


Untuk wanita menggunakan rumus : 
Basal Metabolisme = 655 + (9,6 x BB) + (1,7 x TB ) - (4,7 x Usia)


Basal Metabolisme Pria 


 Untuk pria menggunakan rumus : 
Basal Metabolisme = 66 + (13,7 x BB) + (5 x TB) - (6,8 x Usia) 

Energi Aktivitas 


Untuk menghitung energi aktivitas sebaiknya dihitung per kegiatan, namun dapat juga dihitung secara umum dengan memperkirakan apakah aktivitas seseorang sangat berat, berat, sedang, ringan, atau sedentary (duduk-duduk saja). 

 Aktivitas Sedentary : duduk --> 10% dari Basal Metabolisme

Aktivitas Ringan : pegawai kantor --> 20% dari Basal Metabolisme

Aktivitas Sedang : pegawai industri ringan --> 30% dari Basal Metabolisme 

Aktivitas Berat : buruh, petani --> 40% dari Basal Metabolisme

Aktivitas Sangat Berat : bersepeda --> 50% dari Basal Metabolisme 


 Efek Termik Dari Makanan


Untuk menghitung efek termik dari makanan adalah 10%  dari total basal metabolisme dan energi aktivitas ( BM + Aktivitas).


Contoh perhitungan kebutuhan kalori per hari adalah sebagai berikut


Seorang pria dengan berat badan 100 Kg, tinggi badan 160 Cm, dan usia 30 tahun dengan aktivitas ringan, 

Berapakah kebutuhan kalorinya per hari? 

 Kebutuhan Kalori per hari = Basal Metabolisme + Aktivitas + Efek Termik dari makanan 

 Basal Metabolisme = 66 + (13,7 x 100)+ (5x160) - (6,8 x 30) 

Basal metabolisme = 66 + 1370 + 800 - 204 BM = 2032 kalori. 

 Aktivitas = 20% x 2032 kal = 406,4 kalori. 

 Efek Termik Makanan = 10% (2032 + 406,4) = 243,84 kalori. 

 Jadi, kebutuhan kalori untuk Pria usia 30 tahun dengan berat badan 100 Kg, tinggi badan 160 cm, dan aktivitas ringan adalah sebesar 2032 + 406,4 +243,84 = 2682,24 kalori. 

 Dengan mengetahui kebutuhan kalori,  Kita dapat merencanakan menu diet sesuai dengan kebutuhan kalori per hari. 

 Kita dapat menambahkan jumlah makanan untuk menaikkan berat badan atau mengurangi makanan untuk menurunkan berat badan, tergantung berapa kalori yang ingin ditingkatkan atau dihilangkan dari menu diet.

Untuk menurunkan berat badan, kita perlu mengatur diet defisit kalori. 

Kamis, 17 Desember 2020

Infeksi Masa Nifas

nifas, infeksi nifas, endometritis



DokDin.ID -
Jangan abaikan demam yang terjadi saat Anda berada dalam masa nifas. Demam sebagian besar disebabkan oleh infeksi masa nifas, maka demam adalah tanda penting dari penyakit ini. 

 Demam ini adalah kenaikan suhu 38 derajat celcius atau lebih yang terjadi setelah 24 jam pasca melahirkan, selama 2 hari dalam 10 hari pertama masa nifas. 

Apa definisi, penyebab, faktor risiko, gejala, dan bagaimana transmisi kuman, pencegahan, serta penanganan infeksi masa nifas ini? 

 Berikut ini ulasan lengkap dari definisi sampai penanganan infeksi masa nifas 


Definisi Infeksi Masa Nifas 


Infeksi masa nifas atau yang disebut infeksi puerperalis adalah masuknya mikroorganisme yang merugikan ke dalam tubuh ibu nifas melalui luka di dalam rahim di mana luka tersebut adalah bekas tempat menempelnya plasenta yang terlepas pada proses persalinan. 


Penyebab Infeksi Masa Nifas 


 Penyebab infeksi masa nifas adalah bakteri, di antaranya adalah sebagai berikut ; Streptococcus Staphylococcus Escherichia coli Clostridium tetani Clostridium welchii Chlamydia Gonococcus 

Kemungkinan terbesar yang dapat menyebabkan infeksi masa nifas adalah bahwa penolong persalinan itu sendiri yang membawa kuman dari vagina ke dalam rahim ibu saat melakukan pemeriksaan dalam untuk memeriksa pembukaan serviks. 

 Infeksi dapat juga disebabkan jika alat-alat yang digunakan dalam menolong persalinan kurang steril. 

Atau infeksi masa nifas disebabkan karena 'hubungan' sebelum proses persalinan dimulai.  

Bakteri-bakteri penyebab infeksi masa nifas dapat berupa bakteri endogen dan bakteri eksogen. 

 Bakteri endogen adalah bakteri yang secara normal hidup di dalam vagina atau anus tanpa menimbulkan bahaya. Namun, jika bakteri endogen ini berada pada tempat yang bukan seharusnya, maka bakteri endogen dapat menyebabkan infeksi. 

 Pada proses persalinan, bakteri endogen yang terdapat pada vagina, dapat terbawa ke dalam rahim melalui tangan penolong persalinan. Ketika bakteri-bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh melalui luka rahim bekas menempelnya plasenta, maka terjadilah infeksi masa nifas ini. 

 Luka rahim bekas menempelnya plasenta merupakan luka yang cukup besar. Di samping itu, pintu masuk kuman bukan hanya melalui luka rahim yang cukup besar tadi, melainkan sebagian kecil dapat melalui luka jalan lahir di vulva, perineum, vagina, ataupun leher rahim (serviks). 

 Saat kuman berhasil masuk dan menyebabkan infeksi masa nifas, maka kuman akan menjalar dan menyebabkan infeksi pada organ tubuh yang lebih luas, yang dimulai dari organ yang paling dekat misalnya saluran telur (salfingitis) atau selaput perut (peritonitis). 

 Bakteri eksogen adalah bakteri yang memang berada di lingkungan luar yang jika masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan penyakit. Bakteri eksogen ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui alat yang tidak steril saat persalinan, saat 'berhubungan', atau melalui tangan penolong persalinan. 


 Faktor Risiko Infeksi Masa Nifas 


 Faktor risiko terjadinya infeksi masa nifas adalah sebagai berikut; perdarahan, trauma persalinan, proses persalinan yang lama, tertinggalnya plasenta di dalam rahim, anemia, malnutrisi, alat-alat yang digunakan menolong persalinan tidak steril, pemeriksaan pembukaan serviks yang terlalu sering, perawatan perineum yang tidak tepat, dan infeksi menular seksual yang memang sudah ada sebelum proses persalinan. 

 Faktor paling penting yang memudahkan terjadinya infeksi masa nifas adalah trauma/luka persalinan dan perdarahan. 

 Perdarahan setelah melahirkan akan menurunkan daya tahan tubuh ibu, tambahan lagi adanya luka persalinan akan membuat pintu masuk kuman ke dalam tubuh ibu, selanjutnya jaringan-jaringan rahim yang 'mati' yang masih tertinggal di dalam rahim menjadi 'makanan' yang baik bagi kuman. 

 Sampai 10 hari setelah melahirkan, bahaya terjadinya infeksi masa nifas ini masih mengintai. Karena itu, ibu harus cerdas memilih kapan waktu untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah akibat bersalin. 

Hal-hal yang mungkin Anda alami setelah persalinan seperti misalnya kelelahan, kurang tidur, akan memicu terjadinya anemia. Keadaan anemia juga dapat menurunkan daya tahan tubuh Anda sehingga memudahkan terjadinya infeksi masa nifas


 Transmisi Kuman Penyebab Infeksi Masa Nifas


Terdapat berbagai macam jalan agar kuman dapat masuk ke dalam tubuh saat persalinan di antaranya adalah sebagai berikut ; Tangan penolong persalinan yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam (pemeriksaan pembukaan serviks) yang akan membawa masuk kuman yang berada di vagina. 

Sarung tangan dan alat-alat yang digunakan untuk menolong persalinan tidak sepenuhnya bebas dari kuman. 

Infeksi dapat ditularkan pada lingkungan tempat bersalin yang terkontaminasi bakteri dari hidung atau tenggorokan pihak lain. Karena itu, semua penolong persalinan wajib mengenakan masker dan pihak keluarga yang sedang mengalami infeksi saluran pernapasan dilarang masuk. 

Transmisi kuman dapat terjadi karena di dalam rumah sakit banyak tersebar bakteri yang berasal dari pasien lain. Kuman ini bisa menyebar melalui udara dan menyebabkan infeksi yang disebut infeksi nosokomial. 

Ibu yang mengalami ketuban pecah dini, yaitu ketuban sudah lebih dahulu pecah padahal belum ada pembukaan serviks, infeksi masa nifas dapat terjadi. 


Gejala Infeksi Masa Nifas 


 Gejala yang timbul pada infeksi masa nifas adalah sebagai berikut. 

 Jika infeksi masa nifas ini terjadi juga pada organ jalan lahir bagian luar, maka dapat terlihat proses infeksi lokal berupa ; perubahan warna kulit vulva dan vagina biasanya menjadi merah meradang, pada luka jalan lahir timbul nanah dan membengkak, darah nifas (lokia) bercampur nanah dan berbau, luka episiotomi terasa nyeri dan membengkak, suhu badan meningkat (demam), dan terasa nyeri saat bergerak. 

Gejala infeksi masa nifas lainnya adalah ; lemah, tekanan darah menurun, nadi berdenyut cepat, nafas sesak (ngos-ngosan), nyeri tekan pada perut, nyeri pada panggul, gelisah, kesadaran menurun bahkan sampai koma. 

Infeksi masa nifas adalah salah satu penyebab paling sering kematian ibu pasca persalinan selain perdarahan post partum dan eklampsia. 


 Macam-macam Infeksi Masa Nifas 


 Macam-macam infeksi masa nifas dapat terjadi pada berbagai organ tubuh sesuai dengan penyebaran kumannya. 


 INFEKSI VULVA, PERINEUM, VAGINA, DAN SERVIKS (LEHER RAHIM) 

 Infeksi vulva, perineum, vagina, dan serviks dapat terjadi bila luka episiotomi yang dijahit mengalami infeksi. 

Tanda-tanda luka episiotomi mengalami infeksi adalah ; nyeri di perineum sekitar jahitan, sakit ketika buang air kecil (disuria), pembengkakan luka episiotomi, sulit berjalan karena luka episiotomi bengkak, sisi jahitan episiotomi berwarna merah meradang, adanya nanah di sekitar jahitan episiotomi, tidak menyatunya jaringan dengan benang jahitan episiotomi, dan demam tapi tidak terlalu tinggi (38,3 derajat celcius). 

 Jahitan episiotomi sebaiknya diperiksa secara rutin apalagi saat Anda merasa nyeri atau susah bergerak karena jahitan episiotomi. 

Anda juga harus mengetahui bagaimana cara menjaga luka jahitan post episiotomi agar cepat cepat sembuh. Dengan merawatnya dengan seksama, diharapkan infeksi masa nifas karena luka episiotomi ini bisa dihindari. 


 ENDOMETRITIS 

 Endometritis adalah infeksi endometrium (rahim). 

Gejala yang berkaitan dengan endometritis yaitu; Demam bisa sampai 40 derajat celcius, denyut nadi cepat (takikardia), Menggigil (jika endometritis sudah berat), nyeri pada panggul, nyeri tekan perut bagian bawah, kecepatan mengecilnya rahim melambat, sehingga ukuran rahim masih besar, dan darah nifas yang keluar bisa sedikit yang disertai nanah dan berbau. 

Infeksi masa nifas paling sering menjelma menjadi endometritis. Saat itu, kuman berhasil menyerbu masuk melalui luka bekas menempelnya plasenta, menyebabkan infeksi pada endometrium (rahim) yang berpotensi menyebarkan infeksi pada organ terdekat di sekitarnya. 

 Seandainya Anda mengalami salah satu gejala di atas, segeralah konsultasikan ini pada Dokter Kandungan agar mendapat penanganan dengan segera. 

 Endometritis yang tidak mendapatkan pengobatan dengan tepat dan segera, akan menyebarkan infeksi ke organ di sekitarnya, menyebabkan infeksi saluran telur (salfingitis), infeksi selaput perut (peritonitis), dan tromboflebitis. 


 TROMBOFLEBITIS 

 Apa yang dimaksud tromboflebitis ? 

 Tromboflebitis adalah infeksi yang menjalar melalui pembuluh darah balik (vena) yang dalam kaitannya dengan infeksi masa nifas ini dapat menyebabkan kematian pada ibu nifas. 

 Pembuluh darah balik yang biasanya terlibat dalam infeksi masa nifas ini adalah vena-vena dinding rahim dan vena tungkai bawah (kaki). 

 Pada tromboflebitis yang mengenai kaki ( vena femoralis), salah satu gejala infeksi masa nifas yang muncul adalah pembengkakan mulai dari jari kaki, betis, dan paha. Biasanya hanya satu kaki saja yang bengkak, tapi bisa juga kedua kaki menjadi bengkak. 

 Jika Anda mengalami gejala ini, konsultasikan juga pada Dokter. Apalagi jika gejala ini disertai dengan gejala demam tinggi. 


 Pencegahan Infeksi Masa Nifas 


Sebenarnya infeksi masa nifas ini sangat bisa dicegah. Pencegahan terjadinya infeksi masa nifas ini pun dapat kita lakukan sebelum persalinan, saat persalinan, dan sesudah persalinan. 

 Pencegahan infeksi masa nifas sebelum persalinan atau pada saat hamil adalah ; Mengurangi faktor risiko terjadinya infeksi masa nifas yang dapat dilakukan semasa kehamilan, misalnya mencegah anemia, malnutrisi, dan mengobati penyakit penyerta saat kehamilan. 

 Makan makanan bergizi dan mewaspai makanan yang bisa membahayakan janin sangat berpengaruh pada daya tahan tubuh Anda di samping baik untuk perkembangan janin. 

Mengurangi 'berhubungan' saat hamil tua dikhawatirkan dapat memicu pecahnya ketuban sebelum adanya persalinan dimulai. 

Pendapat untuk menjarangkan 'berhubungan' saat hamil tua ini bertolak belakang pada pendapat para ahli lainnya yang mengungkapkan untuk sering 'berhubungan' pada hamil tua terutama saat tanggal perkiraan kelahiran sudah tiba. Hal ini dilakukan untuk memicu terjadinya kontraksi rahim akibat adanya rangsangan zat prostaglandin yang terdapat pada sperma agar mempercepat proses persalinan. Untuk itu, konsultasikanlah hal ini pada Dokter, untuk menilai yang mana yang sesuai dengan kondisi Anda saat hamil tua. 

 Pencegahan infeksi masa nifas saat persalinan terutama dilakukan oleh penolong persalinan dalam menggunakan alat-alat dan lingkungan yang steril. 

 Keluarga yang ingin menemani Anda dalam ruang bersalin sebaiknya menggunakan masker. Dan keluarga yang sedang mengalami influenza atau infeksi saluran pernapasan sebaiknya tidak ikut masuk ke dalam kamar bersalin. 

 Pencegahan infeksi masa nifas setelah persalinan wajib dilakukan oleh Anda, seperti merawat luka episiotomi dengan benar, minum antibiotika yang telah diberikan oleh Dokter secara teratur dan harus dihabiskan, dan makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 


 Penanganan Infeksi Masa Nifas 


 Jika infeksi masa nifas terlanjur terjadi maka penanganannya adalah konsumsi antibiotika yang diberikan oleh Dokter. 

 Infeksi masa nifas yang ringan masih dapat ditangani secara rawat jalan. Tapi di rumah, Anda harus memperhatikan suhu tubuh Anda apakah sudah stabil. Ukurlah suhu tubuh dengan menggunakan termometer secara teratur sedikitnya empat kali sehari. 

 Jika setelah minum antibiotika, suhu tubuh masih tinggi, maka segera hubungi Dokter, agar infeksi tidak berlarut-larut. 

Mungkin Dokter perlu mengganti jenis antibiotika jika hasil yang diharapkan dari antibiotika yang dikonsumsi Anda tidak sesuai harapan. 

 Beberapa dari ibu yang mengalami infeksi masa nifas yang sudah lanjut harus dirawat di rumah sakit. 

Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas



DokDin.ID - Dalam satu minggu pertama masa nifas, biasanya ibu nifas akan melakukan kunjungan kontrol pada Dokter kandungan atau Bidan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan ibu pasca persalinan. 

 Pemeriksaan kesehatan ibu selama satu minggu pertama masa nifas bertujuan untuk menganalisa nyeri pasca persalinan, perawatan luka perineum pasca episiotomi pada persalinan normal atau penyembuhan luka jahitan post caesar. 

 Kunjungan satu minggu pertama masa nifas ini sangat penting untuk pencegahan infeksi, edukasi pemberian ASI eksklusif , konsultasi penggunaan kontrasepsi, sampai keluhan-keluhan lain yang dirasakan ibu pasca melahirkan, misalnya ada tidaknya kemungkinan terjadi depresi post partum. 

Pentingnya satu minggu pertama masa nifas ini mengharuskan ibu melakukan kontrol pasca persalinan pada Dokter atau Bidan, yang dalam standar pelayanan kebidanan, sebaiknya ibu nifas melakukan kontrol pada hari ke-3 pasca persalinan. 

 Saat ibu melakukan kontrol pada satu minggu pertama masa nifas, Dokter atau Bidan akan melakukan pemeriksaan sbb. 

 1. Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas : Involusi Uterus 

 Dokter atau Bidan akan memastikan apakah proses involusi uterus (proses kembalinya ukuran rahim yang membesar ke ukuran rahim sebelum hamil) berjalan dengan normal, ada/tidaknya perdarahan yang menjadi penyebab kematian ibu pasca persalinan yang paling sering, dan ada/tidaknya bau yang tidak normal yang berasal dari lokia. 

 2. Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas : Hubungan Ibu & Bayi 

 Dalam satu minggu pertama masa nifas, biasanya ibu akan kesulitan dalam memberikan ASI pada bayi. Karena menyusui adalah proses belajar antara ibu dan bayi. Meskipun ibu sudah pernah menyusui bayi sebelumnya, tidak menjamin bahwa ibu tidak mengalami kesulitan memberi ASI, terutama pada satu minggu pertama masa nifas. 

 Dalam kunjungan kontrol ke dokter atau bidan inilah, sang ibu dapat berkonsultasi jika mengalami kesulitan dalam pemberian ASI. 

 Ibu yang menyusui akan memerlukan makanan dengan gizi seimbang terutama kebutuhan protein, vitamin, dan mineral. Jangan lupa untuk menambahkan 500 kalori dari kebutuhan kalori ibu yang tidak menyusui, setiap harinya, agar jumlah ASI dapat mencukupi kebutuhan bayi. 

 Rata-rata kebutuhan kalori ibu menyusui adalah 2300-2700 kalori dalam satu hari. Untuk kebutuhan protein, dapat ditambahkan 20 gram setiap harinya. 

Ibu menyusui juga membutuhkan 2-3 liter asupan cairan, baik dalam bentuk air putih, jus buah, atau susu. 

Ibu dianjurkan untuk menyusui sebanyak 1 gelas (250ml) setiap kali menyusui. Jangan lupa menambahkan suplemen vitamin dan mineral karena kebutuhan ibu menyusui terhadap vitamin dan mineral jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan masa hamil. 

 3. Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas : Deteksi Dini Infeksi Masa Nifas 

 Dalam satu minggu pertama masa nifas adalah masa yang paling rentan untuk terjadinya infeksi masa nifas. 

 Karenanya, kontrol ke Dokter atau Bidan dalam satu minggu pertama masa nifas adalah sangat penting, untuk mendeteksi adanya infeksi masa nifas, yang biasanya diawali dengan gejala demam. 

 4. Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas : Senam Nifas 

 Senam nifas penting dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan pasca persalinan. Tanyakan pada Dokter atau Bidan Anda tentang gerakan-gerakan senam nifas yang tepat. 

 5. Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas : Pencegahan Gangguan Jiwa Pasca Melahirkan 

Dikatakan baby blues paling rentan terjadi pada satu minggu pertama masa nifas. Saat ibu nifas kontrol dalam satu minggu pertamanya, Dokter juga akan menilai apakah ada kecenderungan terjadinya Gangguan Jiwa Pasca Persalinan. 

 Gangguan jiwa pasca persalinan yang dapat terjadi adalah baby blues, depresi, sampai psikosis pasca persalinan. Tanda-tanda awal terjadinya gangguan jiwa pasca persalinan adalah sulitnya merasakan kasih sayang ibu terhadap bayinya. 

 Pentingnya satu minggu pertama masa nifas mengharuskan setiap ibu nifas melakukan kunjungan kontrol pada Dokter atau Bidan yang membantu proses persalinannya.

Rabu, 16 Desember 2020

Kenali Penyebab Keguguran Berulang




DokDin.ID -
Keguguran berulang kali yang terjadi secara spontan sebanyak 3 kali atau lebih secara berturut-turut dalam dunia medis dikenal sebagai abortus habitualis. 

 Keguguran berulang sebanyak 3 kali atau lebih secara spontan dapat dialami oleh sekitar 1-2% wanita usia reproduksi. Dan sekitar 5% wanita usia reproduksi mengalami keguguran berulang sebanyak 2 kali atau lebih secara spontan. 

 Apakah Anda salah satu yang mengalami keguguran berulang (abortus habiatualis)? Bila Anda adalah salah satu dari sekian banyak wanita yang sering mengalami keguguran berulang, Anda patut mengetahui apa penyebab keguguran berulang (abortus habitualis) yang terjadi pada Anda. 

 Apa saja yang dapat menjadi faktor penyebab keguguran berulang atau abortus habitualis? 

Inilah penyebab keguguran berulang (abortus habitualis) yang patut Anda ketahui. 
 1. Penyebab Keguguran Berulang (Abortus Habitualis) : Faktor Genetik 


 Faktor genetik yang dibawa oleh Anda atau pasangan dapat menyebabkan keguguran berulang (abortus habitualis). Faktor genetik penyebab keguguran berulang (abortus habitualis) yang mungkin saja dibawa oleh Anda atau pasangan berupa kelainan kromosom pembawa abnormal. 

 Kelainan kromosom terbanyak yang mungkin dibawa oleh orangtua dan diturunkan pada calon bayi adalah balanced translocation atau Robertsonian translocation di mana jumlah kromosom hanya 45 (seharusnya 46). 

 Hasil pembuahan (calon bayi) dari pasangan orang tua yang memiliki faktor pembawa kelainan kromosom abnormal umumnya akan mengalami keguguran pada trimester pertama. Keguguran berulang (abortus habitualis) yang disebabkan oleh faktor genetik dapat terjadi sekitar 3-5%. 

 2. Penyebab Keguguran Berulang (Abortus Habitualis) : Faktor Hormonal 


 Faktor hormonal mempunyai peranan dalam terjadinya keguguran berulang (abortus habitualis) yang mungkin Anda alami. Contohnya kelainan hormon pada Diabetes Melitus. 

Ternyata, Diabetes Melitus bisa jauh mempengaruhi kehamilan Anda sampai terjadinya keguguran berulang (abortus habitualis). Diabetes yang tidak terkontrol meningkatkan risiko terjadinya keguguran berulang pada trimester awal. Sehingga Anda harus mempertahankan kadar gula darah sewaktu di bawah 200 mg/dl jika Anda mengalami Diabetes Melitus untuk mencegah terjadinya keguguran berulang pada kehamilan Anda. 

 Keguguran berulang (abortus habitualis) juga sering terjadi pada wanita dengan kadar hormon LH (Luteinising Hormon) yang tinggi. 

Menurut penelitian, Kadar hormon LH yang tinggi dapat menurunkan angka keberhasilan pembuahan calon bayi. Kadar hormon LH yang tinggi juga dilaporkan menyebabkan tingginya risiko terjadi keguguran berulang (abortus habitualis). 

 Kelainan hormon pada wanita dengan sindroma polikistik ovarium di mana pada indung telur (ovarium) terdapat banyak kista, juga mempunyai peranan pada kegugiran berulang (abortus habitualis). Wanita dengan gangguan hormon tiroid juga dapat mengalami keguguran berulang (abortus habitualis). 

 3. Penyebab Keguguran Berulang (Abortus Habitualis) : Faktor Infeksi dan Penyakit Ibu 


 Penyakit infeksi yang Anda alami ketika Anda hamil mempunyai risiko tersendiri pada kehamilan Anda termasuk risiko terjadinya keguguran berulang (abortus berulang). Bahkan penyakit infeksi ringan saja seperti misalnya influenza, bisa menyebabkan keguguran berulang. 

 Penyakit infeksi lainnya yang lebih serius seperti malaria, infeksi ginjal, sifilis, listeria monositogenes, mikoplasma, toxoplasmosis,juga dapat menyebabkan keguguran berulang (abortus habitualis), terutama pada trimester kedua kehamilan. 

 Selain itu, keputihan yang berwarna kuning kehijauan yang disebabkan oleh Bakterial Vaginosis, juga menyebabkan keguguran berulang pada trimester kedua, tapi tidak pada trimester pertama. Oleh karena itu, jangan abaikan keputihan yang terjadi selama hamil. 

Konsultasikan pada Dokter Anda apakah Anda memerlukan pengobatan antibiotika untuk mencegah terjadi masalah kehanilan akibat keputihan yang abnormal. 

 4. Penyebab Keguguran Berulang (Abortus Habitualis) : Faktor Anatomi 


 Kelainan bentuk rahim bisa menyebabkan terjadinya keguguran berulang (abortus habitualis) seperti uterus septate, uterus unikornu, uterus bikornu, dan uterus didelphys. 

 Adanya polip dan mioma dalam rahim juga bisa menyebabkan keguguran berulang. Ada kelainan rahim bernama inkompetensi serviks yang sering menyebabkan keguguran berulang (abortus habitualis). 

Pada inkompetensi serviks, leher rahim tidak sanggup menyangga calon bayi untuk tetap aman berada dalam kandungan. Sehingga pada inkompetensi serviks, keguguran berulang (abortus habitualis) tidak dapat dihindarkan. 

 Pada inkompetensi serviks, keguguran berulang biasanya terjadi pada trimester kedua. Selain itu, inkompetensi serviks juga bisa menyebabkan persalinan prematur. 

 Pada inkompetensi serviks, keguguran berulang yang terjadi biasanya berlangsung begitu saja, terjadinya sangat cepat dan tidak nyeri, perdarahan yang dialami pun bisa sangat sedikit, sehingga Anda bisa saja tidak menyadarinya. 

 Untuk menegakkan diagnosa inkompetensi serviks pada keguguran berulang (abortus habitualis) yang mungkin saja Anda alami, Dokter akan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan busi Hegar saat Anda tidak hamil atau pemeriksaan USG atau histerogram. 

 Inkompetensi serviks ini bisa terjadi karena bawaan atau karena proses persalinan sebelumnya yang menyebabkan perlukaan atau kerusakan pada leher rahim. 


 5. Penyebab Keguguran Berulang (Abortus Habitualis) : Faktor Autoimun 


 Kelainan autoimun seperti Lupus (SLE : Systemic Lupus Erythematosus) merupakan faktor imunologi yang dihubungkan dengan kejadian keguguran berulang. 

 Pada wanita penderita Lupus, selain keguguran berulang, kematian janin dalam kandungan, pertumbuhan janin terhambat, preeklampsia, juga sering terjadi, yang berhubungan dengan antifosfolipid antibodi. 

 Antifosfolipid antibodi (aPL) - lupus antikoagulan (LA) dan antikardiolipin antibodi (ACA) ditemukan pada wanita yang mengalami keguguran berulang sebanyak 15%. 

 Jika seorang wanita hamil dengan Lupus, dan ia tidak mendapat pengobatan selama kehamilan terkait penyakit Lupus yang dideritanya, maka kemungkinan angka keberhasilan calon bayi hidup adalah sebanyak 10%.  

6. Penyebab Keguguran Berulang (Abortus Habitualis) : Kekurangan Asam Folat 


 Kekurangan asam folat selama kehamilan terutama pada kehamilan trimester pertama dapat menyebabkan keguguran berulang (abortus habitualis). Keguguran berulang pada kekurangan asam folat terjadi karena calon bayi gagal tumbul atau tidak berkembang ke tahap perkembangan selanjutnya. Pada kekurangan asam folat dapat terjadi defek pada calon bayi di mana terjadi Activated protein C Resistence (APCR). 

 Wanita yang mengalami keguguran berulang akibat mengalami APCR dilaporkan sebanyak 20%. 

 7. Penyebab Keguguran Berulang (Abortus Habitualis) : Faktor Alloimun 

 Menurut penelitian, terjadi keguguran berulang (abortus habitualis) juga bisa disebabkan pleh adanya reaksi penolakan tubuh ibu terhadap calon bayi. Adanya reaksi penolakan tubuh ibu terhadap calon bayi yang dapat menyebabkan keguguran berulang ini disebut faktor alloimun. 

 Reaksi penolakan tubuh ibu terhadap calon bayi yang akan dikandungnya ini terjadi akibat kadar HLA (Human Leucocyte Antigens) meningkat, sehingga calon bayi ini dianggap sebagai 'benda asing' oleh reaksi imun sang ibu sehingga harus dikeluarkan. 

 Dengan mengetahui berbagai penyebab keguguran berulang (abortus habitualis) di atas, kita jadi lebih memahami betapa sulitnya proses untuk bisa mendapatkan kehamilan yang berhasil. 

 Banyak calon ibu yang begitu mendambakan kelahiran bayi yang sehat, setelah mengalami keguguran berulang. 

Bahkan banyak pula wanita yang sama sekali tidak berhasil untuk mendapatkan keturunan setelah mengalami keguguran berulang . 

Minggu, 13 Desember 2020

Masalah Pasien Terkait Tempat Tidur Rumah Sakit


DokDin.ID - Tempat tidur rumah sakit adalah tempat tidur yang dirancang khusus untuk keperluan medis dan salah satu peralatan medis terpenting di rumah sakit, apotik, dan pusat rehabilitasi. 

Pasien, yang menjalani perawatan rawat inap atau rawat jalan, adalah pengguna utama tempat tidur rumah sakit sejak hari pertama perawatan sampai hari keluar. 

 Kenyamanan adalah yang terpenting dalam perawatan kesehatan dan tidak dapat dipisahkan dari proses kesembuhan pasien. Terlepas dari segalanya, tempat tidur rumah sakit memainkan peran yang sama penting dalam perawatan kesehatan, membantu pasien mendapatkan kenyamanan yang optimal. 

 Sayangnya, Tempat tidur rumah sakit pasien bisa saja dalam keadaan tidak baik dan berdampak negatif pada perawatan kesehatan. 

RUMAH SAKIT JUGA DAPAT MEMILIKI DAMPAK YANG LUAR BIASA TERHADAP KESEHATAN Meskipun telah ditetapkan bahwa tempat tidur rumah sakit memainkan peran terapeutik dan memberikan kenyamanan bagi pasien, tempat tidur tersebut juga dapat menyebabkan malapetaka.

 Jenis insiden paling umum yang terkait dengan tempat tidur rumah sakit adalah: 
  1.  Pasien Terjatuh (dengan atau tanpa) Cedera 
  2. Pasien Terjepit 
  3. Sumber Potensial Infeksi yang Didapat Rumah Sakit 
 Jatuh adalah jenis yang paling umum insiden yang terkait dengan tempat tidur rumah sakit 
Pasien yang memiliki masalah dengan memori, tidur, inkontinensia, nyeri, gerakan tubuh yang tidak terkontrol, atau yang bangun dari tempat tidur dan berjalan dengan tidak aman tanpa bantuan, harus dinilai dengan cermat untuk mencari cara terbaik untuk menjaga mereka dari bahaya, seperti jatuh.

Cedera akibat jatuh saat dirawat di rumah sakit adalah kondisi yang didapat di rumah sakit yang paling umum (HAC) di AS terhitung lebih dari 85% dari semua HAC dari tahun 2002 - 2010. 

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 3% hingga 20% pasien yang dirawat di rumah sakit jatuh setidaknya sekali selama mereka tinggal. 

Persentase kejadian jatuh pasien merupakan salah satu indikator kinerja rumah sakit. Standarnya sama atau di bawah 3%. 

 Pasien jatuh adalah penyebab utama efek samping di rumah sakit, yang mencapai 70% dari kecelakaan rawat inap. 

 Literatur sebelumnya menunjukkan bahwa 82% dari rawat inap rumah sakit jatuh terjadi di kamar pasien, 85% tidak dibantu, dan 47% terkait dengan aktivitas toilet. 

 Siapa saja pasien yang jatuh ? 


  1. Pasien dalam perawatan rawat jalan: 3% 
  2. Pasien di rumah sakit: 97% 
  3. Laki-laki: 51,8% Wanita: 48,2% 
  4. Pasien dengan penilaian risiko jatuh sebelum jatuh 
    •  Sangat Tinggi: 9,9% 
    •  Tinggi: 47,9%, 
    •  Sedang: 4% 
    •  Rendah: 16% 
    •  Tidak Terdokumentasi: 22,2% 

APA SAJA FAKTOR RISIKO INTRINSIK DARI PASIEN YANG MENYEBABKAN TERJATUH ? 

  1. Keseimbangan atau gaya berjalan terganggu 
  2. Sejarah jatuh 
  3. Bertambahnya usia 
  4. Kognisi terganggu 
  5. Depresi 
  6. Pusing atau vertigo 
  7. Hipotensi ortostatik 
  8. Gangguan penglihatan 
  9. Frekuensi kencing 
  10. Nokturia 
  11. Inkontinensia 
  12. Subset diagnosis tertentu Penggunaan benzodiazepin, psikotik, dan sedatif. 

97% pasien yang jatih terjatuh di dalam rumah sakit, dan lokasi terbanyak pasien terjatuh adalah di ruang rawat inap sebanyak 80,8%. 

 Menurut jurnal A Retrospective Analysis by Diana C.Anderson,MD, March, Thomas S. Postler,PhD , Thuy-Tien Dam,MD yang dipublikasikan dalam  American Journal of Medical Quality pada bulan April 2015, kebanyakan pasien terjatuh pada saat aktivitas transfer pasien dari suatu ruangan perawatan ke ruangan perawatan lainnya yaitu sebanyak 62,1%, setelah itu di toilet 17,4%, lalu di tempat tidur sebanyak 17,3%. 

 Pasien jatuh terkait tempat tidur rumah sakit adalah yang terbanyak ke-3 dari insiden Pasien jatuh. 

 Sayangnya, Bedrail yang dirancang untuk mencegah jatuh justru dapat menyebabkan terjatuh. 

Penggunaan Rel Ranjang Terbatas (Restrictive Bedrail Use) dapat mempengaruhi Jatuh terkait Ranjang Rumah Sakit lebih dari penggunaan Rel Ranjang Non-Batasan (Non Restrictive Bedrail Use atau tanpa penggunaan Rel Ranjang sama sekali. 

KAPAN PASIEN JATUH DENGAN ATAU TANPA CEDERA TERKAIT RUMAH SAKIT? 

  1. Sementara pasien diposisikan di tempat tidur stasioner, 
  2. Dipindakan di tempat tidur, 
  3. Dipindahkan ke atau keluar dari tempat tidur 

Kejadian tidak diharapkan terkait tempat tidur rumah sakit selain pasien terjatuh adalah pasien terjepit di tempat tidur rumah sakit (Entrapment)

 ENTRAPMENT adalah kejadian yang melibatkan pasien yang tertangkap, terperangkap, atau terjerat dalam sistem tempat tidur rumah sakit, yang meliputi ruang di dalam atau di sekitar rel tempat tidur, kasur tempat tidur rumah sakit, atau rangka tempat tidur rumah sakit. 

Rel tempat tidur biasanya digunakan sebagai alat pengaman untuk mencegah orang jatuh dari ranjang rumah sakit. Namun, meskipun risiko untuk setiap individu sangat rendah, orang dapat dan telah terperangkap atau dicekik di hampir semua ruang yang ada di dalam rel tempat tidur atau di antara kasur, rel dan kepala atau papan kaki. 

Dari 1985 hingga 2005, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menerima 691 laporan jebakan ranjang rumah sakit termasuk 413 kematian, 120 cedera nonfatal, dan 158 kejadian intervensi staf yang mencegah cedera. 

Dalam beberapa keadaan, KEPALA, LEHER, ATAU DADA SESEORANG DAPAT TERJEBAK. INI DAPAT MENYEBABKAN PERNAPASAN MASALAH DAN MUNGKIN MENYEBABKAN KEMATIAN. 

 RISIKO BED ENTRAPMENT 

Bertambahnya usia (68% di 70 tahun dan lebih tua), gangguan kognitif, ketergantungan fungsional, dan rangka tubuh kecil bisa menjadi faktor risiko pasien terjepit di tempat tidur rumah sakit. Faktor lain yang berkontribusi mungkin termasuk kelemahan, gangguan komunikasi, spastisitas, atau cedera otak traumatis.

 RISIKO MASUK BEDRAIL TERKAIT DENGAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT 
  • Kamar dengan jarak pandang pasien yang rendah 
  • Pasien yang berada di kamar yang tidak berada di dekat pos perawat atau konfigurasi yang mencakup kamar pribadi daripada bangsal terbuka 
  • Bangsal besar dengan lorong panjang 
  • Sistem ranjang yang memiliki celah atau celah yang tidak aman, termasuk kombinasi rel / kasur / rangka yang tidak sesuai, dan / atau aksesori yang dipasang ke ranjang 

RISIKO BEDRAIL ENTRAPMENT TERKAIT DENGAN PEMANTAUAN PASIEN
  •  Tingkat kepegawaian rendah 
  • Lebih sedikit staf di malam hari 
  • Proses pemberian perawatan yang tidak mengantisipasi kebutuhan perawatan dasar pasien seperti ke toilet, makan, dan manajemen nyeri 
  • Staf yang memiliki keakraban terbatas dengan pasien 
  • Staf bekerja di area dengan visibilitas pasien yang rendah 
  • Penggunaan teknologi yang terbatas seperti kamera dan alarm keluar dari tempat tidur 


DI MANA INSIDEN MASUK PASIEN TERJADI ZONA 

1: Di Dalam Rel ZONA 
2: Di antara bagian atas kasur yang dikompresi dan bagian bawah rel, di antara port rel ZONA 
3: Antara rel dan kasur ZONA 
4: Di antara bagian atas kasur yang dikompresi dan bagian bawah rel, dan ujung rel ZONA 
5: Di antara rel tempat tidur terpisah ZONA 
6: Antara ujung rel dan tepi samping kepala atau kaki tempat tidur ZONA 
7: Antara kepala atau kaki tempat tidur dan ujung kasur 

 
KAPAN PASIEN DAPAT TERJEPIT DI TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT? 

  • Saat pasien berusaha cepat-cepat ke toilet, 
  • Merasa kesakitan, mengigau, atau gelisah, 
  • Saat pasien berbalik dari satu sisi tempat tidur ke sisi lain 

Masalah pasien terkait tempat tidur rumah sakit lainnya adalah INFEKSI NOSOKOMIAL.

 Tempat tidur rumah sakit merupakan sumber bakteri yang potensial di rumah sakit. Mencegah kontaminasi tempat tidur dan menyediakan permukaan yang lebih bersih harus membantu mencegah infeksi yang didapat di rumah sakit (Hospital Acquired Infection / HAI). 

Food and Drug Administration (FDA) memperingatkan penyedia layanan kesehatan, staf fasilitas perawatan kesehatan, dan perawat bahwa penutup kasur medis yang rusak atau aus dapat menyebabkan darah dan cairan tubuh menembus kasur medis, menimbulkan risiko infeksi pada pasien. 


 SIAPA YANG MENDAPATKAN INFEKSI NOSOKOMIAL? 

  • Pasien 
  • Pasien Lainnya 
  • Anggota Keluarga Pasien 
  • Staf Rumah Sakit 
  • Pengunjung Rumah Sakit 

 FAKTOR RISIKO Infeksi Nosokomial Terkait Tempat Tidur Rumah Sakit

  • Usia yang Lebih Tua 
  • Imunosupresi 
  • Rawat inap lebih lama di rumah sakit 
  • Berbagai penyakit kronis yang mendasari
  • Sering bertemu dengan fasilitas kesehatan 
  • Prosedur invasif terbaru 
  • Dukungan ventilasi mekanis 
  • Tetap di unit perawatan kritis dengan peningkatan risiko infeksi yang didapat di rumah sakit 
  • Praktik pengendalian infeksi rendah 
 Sumber wabah infeksi nosokomial bisa juga dari tenaga kesehatan yang tertular atau terjajah (pembawa).

 Sumber dari sebagian besar wabah di rumah sakit adalah pasien yang terinfeksi, yaitu pasien yang terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen.

Mikroorganisme ini sering dilepaskan ke lingkungan dalam jumlah yang sangat tinggi, melebihi dosis infektif minimal, dan mencemari pasien lain yang kemudian mengembangkan infeksi yang didapat di rumah sakit. 

BAKTERIA YANG DIKETAHUI PENYEBAB INFEKSI NOSOKOMIAL DARI HANDSET KONTROL RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT YANG TERTAMBAH DALAM PENGATURAN BEDAH ADALAH Enterococcus spp. 

Istilah desinfeksi sulit untuk didefinisikan, karena aktivitas proses disinfektan dapat sangat bervariasi. 

Pedoman Pusat Pengendalian Penyakit (Garner & Favero, 1986) memungkinkan pembedaan berikut dibuat: · 

DISINFEKSI TINGKAT TINGGI: diperkirakan dapat menghancurkan semua mikroorganisme, kecuali spora bakteri dalam jumlah besar. 

DISINFEKSI INTERMEDIATE: menonaktifkan Mycobacterium tuberculosis, bakteri vegetatif, sebagian besar virus, dan sebagian besar jamur; tidak serta merta membunuh spora bakteri. · 

DISINFEKSI TINGKAT RENDAH: dapat membunuh sebagian besar bakteri, beberapa virus, dan beberapa jamur; tidak dapat diandalkan untuk membunuh mikroorganisme resisten seperti basil tuberkulum atau spora bakteri. 

Kamis, 03 Desember 2020

Manfaat Memakai Pelembab Wajah



DokDin.ID - Manfaat memakai pelembab wajah
pada prinsipnya adalah mencegah terjadinya penguapan air yang berlebihan dari kulit wajah yang akan berefek pada kekeringan kulit. 

 Keadaan kulit sangat tergantung pada kadar air di dalamnya yang membuat penampakan kulit lembut, elastis, dan kenyal. 

 Pada kulit wajah yang mengandung 20% air dari jumlah seluruh kandungan air yang terdapat dalam tubuh kita. Dan 2/3 bagian dari tubuh kita mengandung air. Hampir seluruh cairan dalam tubuh kita berada di bawah lapisan dermis kulit, yang harus didistribusikan ke lapisan terluar kulit kita, yaitu epidermis. 

 Pada beberapa keadaan, cairan yang terdapat di lapisan epidermis kulit mudah menguap, padahal kulit membutuhkan waktu untuk mengambil air dari lapisan dermis ke lapisan epidermis untuk melembabkan kulit wajah yang kekurangan air akibat penguapan tersebut. 

 Nah. di sinilah manfaat memakai pelembab wajah untuk kesehatan kulit kita. 

 Sebenarnya kulit juga mempunyai pertahanannya sendiri untuk melindungi kadar air dalam dirinya , dengan cara sbb : 

 1. Kelenjar sebasea akan menghasilkan minyak alami kulit yang bermanfaat untuk melapisi lapisan terluar epidermis kulit agar penguapan air dari kulit dapat berkurang, 

 2. Sel kulit mempunyai faktor pelembab alami kompleks yang disebut sebagai Natural Moisturizing Factors (NMF), yang memungkinkan terjadinya kelembaban sampai di dalam sel kulit, 

 3. Lemak yang terdapat di antara sel-sel kulit membentuk penghalang agar tidak terjadi penguapan di lapisan terluar kulit. 

 Namun, tingkat kelembaban alami kulit wajah ini makin lama makin menurun. Kita tetap membutuhkan manfaat dari memakai pelembab wajah. 

 Produk pelembab wajah sangat membantu untuk menjaga kadar minyak alami tetap bertahan di dalam kulit. Manfaat pelembab wajah ini disebabkan karena produk pelembab wajah mampu "mengunci" minyak alami kulit wajah agar tidak mudah menguap. 

 Sehingga kulit akan terlindungi dari kekeringan akibat penguapan air yang berlebihan. 

Manfaat pelembab wajah untuk kesehatan kulit ini didapat dari bahan pembuatannya yang berupa emulsi minyak di dalam air. Kandungan air yang terdapat dalam pelembab wajah berfungsi mengembalikan hilangnya kelembaban yang hilang dari permukaan kulit wajah. 

 Sedangkan kandungan minyak yang terdapat dalam pelembab wajah berfungsi melindungi agar tidak terjadi penguapan air di permukaan kulit. 

 MANFAAT PELEMBAB WAJAH LAINNYA ADALAH SBB : 

 1. Untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat efek buruk lingkungan, 
 2. Melembutkan kulit, 
 3. Mengurangi risiko terjadinya kulit sensitif, 
 4. Memberikan perlindungan kulit terhadap efek buruk pemakaian kosmetik, 
 5. Melembabkan kulit, 
 6. Membuat kulit wajah lebih kenyal, 
 7. Meminimalisir terjadinya kerutan-kerutan pada kulit wajah, 
 8. Melindungi kulit dari paparan sinar matahari jika pelembab mengandung tabir surya juga, 
 9. Membantu memperbaiki kesehatan kulit karena pada pelembab wajah biasanya juga mengandung vitamin E dan nutrisi lain yang bermanfaat bagi kulit. 

 Walaupun jenis kulit kita berminyak, disarankan tetap memakai pelembab. 

Pelembab yang digunakan harus sesuai dengan jenis kulit kita. 

 Manfaat memakai pelembab wajah pada kulit berminyak juga dapat dirasakan, karena pada jenis kulit berminyak pun dapat terjadi penguapan air yang dapat mengganggu kesehatan kulit.