Tampilkan postingan dengan label Obesity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obesity. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juni 2021

Obesitas Abdominal : Obesitas Kok di Perut Saja?

obesitas abdominal


DokDin.ID – Teman DokDin, istilah obesitas pastinya sering kita dengar, namun tahukah kamu tentang obesitas abdominal? Pada obesitas abdominal, penyimpanan kelebihan lemak pada tubuh itu terpusat di area perut, yang disebut Intra Abdominal Fat. Kalau pada obesitas, cara pengukuran apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak itu melalui Body Mass Index (BMI), pada obesitas abdominal lebih baik menggunakan lingkar perut. 

Mengapa lebih baik mengukur obesitas abdominal dengan lingkar perut? 

Karena ternyata orang yang relative kurus, juga dapat mengalami obesitas abdominal dimana penyimpanan kelebihan lemak tubuhnya terfokus pada area perut saja. 

Di Asia Pasifik, seseorang dapat dikatakan mengalami obesitas abdominal jika lingkar perut ≥ 90 cm pada pria dan lingkar perut ≥ 80 cm pada wanita. 

Obesitas abdominal ternyata sangat related to risiko gangguan kesehatan loh, jadi sebenarnya jika seseorang mengalami obesitas abdominal dimana berat badan bisa saja ideal namun dengan penampakan perut yang obese (baca : perut gendut) itu lebih merupakan suatu alarm gangguan kesehatan jika dibandingkan dengan kegemukan secara umum akibat kelebihan kalori. 

Menurut World Health Organization (WHO, 2000) Intra Abdominal Fat akan memicu jaringan adiposa untuk memproduksi sejumlah hormone dalam jumlah yang abnormal, misalnya lemak perut akan memicu sekresi hormone insulin yang tinggi, produksi hormone testosterone yang tinggi, produksi hormone androstenedione bebas tinggi, atau malah menyebabkan rendahnya level hormone progesterone pada wanita, rendahnya level testosterone pada pria , produksi hormone kortisol tinggi, dan memicu rendahnya level Growth Hormone

Akibat produksi sejumlah hormone-hormon yang tidak normal ini diduga akan meningkatkan risiko kesehatan. 

Penelitian Wildman Dkk (2005) menemukan bahwa pria dan wanita yang mengalami obesitas abdominal memiliki tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterol jahat (LDL) tinggi, kadar Trigliserida (TG) tinggi, kolesterol total tinggi, dan kolesterol baik (HDL) rendah. 

Dengan ketidakseimbangan metabolism lemak dan ketidaknormalan tekanan darah tersebut, seseorang berisiko terhadap berbagai penyakit degenerative seperti dislipidemia, hipertensi, diabetes melitus, aterosklerosis (penumpukan lemak dalam pembuluh darah), gangguan toleransi glukosa, sindrom metabolic, batu empedu, dan dapat memicu beberapa jenis kanker (WHO,2000). 

Untuk dapat mengatasi atau menghindari timbulnya obesitas abdominal ini, Teman DokDin harus tahu apa saja faktor yang bisa berhubungan dengan munculnya si obesitas abdominal ini. 

Apa saja faktor yang berhubungan dengan obesitas abdominal? 

Dari suatu penelitian diketahui pengaruh usia, jenis kelamin, status pernikahan, tingkat Pendidikan, dan apakah seseorang itu aktif bekerja atau tidak aktif bekerja terhadap kejadian obesitas abdominal. 

obesitas abdominal



Inilah pengaruh beberapa faktor yang berhubungan terhadap obesitas abdominal. 

1. Obesitas Abdominal dan Faktor Usia 

Penumpukan Intra Abdominal Fat mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Penumpukan lemak disebabkan karena terjadinya penurunan massa otot dan perubahan hormone seiring pertambahan usia, terutama terjadinya perlambatan metabolism tubuh pada usia di atas 40 tahun, ditambah lagi dengan kurangnya aktivitas fisik dan seringnya mengkonsumsi makanan yang berlemak. 

2. Obesitas Abdominal dan Jenis Kelamin 

Pada wanita kecenderungan terjadi obesitas abdominal lebih besar jika dibandingkan obesitas abdominal pada pria. Pada wanita terutama setelah masa Menopause, akan mengalami pengurangan massa otot secara alamiah dan perubahan hormonal. 

Kurangnya hormone estrogen memicu penumpukan lemak pada perut yang memang pada wanita sudah mempunyai cadangan lemak perut lebih banyak daripada pria. Asupan makanan yang kelebihan kalori dan kurangnya aktivitas fisik memberat keadaan obesitas abdominal. 

3. Obesitas Abdominal dan Status Pernikahan 

Pada status bercerai biasanya timbul keadaan depresi sehingga berpotensi memicu perubahan gaya hidup seperti konsumsi minuman beralkohol atau makanan tinggi lemak sehingga menimbulkan obesitas abdominal. 

Dari semua faktor yang berhubungan dengan timbulnya obesitas abdominal, aktivitas fisik sangat erat hubungannya dengan terjadinya obesitas abdominal. 

Peningkatan aktivitas fisik lebih mempunyai hubungan yang kuat dengan mengecilnya lingkar perut, namun menurut Janghorbani Dkk (2007), kurangnya aktivitas fisik lebih berkorelasi dengan obesitas abdominal pada wanita, dan tidak berlaku pada obesitas abdominal yang dialami pria. 

Aktivitas fisik yang bagaimana yang bisa menurunkan lingkar perut secara ilmiah?

Aktivitas fisik berupa Exercise (Olahraga) dengan durasi 370 menit / minggu untuk pria, dan 295 menit / minggu untuk wanita dapat menurunkan penumpukan lemak perut seiring bertambahnya usia. 

Aktivitas fisik berat lebih dari 30 menit / hari dapat menurunkan lingkar perut sebanyak ± 0,91 cm. Melalui aktivitas fisik ini, penggunaan lemak intra abdominal akan meningkat sebagai hasil redistribusi jaringan adiposa (Koh-Banerjee Dkk, 2003). 

Dengan melakukan olahraga secara rutin, tubuh dapat meningkatkan pengeluaran energi dengan membakar lemak perut.

Ok, demikianlah Blog Post DokDin kali ini, semoga bermanfaat ya. Salam Sehat Selalu.



*Referensi :
https://e-journal.unair.ac.id/index.php/JBE/article/download/1312/1071
hpps://www.pexels.com