Tampilkan postingan dengan label Pregnancy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pregnancy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2021

Produk Skincare Yang Aman Untuk Ibu Hamil

Skincare ibu hamil

DokDin.ID - Proses kehamilan kadang bisa menimbulkan masalah tersendiri pada kulit terkait dengan perubahan hormon yang terjadi. Hiperpigmentasi atau pembentukan flek hitam pada kulit terjadi pada hampir semua ibu hamil. 

Perubahan hormon estrogen dan progesteron dalam kehamilan diketahui mempunyai peran dalam pembentukan flek hitam pada ibu hamil. 

 Di samping peranan hormon estrogen dan progesteron dalam pembentukan flek, atau yang biasa disebut melanogenesis dalam bahasa kedokteran, peningkatan kadar serum melanocyte stimulating hormone (MSH) pada trimester kedua kehamilan juga dikatakan dapat bekaitan dengan pembentukan flek. 

 Selain hiperpigmentasi, masalah kulit wajah yang sering terjadi pada kehamilan adalah jerawat atau disebut juga acne vulgaris. 

 Keluhan kulit wajah pada ibu hamil ini tentu dapat membuat ibu hamil kebingungan untuk merawat wajahnya karena produk skincare yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah kulit wajah selama kehamilan juga terbatas terkait dengan tingkat keamanan produk skincare tersebut terhadap janin 

 Lalu bagaimanakah caranya untuk memilih produk skincare yang aman untuk ibu hamil? 

Langkah awal untuk memilih produk skincare yang aman untuk ibu hamil adalah berkonsultasi pada Dokter ObGyn Anda. Tanyakan pada Dokter ObGyn Anda perihal produk skincare yang Anda pakai. Biasanya produk skincare tertentu dapat mengandung bahan-bahan kimiawi yang bisa berbahaya terhadap janin Anda. 

 Berhati-hatilah dalam memilih produk skincare yang aman untuk ibu hamil. Sebaiknya Anda menghindari kosmetik-kosmetik di bawah ini selama kehamilan karena bisa saja mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi janin Anda. 

 Produk skincare yang berfungsi memutihkan kulit wajah atau menghilangkan flek wajah terkadang bisa mengandung bahan berbahaya yang sudah tidak memiliki izin edar di beberapa negara. 

 Penggunaan bahan whitening tersebut penggunaannya dapat sangat terbatas dan harus dalam pengawasan Dokter. 

Namun, ternyata produk pemutih wajah yang mengandung bahan whitening tersebut masih banyak beredar di pasaran dan dijualbebas. 

 Berhati-hatilah terhadap produk skincare whitening yang belum jelas kandungannya dan belum terdaftar dalam BPOM karena bisa jadi produk skincare tersebut mengandung bahan aktif whitening yang berbahaya terutama terhadap janin. 

 Meskipun belum dapat disimpulkan efek samping berbahaya produk skincare whitening ini terhadap manusia secara langsung, namun beberapa penelitian terhadap hewan yang hamil bisa menjadi 'perwakilan' atas efek samping produk skincare whitening ini selama kehamilan. 

 Penggunaan produk skincare whitening dengan bahan-bahan aktif tertentu bisa menyebabkan kelahiran mati, cacat bawaan, dan berat badan lahir yang lebih rendah dari normal pada hewan. 

 Meskipun belum dapat disimpulkan efek sampingnya terhadap manusia, lebih baik jika kita tidak mengambil kemungkinan yang demikian berisiko untuk sekedar memakai produk skincare whitening. Jangan khawatirkan flek hitam yang muncul pada kehamilan. 

Karena flek hitam tersebut dapat hilang dan memudar dengan sendirinya setelah Anda melahirkan. Hindarilah pemaparan sinar matahari selama kehamilan jika memungkinkan untuk meminimalisir pembentukan flek hitam dan gunakanlah tabir surya atau sunblock yang berbahan dasar alami. 

 Untuk beberapa keadaan, flek hitam ini dapat menetap dan bertambah meskipun setelah melahirkan, misalnya jika ibu menggunakan kontrasepsi hormonal seperti KB suntik dan pil KB. 

 Namun, selama menyusui juga tidak dianjurkan untuk memakai produk skincare whitening yang bisa berbahaya dan terserap melalui ASI. 

 Oleh karena itu, disarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter ObGyn Anda jika ingin memilih produk skincare whitening selama kehamilan dan juga berkonsultasi dengan Dokter Anak Anda jika ingin memakai produk skincare whitening selama masa menyusui.

Senin, 28 Desember 2020

Pentingnya Pemeriksaan TORCH Sebelum Hamil

TORCH, TORCHS


DokDin.ID - Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil biasa dirasakan ketika seorang ibu hamil mengalami keguguran berulang. Beberapa ibu hamil belum merasakan pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil. Sehingga ketika ibu dalam program hamil ditawarkan pemeriksaan TORCH ini, beberapa calon ibu atau ibu hamil muda menolak karena biaya pemeriksaan TORCH ini relatif mahal. Ketika ibu hamil tersebut mengalami keguguran berulang barulah ia sadar betapa pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil ini.

Pernahkah Anda mendengar pemeriksaan TORCH
yang dilakukan ketika seorang ibu melakukan

 program hamil atau tengah hamil muda ? 


 Tes darah TORCH biasa dilakukan saat wanita tengah hamil muda atau sedang dalam program kehamilan sebagai screening test terhadap penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan cacat bawaan atau bahkan keguguran. Jadi dengan pemeriksaan TORCH, Anda dapat mencegah terjadinya cacat bawaan atau keguguran. 

 Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil ini yaitu agar keberadaan penyakit TORCH bisa diketahui dan diobati terlebih dahulu sehingga Dokter dapat menanganinya dan diharapkan penyakit TORCH yang terdeteksi lebih awal ini tidak mengganggu perkembangan janin. 

 Periksa TORCH juga kadang dilakukan pada bayi baru lahir terkait indikasi dan kondisi bayi tersebut. Jika curiga adanya penyakit tersebut, maka deteksi dini dan pengobatan segera sangat diperlukan. 

 Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan TORCH? 


 Pemeriksaan TORCH adalah cek darah untuk menyaring kemungkinan terjadinya penyakit yang disebabkan oleh: Toxoplasmosis, Rubella, Citomegalovirus, dan Herpes simpleks.

Jika pemeriksaan TORCH juga mencakup pemeriksaan untuk Sifilis maka pemeriksaan disebut TORCHS.  

Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil untuk mengetahui adanya :


1. Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil untuk mengetahui adanya : TOXOPLASMOSIS.  


Toxoplasmosis disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. 

Transmisi parasit biasanya melalui mulut. Bisa disebabkan oleh makan makanan yang kurang matang, misalnya daging asap atau steak, sate, sayuran mentah, telur mentah, atau paparan kotoran kucing. 


2. Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil untuk mengetahui adanya : RUBELLA 


 Rubella adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan ruam, cacat bawaan misalnya ketulian pada bayi atau penyakit jantung bawaan. 

 Rubella disebut juga campak jerman. Infeksi virus Rubella ditularkan melalui udara dan percikan air liur (droplet) dari penderita virus ini. 


3. Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil untuk mengetahui adanya : CITOMEGALOVIRUS 


Pada orang dewasa, infeksi Citomegalovirus memberikan gejala seperti flu, namun pada perkembangan janin dapat menimbulkan cacat bawaan seperti retardasi mental, kejang, gangguan fungsi hati sehingga bayi lahir dengan sakit kuning (jaundice), dan bayi lahir dengan berat badan rendah. 


4. Pentingnya Pemeriksaan TORCH  sebelum hamil untuk mengetahui adanya : HERPES SIMPLEX  


Virus herpes simpleks yang dimaksud di sini adalah herpes simpleks tipe-2, atau disebut juga herpes genital. 

 Gejala herpes genital mengenai organ vital dan dapat menularkan janin saat dalam kandungan (5%), persalinan (85%), dan saat masa nifas(10%). 

 Ibu hamil yang terinfeksi Herpes simpleks biasanya tidak menimbulkan gejala, sehingga infeksi tidak terdeteksi, kecuali dengan pemeriksaan darah (TORCH). 

Pemeriksaan TORCH biasanya ditambahkan juga pemeriksaan darah untuk mendeteksi adanya penyakit sifilis sehingga dinamakan pemeriksaan TORCHS.

 Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang ditularkan secara kontak seksual. Selain itu, sifilis juga dapat ditularkan oleh ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat dalam kandungan atau ketika persalinan menyebabkan sifilis bawaan (kongenital). 

 Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi sifilis akan menderita penyakit pada beberapa tahun mendatang kehidupannya, berupa hati dan limpa yang membesar (70%), radang paru (pneumonitis) 70%, neurosifilis/ penyakit saraf akibat sifilis (20%), bahkan kelainan anatomi berupa hidung pelana. 

 2 dari 3 bayi yang terlahir dengan sifilis bawaan, tidak menimbulkan gejala. 

Pentingnya pemeriksaan TORCH sebelum hamil, untuk berjaga-jaga apakah diri Anda terinfeksi penyakit-penyakit Toxoplasma, Rubella, Citomegalovirus, Herpes Simplex, atau bahkan Sifilis, yang bisa menimbulkan keguguran atau cacat bawaan pada bayi Anda. 

 Deteksi dini penyakit ini dengan pemeriksaan TORCH dapat mencegah bayi lahir dengan cacat bawaan misalnya cacat mata atau katarak, tuli, retardasi mental (IQ rendah), kelainan jantung bawaan, Gangguan saraf pusat (kejang), Penyakit hati (sakit kuning), dan kelainan darah / gangguan pembekuan darah (kadar trombosit rendah). 

 Hasil periksa TORCH dapat 'positif' atau 'negatif'. Dikatakan 'positif' mengidap salah satu atau lebih penyakit TORCH jika terdapat antibodi IgM dalam darah. Adanya antibodi IgM menunjukan terdapatnya infeksi saat ini. 

 Dikatakan 'negatif' jika hasil darah tidak menunjukkan adanya antibodi IgM. Sedangkan antibodi IgG dapat muncul atau tidak. 

Jika terdapat antibodi IgG pada darah itu menunjukkan bahwa infeksi telah terjadi di masa lampau yang saat ini sudah tidak aktif lagi. Namun perlu diwaspadai jika kadar antibodi IgG meningkat. Tak ada salahnya Anda menjamin keamanan diri Anda dari infeksi yang bisa menyebabkan cacat bawaan dan keguguran. 

Kamis, 03 Desember 2020

Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat


DokDin.ID - Pernahkah Anda mendengar istilah Pertumbuhan Janin Terhambat? 

Janin dikatakan terhambat pertumbuhannya jika berat janin kurang dari 10% dari berat yang seharusnya dicapai pada usia kehamilan tertentu. Biasanya ini diketahui setelah 2 minggu tidak ada pertumbuhan. 

Pertumbuhan janin terhambat dapat meningkatkan risiko kematian 6-10 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan bayi normal. 

 Jika bayi lahir dengan pertumbuhan janin terhambat, maka bayi tersebut akan terprogram dengan berbagai penyakit saat dewasa, misalnya hipertensi, arteriosklerosis, stroke, diabetes, obesitas, resistensi insulin, dan sebagainya. 

 Hal tersebut terkenal dengan isilah Barker Hipotesis, yaitu penyakit pada orang dewasa telah terprogram saat ia dalam kandungan. 

 Pertumbuhan janin terhambat dapat menjadi alasan mengapa bayi yang dilahirkan memiliki berat badan lahir rendah (BBLR). Biasanya bayi dengan pertumbuhan yang terhambat yang dilahirkan 38-40 minggu mempunyai berat badan kurang dari 2500 gram. 

 Namun tidak semua BBLR merupakan kelainan akibat pertumbuhan janin terhambat. 25%-60% terdapat BBLR yang bukan merupakan kelainan, berkaitan dengan besarnya orang tua atau etnik tertentu. 

Kenapa bisa terjadi pertumbuhan janin terhambat ? 

 Pertumbuhan janin terhambat terjadi akibat sistem pertukaran zat antara plasenta dan rahim bunda tidak baik. 

 Perkembangan plasenta yang tidak normal akan menyebabkan pasokan oksigen, makanan, dari sirkulasi darah ibu menuju janin akan terhambat. Demikian pula proses pengeluaran sisa metabolisme janin menuju sirkulasi darah ibu pun akan terhambat. 

 Akibatnya bayi akan kekurangan oksigen dan nutrisi yang sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhannya. 

 Selain faktor plasenta, pertumbuhan janin terhambat juga dapat terjadi akibat faktor janin dan faktor rahim. Janin yang memang sudah mengalami kelainan bawaan (genetik), umumnya Trisomi 21, 13, dan 18, akan mengalami pertumbuhan janin terhambat. Faktor rahim yang berperan dalam pertumbuhan janin terhambat adalah bila ibu mempunyai penyakit kronis sebelum hamil, yaitu hipertensi dan diabetes, yang berpengaruh pada lingkungan rahim itu sendiri. 

 Inilah penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat. 



 1. Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat : Hipertensi dalam kehamilan, Preaklampsia pada awal kehamilan. 

 Penyebab paling sering yang menimbulkan pertumbuhan janin terhambat adalah hipertensi. Preeklampsia menyebabkan kerusakan pada plasenta. 

 2. Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat :  kembar 

 Angka kejadian pertumbuhan janin terhambat pada kehamilan kembar adalah 15-25%. 

Alasannya adalah masalah perebutan nutrisi dari ibu untuk kedua janin, atau masalah twin to twin transfusion Syndrome, yaitu keadaan dimana janin kembar tersebut memiliki satu plasenta, dimana nutrisi bayi yang satu mensupplai pertumbuhan janin kembar lainnya. Jadi satu janin bertumbuh, janin lainnya terhambat. 

 3. Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat :  kromosom pada janin / Trisomi. 

 Yang paling sering adalah Trisomi 21 (Sindrom Down) dan Trisomi 18 (Edwards Syndrome). Anak dengan Trisomi, biasanya disertai dengan kelainan bawaan, perkembangan intelektual terhambat, dan harapan hidup pendek. Trisomi 13 (Patau Syndrome) sangat jarang. 

 4. Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat :  Lupus (SLE) 

 Dikatakan pertumbuhan janin terhambat dapat terjadi pada ibu yang menderita penyakit lupus. 

Penggunaan obat-obatan Prednison, antibodi fosfolipid, dan aktivitas penyakit Lupus itu sendiri dapat mempengaruhi pertumbuhan janin terhambat. 

 5. Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat :  Rubela, CitoMegaloVirus (CMV), Toxoplasmosis, HIV, Herpes Simplex 1 & 2. 

 Infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, CitoMegaloVirus, Herpes Simplex) dapat diketahui sebelum kehamilan dengan pengecekan darah, sehingga ibu dapat berobat, dan setelah sembuh, dapat merencanakan kehamilan tanpa TORCH. 

 6. Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat :  Jantung, Asma, Gaya hidup merokok, narkoba, alkohol. 

 Pada sebuah penelitian di Amerika Serikat, ditemukan ibu yang merokok 11 batang rokok atau lebih sehari, dapat menyebabkan berat badan bayi 330 gram lebih rendah dari yang diprediksikan. 

 7. Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat :  gizi-ekonomi rendah. 

 Di Jakarta ditemukan pertumbuhan janin terhambat lebih tinggi pada golongan sosial ekonomi rendah (14%) daripada golongan menengah ke atas (5%). 

 Secara klinik awal pertumbuhan janin terhambat dikenal setelah 28 minggu, namun dengan USG dapat diduga lebih awal dengan taksiran berat janin yang tidak sesuai dengan usia kehamilan. 

 Pemeriksaan arus darah secara Doppler dapat mencurigai secara awal adanya arus darah yang abnormal atau pertumbuhan janin terhambat. 

Sehingga adanya pertumbuhan janin terhambat ini dapat ditanggulangi lebih awal untuk meminimalisir sampai menghilangkan dampak buruk karenanya.

Sabtu, 14 November 2020

Perlukah Vitamin D Pada Kehamilan?


DokDin.ID - Ibu hamil jangan lupa minum vitamin D. 
Karena vitamin D sangat penting Anda konsumsi selama kehamilan. Bukan saja untuk supply kalsium untuk tulang Anda, namun ternyata vitamin D juga baik untuk mencegah berbagai masalah kehamilan.

    Melihat berbagai manfaat konsumsi vitamin D saat hamil, diharapkan ibu hamil jangan lupa minum vitamin D. 

    Namun, seringkali vitamin D seperti terlupakan sebagai suplemen tambahan untuk wanita hamil. Vitamin D kalah tenar dengan multivitamin lainnya yang juga diperlukan ibu hamil seperti asam folat, zat besi, dan kalsium.

    Beruntunglah, negara kita adalah negara Indonesia yang termasuk negara tropis di mana setiap hari kita selalu mendapatkan pancaran sinar matahari sebagai sumber utama vitamin D.

    Sehingga, meskipun ibu hamil tidak minum vitamin D, kebanyakan ibu hamil tidak mengalami gangguan pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

    Untuk mendapatkan asupan vitamin D, ibu hamil perlu berada di bawah paparan sinar matahari di antara pukul 6.00-8.00 pagi. Jika saat hamil, Anda melakukan rutinitas ini, Anda akan mendapatkan asupan vitamin D secara alami sebanyak 80% kebutuhan tubuh.

    Tambahan lagi, jika Anda suka mengkonsumsi makan makanan yang banyak mengandung vitamin D seperti telur, susu, ikan, udang, kedelai, tahu, keju, dan makanan sumber vitamin D lainnya, maka kebutuhan vitamin D tubuh Anda dapat tercukupi selama hamil.

Namun, kalau Anda tidak pernah melakukan rutinitas terpapar sinar matahari pagi atau Anda juga jarang mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin D, sebaiknya Anda mempertimbangkan untuk mengkonsumsi suplemen tambahan yang mengandung vitamin D.

    Karena tercukupinya kebutuhan vitamin D saat hamil sangat penting maka Anda perlu mengkonsultasikan pada Dokter Kandungan Anda. Tanyakan padanya apakah Anda perlu mengkonsumsi vitamin D atau tidak.

    Pentingnya tambahan suplemen vitamin D pada ibu hamil dijelaskan pada sebuah penelitian di India yang menemukan banyak ibu hamil yang kekurangan vitamin D yang berefek pada terjadinya kelainan menetap pada bayi yang dikandungnya. 
Mengapa ibu hamil di India tetap kekurangan vitamin D padahal India juga termasuk negara tropis?
    Menurut penelitian tersebut, ibu hamil yang kekurangan vitamin D di India, ini berkaitan dengan berbagai faktor risiko seperti jarangnya ibu hamil di India yang melakukan kegiatan di luar ruangan sehingga mereka kurang terpapar sinar matahari pagi.

    Selain itu juga, di India terdapat banyak polusi udara, yang mengakibatkan sinar matahari pagi menjadi terhalang. Sehingga asupan vitamin D yang bisa masuk ke dalam tubuh melalui paparan sinar matahari menjadi tidak maksimal.

    Dikatakan dalam penelitian tersebut, bahwa warna kulit yang gelap pada sebagian besar ibu hamil di India menjadikannya kurang responsif untuk menerima sinar matahari masuk ke dalam kulit. Kulit yang berwarna gelap mengandung banyak melanin yang mampu menahan efek dari sinar matahari, termasuk efek supply vitamin D.

    Dan juga, ibu hamil di India kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium. Kurangnya asupan kalsium pada ibu hamil menyebabkan kekurangan vitamin D yang bersifat sekunder (defisiensi vitamin D sekunder).

    Berdasarkan penelitian tersebut akhirnya para ahli menyarankan ibu hamil untuk menambahkan suplemen vitamin D dalam diet sehari-hari.

    Manfaat minum vitamin D selama hamil adalah agar ibu hamil tidak mengalami kekurangan vitamin D, karena kekurangan vitamin D saat hamil dapat mengganggu kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

    Suplementasi vitamin D pada ibu hamil agar tidak terjadi defisiensi vitamin D berdasarkan pada kadar vitamin D yaitu 1,25 (OH)2 D dalam serum ibu hamil agar mencapai level normal yaitu 20 ng/mL (The Institute of Medicine -IOM).  

    Namun penelitian terbaru di India merekomendasikan level normal yang lebih tinggi untuk ibu hamil yaitu 32 ng/mL ke atas. Untuk level 32 ng/mL masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

    Menurut National Institute for Health and Care Excellence (NICE) guidelines, UK tambahan vitamin D 400 IU per hari sudah cukup untuk memelihara kadar vitamin D dalam darah untuk mencegah terjadinya kekurangan vitamin D pada ibu hamil.

    Namun American Congress of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) menetapkan 1000-2000 IU vitamin D per hari yang dibutuhkan ibu hamil .
Memang masih banyak perdebatan para ahli untuk menentukan dosis yang tepat untuk suplementasi vitamin D pada ibu hamil ini.
Apa saja gangguan kesehatan selama kehamilan yang dapat terjadi karena kekurangan vitamin D?
    Inilah gangguan kesehatan selama kehamilan yang dapat terjadi karena ibu hamil kekurangan 
vitamin D :

1/ Preeklampsia,
2/ Diabetes Melitus Gestasional,
3/ Bayi lahir prematur, dan
4/ Meningkatkan risiko persalinan caesar (International Journal of Clinical Medicine,2015).

    Efek kekurangan vitamin D selama kehamilan bukan hanya mempengaruhi ibu saja, tetapi juga mempengaruhi perkembangan janin yang dikandung ibu. Efek ibu hamil kekurangan vitamin D terhadap janinnya adalah sbb :

1/ berat badan lahir rendah,
2/ riketsia yaitu pembentukan tulang yang lunak,
3/ pembesaran tulang pada ujung tulang panjang, misalnya lengan, tungkai,
4/ kejang tetani akibat kekurangan kalsium dalam darah (hipokalsemia) karena vitamin D mempunyai peranan dalam penyerapan kalsium di usus,
5/ perkembangan motorik yang terlambat.

    Untuk mencegah terjadinya berbagai gangguan kesehatan ibu dan janin selama kehamilan terkait dengan defisiensi vitamin D yang sudah saya sebutkan di atas, sebaiknya ibu hamil, jangan lupa minum vitamin D, ya.

Rabu, 14 Oktober 2020

Kehamilan pada Ibu dengan Penyakit Ginjal. Apakah Tidak Masalah?

kehamilan dan penyakit ginjal


DokDin.ID -
Kehamilan pada ibu yang mengalami penyakit ginjal apakah tidak masalah? Bagaimana pengaruh penyakit ginjal terhadap perkembangan janin? Bagaimana kelangsungan kehamilan dan komplikasi yang mungkin timbul ? Bagaimana pengaruh kehamilan terhadap fungsi ginjal yang sedang tidak sehat? Pertanyaan ini kerap muncul bagi ibu yang sedang sakit ginjal namun ingin hamil.

    Memang kehamilan dengan penyakit ginjal apalagi yang sudah kronis adalah kehamilan dengan risiko tinggi. Yang harus mendapat perhatian berkali-kali lipat dari kehamilan normal. Beberapa Ahli mengatakan bahwa kehamilan sedikit mempengaruhi perjalanan penyakit ginjal kecuali jika fungsi ginjal telah menurun (kreatinin serum > 1,5 mg%) atau bila ada hipertensi. 

    Perjalanan penyakit ginjal yang tidak berpengaruh pada kehamilan adalah penyakit : Glomerulonefritis, Tuberkulosis ginjal, Ginjal polikistik, Batu ginjal, Infeksi ginjal. kecuali jika telah terjadi penurunan fungsi ginjal seperti yang Saya sebutkan di atas. Pada ibu yang perjalanan penyakit ginjalnya sudah menyebabkan penurunan fungsi, kreatinin > 1,5 mg%, adanya kehamilan akan semakin membuat penyakit ginjalnya bertambah buruk. 

    Apakah kehamilan akan berakhir baik atau tidak, hal tersebut tergantung pada keadaan penyakit ginjal saat mulai terjadi pembuahan (kehamilan). Kehamilan pada ibu yang mengalami penyakit ginjal disertai kelainan penyerta yang dapat berakibat buruk, misalnya tekanan darah tinggi (hipertensi) atau kebocoran plasma (proteinuria), harus mendapatkan pengawasan Dokter yang ekstra. 

    Ibu dianjurkan menjalani kunjungan ANC (Antenatal care) ke Dokter SpOG rutin setiap 2 minggu sampai usia kehamilan 28 minggu, lalu kontrol setiap 1 minggu setelahnya. Setiap kunjungan biasanya akan dilakukan pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan urin, skrining akan adanya infeksi saluran kemih, dan pemeriksaan USG untuk melihat perkembangan janin. 

    Dengan demikian untuk ibu yang memiliki penyakit ginjal dan ingin merencanakan kehamilan, dianjurkan agar melakukan program kehamilan sewaktu fungsi ginjal masih baik (serum kreatinin < 1,5mg%). 

    Seandainya fungsi ginjal sudah menurun dan ibu mengalami kehamilan, ini tidak bisa dianggap sebagai kehamilan yang biasa saja. Meskipun pengawasan yang dilakukan oleh Dokter sangat ketat, namun risiko /bahaya kehamilan terhadap penurunan fungsi ginjalnya mungkin saja terjadi. 

    Penurunan fungsi ginjal yang semakin buruk pada kehamilan bahkan bisa menyebabkan seorang ibu hamil harus menjalani cuci darah (dialisis). Jika sudah diharuskan cuci darah bagi ibu hamil tersebut akibat perjalanan penyakit ginjalnya yang memang sebelumnya sudah mengalami penurunan fungsi ginjal, maka angka ketahanan hidup janin yang ada dalam kandungan menjadi 52%. 

    Pada keadaan ibu yang sehat, angka ketahanan hidup janin sebesar 95%. Komplikasi yang mungkin saja terjadi pada janin akibat kehamilan ibu dengan penyakit ginjal adalah berat bayi lahir rendah (BBLR), persalinan kurang bulan (prematur), dan kemungkinan buruk (dan jangan sampai terjadi) adalah IUFD (Intra Uterine Fetal Death) atau lahir mati. Sebaliknya, ibu dengan penyakit ginjal kronis yang harus menjalani cuci darah (dialisis) dilarang untuk hamil. Kehamilan adalah kontraindikasi untuk ibu yang menjalani cuci darah. 

    Pada ibu yang cuci darah, hanya 23-35% kehamilan yang bayinya masih bisa hidup. Kebanyakan terjadi keguguran yang spontan pada usia kehamilan sebelum 20 minggu, Bayi yang bisa bertahan kebanyakan prematur. Komplikasi yang paling buruk untuk ibu yang cuci darah lalu hamil adalah kematian ibu dan janinnya.

Selasa, 22 September 2020

Penyebab Perdarahan Pada Kehamilan

perdarahan pada kehamilan, penyebab perdarahan pada kehamilan, abortus, ruptur uteri, kehamlan ektopik, hamil anggur, solusio plasenta, plasenta praevia

DokDin.ID - Kehamilan bisa disertai dengan penyulit seperti perdarahan, preeklampsia, kontraksi hebat sebelum waktu persalinan tiba, muntah-muntah yang berlebihan (hiperemesis gravidarum), nyeri hebat saat buang air kecil, ketuban pecah dini, demam, dan ukuran rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan, bisa lebih besar (mola hidatidosa, polihidramnion, makrosomia) atau lebih kecil (pertumbuhan janin terhambat). Kehamilan yang disertai dengan penyulit biasanya terjadi pada 10-12% kehamilan.

Di antara beberapa penyulit pada kehamilan tersebut, salah satu penyulit dengan komplikasi terbanyak adalah perdarahan pada kehamilan. 

Yuk, kita cari tau apa saja sih penyebab perdarahan pada kehamilan?


Penyebab perdarahan pada kehamilan adalah sebagai berikut.

1. Penyebab Perdarahan pada Kehamilan : Keguguran (Abortus)

Keguguran atau abortus ditandai dengan perdarahan di bawah usia kehamilan 20 minggu dimana berat janin kurang dari 500 gram. Keguguran dapat terjadi secara spontan maupun karena kesengajaan (provokatus). 

Keguguran spontan terjadi karena suatu keadaan yang berlangsung tanda tindakan kesengajaan seperti terbentur, pertumbuhan bayi tidak normal, atau kesehatan ibu yang tidak baik sehingga memicu terjadinya abortus spontan. Sedangkan keguguran akibat tindakan yang sengaja dilakukan dapat berupa tindakan yang dilakukan karena pertimbangan dokter karena ada indikasi yang membahayakan nyawa ibu (abortus provokatus medisinalis) ataupun karena kehamilan yang tidak diinginkan (abortus provokatus kriminalis).

2. Penyebab Perdarahan pada Kehamilan : Kehamilan Ektopik (Hamil di Luar Kandungan)

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar kandungan (kavum uteri/rahim). Lokasi terjadinya kehamilan ektopik paling banyak di saluran telur (tuba falopii) yaitu sekitar 95%. Kehamilan ektopik ditandai dengan adanya nyeri hebat di perut bagian bawah dan perdarahan pada kehamilan. Kehamilan ektopik juga bisa ditandai dengan adanya kehamilan dengan ukuran rahim yang lebih kecil dari usia kehamilan yang sebenarnya. Kehamilan ektopik terjadi sebanyak sekitar 5-6 kali pada 1000 kehamilan.

3. Penyebab Perdarahan pada Kehamilan : Mola Hidatidosa (Hamil Anggur)

Hamil anggur adalah sebuah istilah dimana kehamilan yang terjadi mengalami perkembangan yang tidak normal dengan tidak ditemukannya janin. 

Mola hidatidosa adalah kehamilan yang terjadi dengan gelembung-gelembung putih, tembus pandang, dan berisi cairan jernih di dalam rahim sang ibu. Biasanya perdarahan pada hamil anggur terjadi pada usia kehamilan 12-14 minggu, namun ibu yang mengalami hamil anggur ini bisa juga mempunyai gejala perdarahan dalam kehamilan sejak usia kehamilan bulan pertama sampai bulan ketujuh. 

Perdarahan pada kehamilan yang disebabkan oleh hamil anggur bisa terjadi secara sedikit-sedikit berupa flek atau banyak sekaligus sehingga sang ibu hamil dengan mola hidatidosa bisa mengalami syok akibat perdarahan, anemia, atau bahkan kematian.

Kehamilan pada mola hidatidosa juga menyebabkan pembesaran rahim yang lebih besar dari usia kehamilan yang seharusnya.

4. Penyebab Perdarahan pada Kehamilan : Plasenta Praevia

Plasenta praevia adalah keadaan dimana saat sang ibu hamil, plasenta menempel pada segmen bawah rahim ibu sehingga plasenta menutupi sebagian (parsialis) atau seluruhnya (totalis) jalan lahir (ostium uteri internum).

Perdarahan pada kehamilan dengan plasenta praevia terjadi pada usia kehamilan lanjut yaitu pada usia kehamilan di atas 20 minggu.

Plasenta praevia lebih banyak terjadi pada wanita yang sering hamil , dengan usia di atas 30 tahun saat hamil, atau pada kehamilan kembar.

5. Penyebab Perdarahan pada Kehamilan : Solusio Plasentae

Solusio plasentae adalah keadaan dimana saat sang ibu hamil tua kemudian mengalami plasenta yang terlepas dari dinding rahim sebelum bayi lahir. Peristiwa terlepasnya plasenta pada ibu yang hamil tua ini dapat terjadi sebagian atau seluruhnya.

Solusio plasentae dapat terjadi akibat perut ibu hamil yang terbentur benda tumpul, kecelakaan dalam berkendara, dan yang paling miris adalah akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Solusio plasentae akan meningkat risikonya pada ibu hamil yang merokok.

6. Penyebab Perdarahan Pada Kehamilan : Ruptur Uteri

Ruptur uteri adalah keadaan terobeknya rahim ibu hamil yang biasanya terjadi pada ibu yang mempunyai riwayat operasi Sectio Caesarea sebelum 2 tahun. Selain itu ruptur uteri juga akan meningkat risikonya pada kecelakaan lalu lintas dan kekerasan rumah tangga.

Perdarahan pada kehamilan akibat ruptur uteri ini adalah hal yang tidak boleh dan tidak bisa ditunda penatalaksanaannya. Sekecil apapun perdarahan pada kehamilan dapat merupakan tanda yang fatal.