Tampilkan postingan dengan label Post Partum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Post Partum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2021

Depresi Post Partum

Depresi Post Partum

DokDin.ID -
Depresi post partum adalah gangguan kejiwaan serius yang mempengaruhi 19% dari semua ibu yang baru melahirkan. Sekitar 1 dari 5 orang ibu yang baru melahirkan akan mengalami depresi post partum yang bersifat ringan, sedang, sampai berat. 

Depresi post partum adalah salah satu bentuk dari gangguan jiwa pasca melahirkan selain baby blues dan psikosis post partum. Depresi post partum dapat terjadi pada sebagian besar ibu yang baru melahirkan di seluruh dunia. 


 Penyebab Depresi Post Partum 


 Depresi post partum dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, antara lain ; Perubahan hormon setelah melahirkan yang dapat mempengaruhi kerja otak. 

Seorang ibu dengan riwayat kecemasan atau depresi sebelum hamil. Peristiwa dalam hidup kurang menguntungkan atau penuh dengan tekanan. Mempunyai riwayat keluarga mengalami depresi. Kelelahan. 

Tidak adanya dukungan dari keluarga, kerabat, dan lingkungan sekitar. Bayi yang dilahirkan tidak sesuai dengan harapan, seperti misalnya bayi dengan riwayat pertumbuhan janin terhambat, bayi dengan berat lahir rendah, dan bayi prematur. 

37% depresi post partum disebabkan karena faktor ekonomi rendah. 

Menurut Lovejoy, Graczyk, O'Hare, dan Neuman, 2000, Depresi yang terjadi pada ibu setelah melahirkan akan mengurangi keterlibatan ibu dan bayi secara emosional, merusak komunikasi, dan meningkatkan permusuhan/kebencian ibu terhadap bayi mungilnya yang lucu. 

 Ibu yang kelelahan dalam mengurus buah hati sendirian, tidak adanya dukungan, dan tidak adanya bantuan keluarga, juga dapat menimbulkan gangguan kognitif pada ibu. 

Ibu yang baru saja melahirkan menjadi kehilangan minat terhadap bayinya dan menjadi kurang motivasi untuk merawat bayinya. 


 Gejala Depresi Post Partum 


 Gejala obsesif kompulsif dan gangguan stres pasca trauma dapat dialami oleh sebagian ibu selama periode nifas (post partum). 

 Adanya sejumlah kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan akan memicu timbulnya depresi post partum dengan gejala-gejala sebagai berikut ; Ibu merasa bersalah atas hal-hal yang di luar kuasanya. 

Misalnya dengan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, sang Ibu menyalahkan diri sendiri. 

 Tidak bisa menikmati indahnya kehadiran bayi dan tidak memiliki ketertarikan terhadap si Kecil. Ibu tidak bisa tidur walaupun saat bayi tertidur. Atau justru ibu merasa terlalu lelah, terlalu banyak tidur, dan enggan bangkit dari tempat tidur. 

Merasa kewalahan dan tidak mampu melakukan kegiatan pada siang hari. Tidak mampu berkonsentrasi. Tidak nafsu makan. 

Ibu merasa tidak normal. Ibu tidak mampu membuat keputusan apapun. Merasa gagal sebagai seorang ibu. Merasa sendirian atau kesepian. Ibu sering berpikiran bahwa bayi akan lebih baik tanpa ibunya. 

Ibu yang mengalami depresi post partum seringkali tidak makan. Padahal setelah melahirkan, tentu ibu memerlukan asupan zat gizi yang mencukupi untuk proses penyembuhan pasca persalinan. 


 Cara Mengatasi Depresi Post Partum 


 1. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : DUKUNGAN KELUARGA 


 Biasanya jika lingkungan keluarga mendukung, siap membantu, dan memberikan kasih sayang pada ibu yang baru melahirkan, depresi post partum ini jarang terjadi, kecuali pada ibu yang memang sudah pernah mengalami depresi sebelum terjadinya kehamilan. Jika bantuan yang diberikan keluarga sudah maksimal namun gejala depresi post partum ini tidak juga menghilang atau bahkan meningkat menjadi keinginan untuk bunuh diri, maka langkah selanjutnya yang perlu diambil adalah berkonsultasi dengan Dokter ahli Jiwa. Dokter ahli Jiwa akan memeriksa ibu post partum dan memutuskan apakah ia memerlukan terapi anti depresan atau tidak. 

 2. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : IBU NIFAS YANG MENGALAMI HAL SAMA 


 Bergabung dengan komunitas atau grup ibu nifas yang mengalami hal yang sama dapat membuat ibu merasa tidak sendirian. 

 Berbicara dengan mereka yang mengalami depresi post partum juga dapat membantu ibu untuk mencurahkan isi hati tanpa merasa malu atau tanpa merasa tidak normal. 

Hal ini perlahan dapat mengurangi gejala depresi yang sudah muncul. 

 3. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : GIZI YANG BAIK 


 Pemenuhan zat gizi yang baik untuk ibu nifas sangat membantu mempercepat pemulihan masa nifas termasuk masa depresi. 

 Pada ibu yang tidak nafsu makan, kebutuhan akan vitamin yang diperlukan tubuh dapat diberikan melalui suplemen makanan yang mengandung omega 3 dan multivitamin lainnya. 

 Konsumsi alkohol tidak diperbolehkan pada ibu dalam masa nifas dan mengalami depresi. Selain bisa mempengaruhi kualitas ASI, alkohol juga dapat memperburuk depresi post partum. 

 4. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : ISTIRAHAT CUKUP


 Istirahat sangat diperlukan ibu untuk penyembuhan. Kebanyakan ibu yang mengalami depresi post partum memang akan mengalami kesulitan untuk tidur. 

 Hal-hal yang dapat membantu bunda untuk tidur di antaranya adalah ; mandi air hangat sebelum tidur, pijat relaksasi, terapi akupunktur meditasi Pada malam hari, keluarga dapat membantu ibu untuk tidur dengan memberikan ASI perah yang telah disimpan di dalam lemari es. 

Sementara itu, ibu bisa tidur sebanyak yang dibutuhkan. 

 5. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : BAHAGIA


 Usahakan untuk merasa bahagia, jika ibu tidak bisa, maka carilah kebahagiaan itu. Cobalah lakukan sesuatu yang menjadi kesukaan ibu sebelum terjadinya depresi post partum. 

 Contoh kegiatan yang bisa menimbulkan kebahagiaan di antaranya adalah ; kegiatan keagamaan (menjalankan ibadah), berkumpul dengan teman-teman dan keluarga yang peduli, menghabiskan waktu berdua dengan suami, mendengarkan musik, dll. 

6. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : OLAHRAGA


 Olahraga dapat membantu untuk mengeluarkan hormon beta endorfin yang akan memberikan efek bahagia. Olahraga yang cocok untuk ibu nifas adalah senam nifas. 

 Sebenarnya skrining dapat dilakukan sebagai langkah pertama untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya depresi post partum pada wanita hamil yang sudah menampakkan gejala-gejala depresi. 

 Namun, nampaknya masih sedikit fasilitas kesehatan yang melakukan skrining depresi post partum pada wanita hamil yang melakukan kunjungan prenatal. 

Jumat, 25 Desember 2020

Mengenal Episiotomi Saat Persalinan Normal

episiotomi,
Img Source : Pexels


DokDin.ID - Jika saat ini Anda tengah hamil dan berencana untuk melahirkan secara normal maka inilah yang patut Anda ketahui. Episiotomi dan persalinan normal bisa saja menjadi bagian yang tidak terpisahkan. 

Apakah Yang Dimaksud Dengan Episiotomi?


 Episiotomi adalah sayatan yang dibuat di perineum - jaringan yang terletak di antara pembukaan jalan kelahiran dan "maaf" anus (tempat pembuangan sisa makanan) - saat melahirkan. 

Episiotomi biasa dilakukan dengan menggunakan gunting bedah. Meskipun episiotomi dan persalinan normal pernah menjadi bagian rutin yang tidak terpisahkan, itu tidak lagi terjadi saat ini. 

 Dulu, episiotomi dan persalinan normal tak terpisahkan. 

Episiotomi dianggap sangat membantu proses kelahiran, membantu agar robekan yang terjadi di jalan lahir tidak lebar, dan membantu menjaga kekuatan otot dan jaringan ikat di sekitar jalan lahir. 

 Namun efek episiotomi juga banyak dilaporkan pasien seperti pemulihan masa nifas yang tidak nyaman. Bahkan keluhan seperti sayatan episiotomi yang terlalu luas sering dilaporkan. 

Apa Efek Yang Dapat Ditimbulkan Dari Tindakan Episiotomi Saat Persalinan Normal?


 Efek yang dapat ditimbulkan dari tindakan episiotomi saat persalinan normal adalah bahwa efek  sayatan episiotomi yang terlalu luas dapat mempengaruhi timbulnya infeksi, perasaan nyeri yang dirasakan sampai beberapa bulan setelah melahirkan, dan pada beberapa wanita dapat terjadi inkontinensia alvi (tidak dapat menahan rasa ingin buang air besar). 

 Oleh karena itu, sekarang, Episiotomi dan persalinan normal yang menjadi bagian rutin tidak lagi direkomendasikan. 

 Meski episiotomi dan persalinan normal sekarang tidak lagi menjadi bagian rutin, namun prosedur ini diperlukan pada beberapa kasus dimana episiotomi lebih baik dilakukan dibandingkan tidak dilakukan, yaitu pada kondisi tertentu. 

Kapan Tindakan Episiotomi Dipertimbangkan Untuk Dilakukan Saat Persalinan Normal?


 Tindakan episiotomi dipertimbangkan untuk dilakukan pada persalinan normal yang mempunyai Kemungkinan bahwa robekan jalan lahir yang akan terjadi dapat luas dan tidak beraturan akibat  kondisi tertentu.

Kondisi tertentu yang memungkinkan terjadinya robekan luas dan tidak beraturan pada jalan lahir adalah sebagai berikut.

  • Makrosomia yaitu berat badan bayi yang dilahirkan lebih dari 4 KG, 
  • Keadaan bayi dimana diperlukan persalinan yang cepat, misalnya hipoksia (kekurangan oksigen) yang diperiksa dengan alat CTG (CardioTocoGraphy).
Jika Dokter memutuskan untuk melakukan episiotomi pada proses persalinan Anda, maka Dokter akan memberikan obat bius lokal, sehingga Anda tidak akan merasakan nyeri saat dilakukan tindakan episiotomi. 

 Ada dua jenis sayatan episiotomi: 


1. Sayatan Episiotomi : Garis tengah atau sayatan median. 

 Sebuah sayatan median dilakukan lurus arah vertikal. Untuk memperbaiki bekas sayatan median ini lebih mudah daripada sayatan mediolateral, namun risiko untuk merobek anus lebih besar. 

 2. Sayatan Episiotomi : Sayatan mediolateral. 

 Sebuah sayatan mediolateral adalah sayatan yang letaknya agak ke pinggir jadi tidak searah dengan jalan lahir dan lubang anus. Sayatan mediolateral lebih sering dilakukan saat episiotomi karena mencegah risiko robekan vagina dan anus, meskipun lebih sulit untuk memperbaiki sayatannya setelah bayi lahir. 

 Dilaporkan bahwa rasa nyeri pasca episiotomi dan persalinan normal dengan sayatan median lebih cepat hilang daripada episiotomi dengan sayatan mediolateral. 

Jika Anda mengalami tindakan episiotomi saat persalinan atau robekan alami yang lebar, biasanya rasa nyeri akibat episiotomi dan robekan jalan lahir tersebut akan bertahan selama beberapa minggu setelah melahirkan. 

 Bahkan untuk robekan atau sayatan yang lebih luas, rasa nyeri akan bertahan lebih lama. 

Rasa tidak nyaman akibat jahitan perineum juga dirasakan mengganggu beberapa minggu setelah melahirkan. Benang jahitan yang digunakan dalam tindakan episiotomi akan terserap dengan sendirinya. 

 Apa Saja Yang Dapat Anda Lakukan Agar Luka Pasca Tindakan Episiotomi Pada Persalinan Normal Cepat Sembuh? 


 Inilah yang dapat Anda lakukan  agar luka jahitan akibat tindakan episiotomi atau robekan jalan lahir akibat persalinan normal bisa cepat sembuh. 


  1. Anda dapat mengatasi luka robekan atau episiotomi pasca melahirkan dengan menggunakan cairan antiseptik saat buang air besar dan buang air kecil. 
  2. Minumlah obat antibiotika secara teratur dan jangan lupa untuk menghabiskannya. Biasanya Anda akan diberikan obat anti nyeri dan antibiotika selama beberapa hari untuk menghilangkan rasa nyeri dan mencegah terjadinya infeksi terutama pada bekas luka robekan/sayatan di perineum.
  3. Jangan tunda untuk buang air kecil karena hal tersebut dapat memicu timbulnya infeksi saluran kemih (ISK) dan dapat memicu terjadinya konstipasi (kesulitan buang air besar). 
  4. Untuk mencegah susah buang air besar yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada bagian perineum, Anda dapat minum obat pencahar. Konsultasikan pada Dokter ObGyn obat pencahar apa yang aman untuk Anda, terutama jika Anda memberikan ASI untuk bayi Anda.
  5. Berhati-hatilah saat duduk. Dianjurkan duduk di tempat yang empuk atau tempat duduk berbentuk cincin agar bekas luka pasca tindakan episiotomi tidak terasa nyeri. 
  6. Makan makanan bernutrisi tinggi untuk mempercepat penyembuhan misalnya makanan yang mengandung protein tinggi seperti ikan, telur, dan ayam.

Senin, 21 Desember 2020

7 Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan

ibu pasca melahirkan, dokdin.id, baby blues ibu pasca melahirkan

DokDin.ID - Seorang ibu pasca melahirkan dapat mengalami beberapa hal yang mungkin belum pernah dialami sebelumnya. Setiap ibu pasca melahirkan memiliki beberapa hal yang berbeda yang terjadi pasca melahirkan.

8 Hal yang sering terjadi pada ibu pasca melahirkan adalah sebagai berikut.


Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :    

No. 1 KELELAHAN 

Ibu pasca melahirkan akan langsung merawat bayinya. Meskipun beberapa ibu pasca melahirkan menggunakan jasa babysitter, tetap ibu pasca melahirkan harus menyusui atau memberikan asi kurang lebih tiap 2 jam sekali. 

Kelelahan sering terjadi pada ibu pasca melahirkan bayi terkait kondisi fisik yang sedang dalam proses pemulihan kembali ke keadaan tubuh seperti sebelum kehamilan, adanya perubahan hormonal, aktivitas merawat bayi, kurangnya waktu istirahat, dan pola diet yang kurang sesuai untuk ibu menyusui.


Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :    

No. 2 KURANG TIDUR

Ibu pasca melahirkan biasanya kurang tidur. Untuk dapat meminimalisir ibu pasca melahirkan yang kurang tidur, dapat diantisipasi dengan pengaturan pola tidur misalnya ketika bayi tertidur, ibu pasca melahirkan juga mengusahakan untuk dapat tidur. 

Ibu pasca melahirkan perlu mengatur jam tidurnya dan mengusahakan agar jam tidur tetap minimal 8 jam sehari. Ibu pasca melahirkan juga perlu menjaga kesehatan mentalnya menghadapi kehidupan baru dengan lahirnya buah hati. Salah satunya adalah menjaga tidur minimal 8 jam per hari untuk menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya stres. Hal ini sangat diperlukan bagi ibu pasca melahirkan dalam merawat bayinya.  


Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :
No. 3 BABY BLUES 


Menurut data yang dilansir oleh americanpregnancy.org, baby blues dapat terjadi 70-80% pada ibu pasca melahirkan. 

Biasanya ibu pasca melahirkan yang mengalami babyblues akan sering menangis tanpa alasan saat sedang menghadapi bayinya. Ibu pasca melahirkan dengan Baby Blues juga mengalami berbagai situasi emosional yang tidak stabil seperti hilangnya kesabaran saat sedang mengurus bayi, perasaan ibu pasca melahirkan menjadi lebih sensitif akan hal-hal kecil jika dibandingkan sebelumnya, insomnia, sampai hilangnya konsentrasi. 

Perubahan suasana hati ibu pasca melahirkan yang begitu tidak stabil biasanya disebabkan oleh perubahan hormonal. Biasanya babyblues akan hilang dengan sendirinya sekitar 14 hari kemudian setelah persalinan. Dukungan keluarga sangat berarti untuk mengatasi Baby Blues pada ibu pasca melahirkan.
 

Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca melahirkan :
No. 4 KONSTIPASI 


Tingginya kadar hormon progesteron selama kehamilan dapat menyebabkan susah buang air besar atau konstipasi yang dapat terjadi pada ibu pasca melahirkan. 

Konstipasi pada ibu pasca melahirkan harus segera ditangani agar terjadinya hemoroid atau wasir dapat dihindari.

Di samping akibat hormon progesteron, kebiasaan ibu pasca melahirkan juga mempengaruhi timbulnya konstipasi. Sebagian ibu pasca melahirkan akan takut untuk buang air besar setelah melahirkan normal, terlebih lagi bagi ibu pasca melahirkan normal dengan tindakan episiotomi. 

Sikap menunda untuk buang air besar akan mempermudah terjadinya konstipasi ini. Untuk mencegah konstipasi, ibu pasca melahirkan sedapat mungkin segera bangun dan perlahan melakukan aktivitas ringan seperti berjalan ke toilet atau duduk ketika sudah merasa cukup tenaga (jika tidak ada penyulit persalinan, biasanya 2 jam setelah bersalin) namun hal ini perlu mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Dokter atau Bidan yang merawat ibu pasca melahirkan. 

Aktivitas ringan seperti berjalan pelan untuk mandi dapat membantu agar tubuh kita segera pulih. Dengan melakukan aktivitas ringan, metabolisme tubuh ibu pasca melahirkan dapat segera berjalan kembali normal termasuk saluran pencernaan. Sehingga metabolisme saluran pencernaan yang lambat dan dapat memicu timbulnya konstipasi pasca melahirkan, dapat dihindari dengan melakukan aktivitas ringan.

Diet tinggi serat, misalnya buah, sayur, makanan whole grains seperti oat, dapat membantu mencegah terjadinya konstipasi. Konsumsi minimal 2 liter air per hari juga diperlukan untuk membantu mencegah terjadinya konstipasi.


Hal yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :
No. 5 HEMOROID / WASIR 


Ibu pasca melahirkan dapat mengalami hemoroid atau wasir. Terjadinya hemoroid dipicu oleh adanya konstipasi yang tidak segera ditangani atau keadaan ibu yang terlalu mengejan saat bersalin normal. Akibatnya terjadi pelebaran vena atau pembuluh darah balik di saluran pencernaan bagian bawah. 

Pelebaran vena pada saluran pencernaan bagian bawah disertai dengan semakin tipisnya pembuluh darah tersebut sehingga memungkinkan terjadinya pecah pembuluh darah.

Hemoroid juga dapat dialami setiap orang. Hemoroid dapat berupa gejala buang air besar berdarah atau keluar seperti daging lemak berwarna pink dari saluran pembuangan. Hemoroid dapat nyeri atau gatal. 

Meski Hemoroid dapat sembuh sendiri, nyatanya sebagian besar penderitanya datang ke Dokter untuk mencari pengobatan Hemoroid karena tidak tahan atas nyeri yang dirasakan akibat Hemoroid.     

Hemoroid dapat dicegah dengan cara mencegah konstipasi. 

Pasca melahirkan, hemoroid yang terjadi biasanya akibat mengejan terlalu kuat dalam waktu yang relatif lama, misalnya saat ibu mencoba mengejan dengan kuat padahal terjadinya pembukaan persalinan belum lengkap. 

Selain itu, Hemoroid yang terjadi pada ibu pasca melahirkan juga dapat disebabkan karena faktor perubahan hormon dan pemberian suplemen anti anemia yang mengandung zat besi.

Anemia pada ibu pasca melahirkan dapat diketahui dengan pemeriksaan laboratorium di mana kadar hemoglobin darah di bawah 10 g/dl. 

Anemia pada ibu pasca melahirkan sebagian besar adalah anemia defisiensi besi. Inilah mengapa ibu pasca melahirkan mendapat suplementasi zat besi untuk mencegah terjadinya anemia dimana risiko pemberian zat besi pada ibu pasca melahirkan ini dapat menyebabkan terjadinya konstipasi yang memicu timbulnya Hemoroid.


Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :
No 6. NYERI PERUT BAGIAN BAWAH 


Ibu pasca melahirkan sebagian besar mengalami nyeri perut bagian bawah akibat adanya proses alami dimana rahim akan berkontraksi menuju ukuran rahim seperti sebelum kehamilan. 

Jangan khawatir.

Karena timbulnya nyeri perut bagian bawah ini berkaitan dengan pemulihan ibu pasca melahirkan. Pada ibu pasca melahirkan yang memberikan ASI pada bayinya, proses pemulihan rahim bisa lebih cepat karena proses menyusui akan memicu produksi hormon oksitosin yang akan menyebabkan rahim semakin giat berkontraksi. Dalam hal ini, penyembuhan rahim pada ibu pasca melahirkan yang menyusui dapat lebih cepat jika dibandingkan dengan ibu pasca melahirkan yang memberikan susu formula pada bayinya.


Hal Yang Sering Terjadi Pada Ibu Pasca Melahirkan :
No.7 BREAST ENGORGEMENT 



Breast engorgement pada ibu pasca melahirkan ditandai dengan adanya pembengkakan  yang menyebabkan nyeri yang sangat akibat terlalu banyak terisi ASI. 

Dua sampai lima hari pasca melahirkan, produksi ASI mulai aktif, namun bayi saat itu belum terlalu aktif untuk meminta ASI, akibatnya terjadi penumpukan ASI yang menyebabkan Breast Engorgement pada ibu pasca melahirkan.

Nyeri akibat Breast Engorgement dapat diminimalisir dengan pengompresan handuk hangat dan terus memberikan ASI pada bayi ketika ia membutuhkan ASI.

Kamis, 17 Desember 2020

Infeksi Masa Nifas

nifas, infeksi nifas, endometritis



DokDin.ID -
Jangan abaikan demam yang terjadi saat Anda berada dalam masa nifas. Demam sebagian besar disebabkan oleh infeksi masa nifas, maka demam adalah tanda penting dari penyakit ini. 

 Demam ini adalah kenaikan suhu 38 derajat celcius atau lebih yang terjadi setelah 24 jam pasca melahirkan, selama 2 hari dalam 10 hari pertama masa nifas. 

Apa definisi, penyebab, faktor risiko, gejala, dan bagaimana transmisi kuman, pencegahan, serta penanganan infeksi masa nifas ini? 

 Berikut ini ulasan lengkap dari definisi sampai penanganan infeksi masa nifas 


Definisi Infeksi Masa Nifas 


Infeksi masa nifas atau yang disebut infeksi puerperalis adalah masuknya mikroorganisme yang merugikan ke dalam tubuh ibu nifas melalui luka di dalam rahim di mana luka tersebut adalah bekas tempat menempelnya plasenta yang terlepas pada proses persalinan. 


Penyebab Infeksi Masa Nifas 


 Penyebab infeksi masa nifas adalah bakteri, di antaranya adalah sebagai berikut ; Streptococcus Staphylococcus Escherichia coli Clostridium tetani Clostridium welchii Chlamydia Gonococcus 

Kemungkinan terbesar yang dapat menyebabkan infeksi masa nifas adalah bahwa penolong persalinan itu sendiri yang membawa kuman dari vagina ke dalam rahim ibu saat melakukan pemeriksaan dalam untuk memeriksa pembukaan serviks. 

 Infeksi dapat juga disebabkan jika alat-alat yang digunakan dalam menolong persalinan kurang steril. 

Atau infeksi masa nifas disebabkan karena 'hubungan' sebelum proses persalinan dimulai.  

Bakteri-bakteri penyebab infeksi masa nifas dapat berupa bakteri endogen dan bakteri eksogen. 

 Bakteri endogen adalah bakteri yang secara normal hidup di dalam vagina atau anus tanpa menimbulkan bahaya. Namun, jika bakteri endogen ini berada pada tempat yang bukan seharusnya, maka bakteri endogen dapat menyebabkan infeksi. 

 Pada proses persalinan, bakteri endogen yang terdapat pada vagina, dapat terbawa ke dalam rahim melalui tangan penolong persalinan. Ketika bakteri-bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh melalui luka rahim bekas menempelnya plasenta, maka terjadilah infeksi masa nifas ini. 

 Luka rahim bekas menempelnya plasenta merupakan luka yang cukup besar. Di samping itu, pintu masuk kuman bukan hanya melalui luka rahim yang cukup besar tadi, melainkan sebagian kecil dapat melalui luka jalan lahir di vulva, perineum, vagina, ataupun leher rahim (serviks). 

 Saat kuman berhasil masuk dan menyebabkan infeksi masa nifas, maka kuman akan menjalar dan menyebabkan infeksi pada organ tubuh yang lebih luas, yang dimulai dari organ yang paling dekat misalnya saluran telur (salfingitis) atau selaput perut (peritonitis). 

 Bakteri eksogen adalah bakteri yang memang berada di lingkungan luar yang jika masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan penyakit. Bakteri eksogen ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui alat yang tidak steril saat persalinan, saat 'berhubungan', atau melalui tangan penolong persalinan. 


 Faktor Risiko Infeksi Masa Nifas 


 Faktor risiko terjadinya infeksi masa nifas adalah sebagai berikut; perdarahan, trauma persalinan, proses persalinan yang lama, tertinggalnya plasenta di dalam rahim, anemia, malnutrisi, alat-alat yang digunakan menolong persalinan tidak steril, pemeriksaan pembukaan serviks yang terlalu sering, perawatan perineum yang tidak tepat, dan infeksi menular seksual yang memang sudah ada sebelum proses persalinan. 

 Faktor paling penting yang memudahkan terjadinya infeksi masa nifas adalah trauma/luka persalinan dan perdarahan. 

 Perdarahan setelah melahirkan akan menurunkan daya tahan tubuh ibu, tambahan lagi adanya luka persalinan akan membuat pintu masuk kuman ke dalam tubuh ibu, selanjutnya jaringan-jaringan rahim yang 'mati' yang masih tertinggal di dalam rahim menjadi 'makanan' yang baik bagi kuman. 

 Sampai 10 hari setelah melahirkan, bahaya terjadinya infeksi masa nifas ini masih mengintai. Karena itu, ibu harus cerdas memilih kapan waktu untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah akibat bersalin. 

Hal-hal yang mungkin Anda alami setelah persalinan seperti misalnya kelelahan, kurang tidur, akan memicu terjadinya anemia. Keadaan anemia juga dapat menurunkan daya tahan tubuh Anda sehingga memudahkan terjadinya infeksi masa nifas


 Transmisi Kuman Penyebab Infeksi Masa Nifas


Terdapat berbagai macam jalan agar kuman dapat masuk ke dalam tubuh saat persalinan di antaranya adalah sebagai berikut ; Tangan penolong persalinan yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam (pemeriksaan pembukaan serviks) yang akan membawa masuk kuman yang berada di vagina. 

Sarung tangan dan alat-alat yang digunakan untuk menolong persalinan tidak sepenuhnya bebas dari kuman. 

Infeksi dapat ditularkan pada lingkungan tempat bersalin yang terkontaminasi bakteri dari hidung atau tenggorokan pihak lain. Karena itu, semua penolong persalinan wajib mengenakan masker dan pihak keluarga yang sedang mengalami infeksi saluran pernapasan dilarang masuk. 

Transmisi kuman dapat terjadi karena di dalam rumah sakit banyak tersebar bakteri yang berasal dari pasien lain. Kuman ini bisa menyebar melalui udara dan menyebabkan infeksi yang disebut infeksi nosokomial. 

Ibu yang mengalami ketuban pecah dini, yaitu ketuban sudah lebih dahulu pecah padahal belum ada pembukaan serviks, infeksi masa nifas dapat terjadi. 


Gejala Infeksi Masa Nifas 


 Gejala yang timbul pada infeksi masa nifas adalah sebagai berikut. 

 Jika infeksi masa nifas ini terjadi juga pada organ jalan lahir bagian luar, maka dapat terlihat proses infeksi lokal berupa ; perubahan warna kulit vulva dan vagina biasanya menjadi merah meradang, pada luka jalan lahir timbul nanah dan membengkak, darah nifas (lokia) bercampur nanah dan berbau, luka episiotomi terasa nyeri dan membengkak, suhu badan meningkat (demam), dan terasa nyeri saat bergerak. 

Gejala infeksi masa nifas lainnya adalah ; lemah, tekanan darah menurun, nadi berdenyut cepat, nafas sesak (ngos-ngosan), nyeri tekan pada perut, nyeri pada panggul, gelisah, kesadaran menurun bahkan sampai koma. 

Infeksi masa nifas adalah salah satu penyebab paling sering kematian ibu pasca persalinan selain perdarahan post partum dan eklampsia. 


 Macam-macam Infeksi Masa Nifas 


 Macam-macam infeksi masa nifas dapat terjadi pada berbagai organ tubuh sesuai dengan penyebaran kumannya. 


 INFEKSI VULVA, PERINEUM, VAGINA, DAN SERVIKS (LEHER RAHIM) 

 Infeksi vulva, perineum, vagina, dan serviks dapat terjadi bila luka episiotomi yang dijahit mengalami infeksi. 

Tanda-tanda luka episiotomi mengalami infeksi adalah ; nyeri di perineum sekitar jahitan, sakit ketika buang air kecil (disuria), pembengkakan luka episiotomi, sulit berjalan karena luka episiotomi bengkak, sisi jahitan episiotomi berwarna merah meradang, adanya nanah di sekitar jahitan episiotomi, tidak menyatunya jaringan dengan benang jahitan episiotomi, dan demam tapi tidak terlalu tinggi (38,3 derajat celcius). 

 Jahitan episiotomi sebaiknya diperiksa secara rutin apalagi saat Anda merasa nyeri atau susah bergerak karena jahitan episiotomi. 

Anda juga harus mengetahui bagaimana cara menjaga luka jahitan post episiotomi agar cepat cepat sembuh. Dengan merawatnya dengan seksama, diharapkan infeksi masa nifas karena luka episiotomi ini bisa dihindari. 


 ENDOMETRITIS 

 Endometritis adalah infeksi endometrium (rahim). 

Gejala yang berkaitan dengan endometritis yaitu; Demam bisa sampai 40 derajat celcius, denyut nadi cepat (takikardia), Menggigil (jika endometritis sudah berat), nyeri pada panggul, nyeri tekan perut bagian bawah, kecepatan mengecilnya rahim melambat, sehingga ukuran rahim masih besar, dan darah nifas yang keluar bisa sedikit yang disertai nanah dan berbau. 

Infeksi masa nifas paling sering menjelma menjadi endometritis. Saat itu, kuman berhasil menyerbu masuk melalui luka bekas menempelnya plasenta, menyebabkan infeksi pada endometrium (rahim) yang berpotensi menyebarkan infeksi pada organ terdekat di sekitarnya. 

 Seandainya Anda mengalami salah satu gejala di atas, segeralah konsultasikan ini pada Dokter Kandungan agar mendapat penanganan dengan segera. 

 Endometritis yang tidak mendapatkan pengobatan dengan tepat dan segera, akan menyebarkan infeksi ke organ di sekitarnya, menyebabkan infeksi saluran telur (salfingitis), infeksi selaput perut (peritonitis), dan tromboflebitis. 


 TROMBOFLEBITIS 

 Apa yang dimaksud tromboflebitis ? 

 Tromboflebitis adalah infeksi yang menjalar melalui pembuluh darah balik (vena) yang dalam kaitannya dengan infeksi masa nifas ini dapat menyebabkan kematian pada ibu nifas. 

 Pembuluh darah balik yang biasanya terlibat dalam infeksi masa nifas ini adalah vena-vena dinding rahim dan vena tungkai bawah (kaki). 

 Pada tromboflebitis yang mengenai kaki ( vena femoralis), salah satu gejala infeksi masa nifas yang muncul adalah pembengkakan mulai dari jari kaki, betis, dan paha. Biasanya hanya satu kaki saja yang bengkak, tapi bisa juga kedua kaki menjadi bengkak. 

 Jika Anda mengalami gejala ini, konsultasikan juga pada Dokter. Apalagi jika gejala ini disertai dengan gejala demam tinggi. 


 Pencegahan Infeksi Masa Nifas 


Sebenarnya infeksi masa nifas ini sangat bisa dicegah. Pencegahan terjadinya infeksi masa nifas ini pun dapat kita lakukan sebelum persalinan, saat persalinan, dan sesudah persalinan. 

 Pencegahan infeksi masa nifas sebelum persalinan atau pada saat hamil adalah ; Mengurangi faktor risiko terjadinya infeksi masa nifas yang dapat dilakukan semasa kehamilan, misalnya mencegah anemia, malnutrisi, dan mengobati penyakit penyerta saat kehamilan. 

 Makan makanan bergizi dan mewaspai makanan yang bisa membahayakan janin sangat berpengaruh pada daya tahan tubuh Anda di samping baik untuk perkembangan janin. 

Mengurangi 'berhubungan' saat hamil tua dikhawatirkan dapat memicu pecahnya ketuban sebelum adanya persalinan dimulai. 

Pendapat untuk menjarangkan 'berhubungan' saat hamil tua ini bertolak belakang pada pendapat para ahli lainnya yang mengungkapkan untuk sering 'berhubungan' pada hamil tua terutama saat tanggal perkiraan kelahiran sudah tiba. Hal ini dilakukan untuk memicu terjadinya kontraksi rahim akibat adanya rangsangan zat prostaglandin yang terdapat pada sperma agar mempercepat proses persalinan. Untuk itu, konsultasikanlah hal ini pada Dokter, untuk menilai yang mana yang sesuai dengan kondisi Anda saat hamil tua. 

 Pencegahan infeksi masa nifas saat persalinan terutama dilakukan oleh penolong persalinan dalam menggunakan alat-alat dan lingkungan yang steril. 

 Keluarga yang ingin menemani Anda dalam ruang bersalin sebaiknya menggunakan masker. Dan keluarga yang sedang mengalami influenza atau infeksi saluran pernapasan sebaiknya tidak ikut masuk ke dalam kamar bersalin. 

 Pencegahan infeksi masa nifas setelah persalinan wajib dilakukan oleh Anda, seperti merawat luka episiotomi dengan benar, minum antibiotika yang telah diberikan oleh Dokter secara teratur dan harus dihabiskan, dan makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 


 Penanganan Infeksi Masa Nifas 


 Jika infeksi masa nifas terlanjur terjadi maka penanganannya adalah konsumsi antibiotika yang diberikan oleh Dokter. 

 Infeksi masa nifas yang ringan masih dapat ditangani secara rawat jalan. Tapi di rumah, Anda harus memperhatikan suhu tubuh Anda apakah sudah stabil. Ukurlah suhu tubuh dengan menggunakan termometer secara teratur sedikitnya empat kali sehari. 

 Jika setelah minum antibiotika, suhu tubuh masih tinggi, maka segera hubungi Dokter, agar infeksi tidak berlarut-larut. 

Mungkin Dokter perlu mengganti jenis antibiotika jika hasil yang diharapkan dari antibiotika yang dikonsumsi Anda tidak sesuai harapan. 

 Beberapa dari ibu yang mengalami infeksi masa nifas yang sudah lanjut harus dirawat di rumah sakit. 

Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas



DokDin.ID - Dalam satu minggu pertama masa nifas, biasanya ibu nifas akan melakukan kunjungan kontrol pada Dokter kandungan atau Bidan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan ibu pasca persalinan. 

 Pemeriksaan kesehatan ibu selama satu minggu pertama masa nifas bertujuan untuk menganalisa nyeri pasca persalinan, perawatan luka perineum pasca episiotomi pada persalinan normal atau penyembuhan luka jahitan post caesar. 

 Kunjungan satu minggu pertama masa nifas ini sangat penting untuk pencegahan infeksi, edukasi pemberian ASI eksklusif , konsultasi penggunaan kontrasepsi, sampai keluhan-keluhan lain yang dirasakan ibu pasca melahirkan, misalnya ada tidaknya kemungkinan terjadi depresi post partum. 

Pentingnya satu minggu pertama masa nifas ini mengharuskan ibu melakukan kontrol pasca persalinan pada Dokter atau Bidan, yang dalam standar pelayanan kebidanan, sebaiknya ibu nifas melakukan kontrol pada hari ke-3 pasca persalinan. 

 Saat ibu melakukan kontrol pada satu minggu pertama masa nifas, Dokter atau Bidan akan melakukan pemeriksaan sbb. 

 1. Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas : Involusi Uterus 

 Dokter atau Bidan akan memastikan apakah proses involusi uterus (proses kembalinya ukuran rahim yang membesar ke ukuran rahim sebelum hamil) berjalan dengan normal, ada/tidaknya perdarahan yang menjadi penyebab kematian ibu pasca persalinan yang paling sering, dan ada/tidaknya bau yang tidak normal yang berasal dari lokia. 

 2. Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas : Hubungan Ibu & Bayi 

 Dalam satu minggu pertama masa nifas, biasanya ibu akan kesulitan dalam memberikan ASI pada bayi. Karena menyusui adalah proses belajar antara ibu dan bayi. Meskipun ibu sudah pernah menyusui bayi sebelumnya, tidak menjamin bahwa ibu tidak mengalami kesulitan memberi ASI, terutama pada satu minggu pertama masa nifas. 

 Dalam kunjungan kontrol ke dokter atau bidan inilah, sang ibu dapat berkonsultasi jika mengalami kesulitan dalam pemberian ASI. 

 Ibu yang menyusui akan memerlukan makanan dengan gizi seimbang terutama kebutuhan protein, vitamin, dan mineral. Jangan lupa untuk menambahkan 500 kalori dari kebutuhan kalori ibu yang tidak menyusui, setiap harinya, agar jumlah ASI dapat mencukupi kebutuhan bayi. 

 Rata-rata kebutuhan kalori ibu menyusui adalah 2300-2700 kalori dalam satu hari. Untuk kebutuhan protein, dapat ditambahkan 20 gram setiap harinya. 

Ibu menyusui juga membutuhkan 2-3 liter asupan cairan, baik dalam bentuk air putih, jus buah, atau susu. 

Ibu dianjurkan untuk menyusui sebanyak 1 gelas (250ml) setiap kali menyusui. Jangan lupa menambahkan suplemen vitamin dan mineral karena kebutuhan ibu menyusui terhadap vitamin dan mineral jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan masa hamil. 

 3. Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas : Deteksi Dini Infeksi Masa Nifas 

 Dalam satu minggu pertama masa nifas adalah masa yang paling rentan untuk terjadinya infeksi masa nifas. 

 Karenanya, kontrol ke Dokter atau Bidan dalam satu minggu pertama masa nifas adalah sangat penting, untuk mendeteksi adanya infeksi masa nifas, yang biasanya diawali dengan gejala demam. 

 4. Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas : Senam Nifas 

 Senam nifas penting dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan pasca persalinan. Tanyakan pada Dokter atau Bidan Anda tentang gerakan-gerakan senam nifas yang tepat. 

 5. Pentingnya Satu Minggu Pertama Masa Nifas : Pencegahan Gangguan Jiwa Pasca Melahirkan 

Dikatakan baby blues paling rentan terjadi pada satu minggu pertama masa nifas. Saat ibu nifas kontrol dalam satu minggu pertamanya, Dokter juga akan menilai apakah ada kecenderungan terjadinya Gangguan Jiwa Pasca Persalinan. 

 Gangguan jiwa pasca persalinan yang dapat terjadi adalah baby blues, depresi, sampai psikosis pasca persalinan. Tanda-tanda awal terjadinya gangguan jiwa pasca persalinan adalah sulitnya merasakan kasih sayang ibu terhadap bayinya. 

 Pentingnya satu minggu pertama masa nifas mengharuskan setiap ibu nifas melakukan kunjungan kontrol pada Dokter atau Bidan yang membantu proses persalinannya.