Tampilkan postingan dengan label Aging. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aging. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Februari 2021

Faktor Risiko Pengapuran Sendi : Osteoarthritis



DokDin.ID - Apakah Anda pernah mengalami kesulitan untuk berjalan karena sendi lutut Anda terasa sangat nyeri dan kaku? Jika Anda pernah mengalaminya, kemungkinan besar Anda mengalami pengapuran sendi Osteoartritis. 

 Pengapuran sendi Osteoartritis adalah suatu penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembangnya sangat lambat. Karena berkembangnya sangat lambat, Anda tidak akan menyadari bahwa selama ini telah terjadi proses pengapuran sendi osteoartritis. 

 Pengapuran sendi osteoartritis sebetulnya belum diketahui penyebab pastinya. Namun, terjadinya pengapuran sendi osteoartritis dikaitkan dengan berbagai faktor risiko seperti ketika mulai terjadi proses penuaan dalam diri Anda. 

 Dahulu, pengapuran sendi osteoartritis banyak dihubungkan pada lansia atau mereka yang berusia di atas 40 tahun, tapi ternyata, karena berbagai faktor risiko, pengapuran sendi osteoartritis dapat dialami sebelum usia 40 tahun. 

 Banyak orang tua yang tidak dapat berjalan walaupun hanya dari kamar tidur ke dapur akibat penyakit degeneratif ini. Pengapuran sendi osteoartritis benar-benar dapat sangat membatasi aktivitas Anda karena biasanya terjadi pada sendi-sendi lutut dan tangan, sendi yang menanggung suatu beban. 

 Meskipun penyebab pengapuran sendi osteoartritis belum diketahui, dengan mengetahui berbagai faktor risiko pengapuran sendi osteoartritis, Anda dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya pengapuran sendi osteoartritis. 

 Apa saja faktor risiko pengapuran sendi osteoartritis? 


 Inilah faktor risiko pengapuran sendi osteoartritis. 


 1. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : UMUR 


 Angka kejadian pengapuran sendi osteoartritis dengan bertambahnya umur, semakin meningkat. 

Tingkat keparahan pengapuran sendi osteoartritis pun meningkat seiring bertambahnya usia. 

 Pengapuran sendi osteoartritis hampir tidak pernah terjadi pada anak-anak, jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun, dan sering terjadi di atas 60 tahun. 

 2. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : JENIS KELAMIN


 Wanita lebih sering terkena pengapuran sendi osteoartritis lutut dan pengapuran sendi osteoartritis banyak sendi. Sedangkan laki-laki lebih sering terkena pengapuran sendi osteoartritis paha, pergelangan tangan, dan leher. 

 Secara keseluruhan, pada usia 40-45 tahun, angka kejadian pengapuran sendi osteoartritis pada wanita dan pria adalah kurang lebih sama. 

 Namun pada usia di atas 50 tahun (setelah menopause), frekuensi pengapuran sendi osteoartritis lebih banyak pada wanita jika dibandingkan pada pria. 

 Hal ini menunjukan bahwa adanya hubungan antara pengapuran sendi osteoartritis dengan hormon. 

 3. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : GENETIK

 Anak-anak perempuan yang memiliki ibu yang terserang pengapuran sendi osteoartritis, mempunyai kecenderungan terjadi pengapuran sendi osteoartritis pula sebanyak 3 kali lipat, jika dibandingkan dengan anak-anak perempuan yang dilahirkan dari seorang ibu tanpa pengapuran sendi osteoartritis. 

 Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan, dikatakan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada pengapuran sendi osteoartritis tertentu. 

 4. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : KEGEMUKAN
 


 Angka kejadian pengapuran sendi osteoartritis meningkat nyata akibat berat badan berlebih, baik pada wanita maupun pria. Kegemukan ternyata tidak hanya berpengaruh pada sendi yang menanggung beban seperti sendi lutut, namun juga mempengaruhi sendi lainnya, seperti sendi pada tangan, dada, dan bahu (sterno-klavikula). 


 5. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : PENYAKIT METABOLIK


 Seseorang dengan osteoartritis mempunyai risiko terjadinya hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung koroner yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang lain yang tanpa osteoartritis. 

 6. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARTHTRITIS) : CEDERA SENDI, PEKERJAAN, DAN OLAHRAGA 


 Pekerjaan yang menggunakan hanya satu sendi secara terus menerus misalnya tukang gado-gado yang selalu menggunakan sendi pergelangan tangannya cenderung terserang osteoartritis pergelangan tangan. Pekerjaan seperti tukang pahat cenderung terkena osteoartritis sendi bahu. 

 Cedera sendi, pekerjaan berat, dan bahkan olahraga yang mencederai sendi berkaitan dengan kejadian osteoartritis. 

 Beban benturan yang berulang dapat menjadi suatu faktor penentu lokasi terjadinya osteoartritis pada orang-orang yang memiliki kecenderungan terjadinya pengapuran ini. Misalnya pada riwayat genetik. 

 7. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : KELAINAN PERTUMBUHAN 


 Kelainan bawaan dan kelainan pertumbuhan paha, misalnya pada penyakit Perthes atau penyakit dislokasi kongenital paha, telah dikaitkan dengan timbulnya osteoartritis pada usia muda. Mekanisme ini diduga berperan pada lebih banyaknya pengapuran paha pada laki-laki dalam ras tertentu. 

 8. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) :  

KEPADATAN TULANG 


 Kepadatan tulang yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya pengapuran. Tulang yang padat atau keras tidak membantu saat tulang berbenturan ketika seseorang beraktivitas, akibatnya benturan ini mencederai sendi, bahkan sendi dapat robek. MIsalnya saja pada pelari yang berusia lanjut, pelari akan memiliki kepadatan tulang yang tinggi, sementara tulang rawan sendinya memiliki risiko terjadinya pengapuran ketika usia lanjut. 

 9.  FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) LAINNYA


 Derajat keparahan osteoartritis tidak selalu berjalan selaras dengan keluhan yang dirasakan penderita. Meskipun derajat osteoartritisnya sama, keluhan bisa saja lebih dirasakan mengganggu pada individu yang lain. 

 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada wanita dan orang gemuk cenderung lebih sering mempunyai keluhan seperti nyeri, pembengkakan sendi, keterbatasan/kekakuan sendi, dan perubahan anatomi sendi. 

 Seseorang yang merokok, menderita hipertensi, kulit putih, dan secara psikologis kurang baik, diduga meningkatkan timbulnya keluhan akibat osteoatritis yang dideritanya.
This entry was posted in

Senin, 21 Desember 2020

Hipertensi Pada Usia Lanjut

hipertensi usia lanjut


DokDin.ID - Hipertensi pada usia lanjut
pada awalnya dianggap normal akibat adanya perubahan fungsi tubuh terkait proses penuaan. Ternyata, hipertensi pada usia lanjut yang tidak diobati dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit yang terkait hipertensi. 

Diperkirakan 2/3 penderita hipertensi pada usia lanjut , di atas usia 60 tahun, akan mengalami gagal jantung, infark miokard (penyakit jantung), dan stroke , dalam 5 tahun ke depan, jika hipertensi pada usia lanjut ini tidak diobati. 

Hipertensi pada usia lanjut ini adalah bila tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih. Tekanan darah sistolik meningkat sampai usia 70 tahun, sedangkan tekanan darah diastolik meningkat sampai usia 50-60 tahun, lalu kemudian menetap atau menurun pada usia 70 tahun. 

Mengapa pada usia lanjut dapat terjadi hipertensi? 

Pada usia lanjut, terjadi perubahan-perubahan fungsi tubuh yang memudahkan seseorang terkena hipertensi. 

Perubahan fungsi tubuh usia lanjut berupa : curah jantung yang rendah, jumlah denyut jantung yang berkurang (bradikardia), aliran darah ginjal menurun, kemampuan ginjal menyaring zat-zat buangan urin menurun (filtrasi glomerulus menurun), aktivitas hormon renin plasma rendah, terjadi gangguan kapasitas konservasi air dan natrium, aktivitas simpatik meningkat, dan volume darah dalam pembuluh darah berkurang (intravaskuler). 

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada hipertensi usia lanjut adalah : Pemeriksaan tekanan darah pada usia lanjut memerlukan beberapa kali pengukuran tekanan darah sebelum benar-benar memastikan apakah orang usia lanjut tersebut terkena hipertensi atau tidak. 

Pada usia lanjut, kekakuan pembuluh darah arteri bisa saja terjadi, sehingga pada waktu diukur tekanan darahnya, hasilnya lebih tinggi dari tekanan darah pembuluh darah arteri yang sebenarnya. Hal ini disebut pseudo-hipertensi. 

Tekanan darah sebaiknya diukur dengan posisi duduk maupun berdiri, untuk memeriksa adanya hipertensi postural, yaitu tekanan darah sistolik yang menurun 20 mmHg atau lebih pada posisi berdiri). 

Tekanan darah pada saat berdiri biasanya dipakai untuk menghentikan pengobatan hipertensi, pada hipertensi postural. 

Penyebab terbanyak hipertensi pada usia lanjut adalah hipertensi esensial dan hipertensi renovaskular (ginjal). 

Pengobatan hipertensi pada usia lanjut harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan organ akibat hipertensi. 

Gaya hidup yang perlu dimodifikasi pada hipertensi usia lanjut berupa : penurunan berat badan bagi penderita hipertensi yang gemuk, melakukan gerak badan yang teratur (jalan pagi), menghentikan konsumsi alkohol jika mungkin, berhenti merokok jika penderita hipertensi merokok, diet rendah garam, diet tinggi serat dan sayur, penanganan rutin jika penderita hipertensi juga mengalami diabetes melitus dan dislipidemia (kolesterol tinggi), dan kurangi stres. 

Hipertensi pada usia lanjut dikatakan sudah berhasil diobati jika tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 80 mmHg atau kurang.
This entry was posted in

Kamis, 03 Desember 2020

Menjaga Kesehatan Wanita 40 Tahunan




DokDin.ID
- Apakah Anda akan segera memasuki usia 40 tahun ? Kalau begitu, di usia Anda yang 40 tahun, Anda harus lebih menjaga kesehatan Anda dengan lebih intensif lagi, karena usia 40 tahun adalah usia yang istimewa. 

 Mengapa usia 40 tahun begitu istimewa sampai-sampai ada ungkapan Life begins at Forty ? 

Sebenarnya usia 40 tahun termasuk ke dalam usia peralihan seorang wanita dari masa reproduktif aktif menuju masa menopause. Di mana pada masa peralihan ini terjadi penurunan hormon kewanitaan secara terus menerus sampai akhirnya produksi hormon kewanitaan tersebut berhenti pada masa menopause. Masa peralihan ini disebut juga masa perimenopause. 

 Masa perimenopause setiap wanita tidak bisa dipastikan kapan akan terjadi. Namun dikatakan oleh para Ahli bahwa masa perimenopause akan berlangsung selama 2-8 tahun ditambah 1 tahun sebelum siklus haid benar-benar berhenti pada masa menopause. Mengingat masa menopause biasanya terjadi pada usia 50 tahun ke atas, maka diperkirakan masa perimenopause terjadi sekitar usia 40 tahun ke atas atau lebih, meskipun kadang masa menopause bisa terjadi sebelum usia 50 tahun. 

 Sebenarnya penurunan hormon kewanitaan sudah terjadi sejak usia 37 tahun pada beberapa wanita yang mungkin saja bisa menimbulkan gejala perimenopause seperti pada wanita berusia 40 tahun ke atas. 

 Gejala masa perimenopause yang bisa dirasakan seorang wanita adalah siklus haid yang mulai tidak teratur, ketidakstabilan emosi, kehilangan gairah/libido, perasaan menjadi lebih sensitif, sering terjadi infeksi saluran kemih, perasaan panas pada wajah, leher, punggung, dada atau yang biasa disebut hot flashes. 

 Yang dapat menjadi masalah dalam rumah tangga jika tidak dikomunikasikan dengan baik bersama pasangan adalah rasa kesakitan wanita usia 40 tahun ke atas saat berhubungan intim. Ini terkait dengan produksi cairan vagina yang berkurang sehingga menimbulkan nyeri. 

 Selain itu, masa perimenopause akan mengubah fisik seorang wanita usia 40 tahun ke atas terkait dengan perubahan hormon. Penurunan hormon estrogen, progesteron, dan testosteron pada wanita sangat berpengaruh pada perubahan fisik wanita usia 40 tahun ke atas. 

 Perubahan fisik yang dapat terjadi pada wanita usia 40 tahun ke atas adalah berupa : 

 1. Kondisi fisik yang mulai menurun sehingga tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit terutama penyakit yang terkait dengan metabolisme seperti Diabetes Melitus Tipe 2 dan hipertensi. 

 2. Penurunan metabolisme tubuh yang juga memicu timbulnya penimbunan lemak terutama di rongga perut. 

 3. Penurunan kepadatan tulang dimana memicu timbulnya pengeroposan tulang atau osteoporosis terutama saat masa menopause tiba. 

 4. Penurunan keleluasaan sendi-sendi sehingga wanita usia 40 tahun ke atas bisa terserang pengapuran sendi atau osteoartritis. 

 5. Penurunan fungsi otak sehingga jika wanita usia 40 tahun ke atas tidak mengasah tingkat intelegensia nya maka akan mudah terserang penyakit kepikunan atau Al Zheimer. Melakukan aktivitas sosial yang positif, membaca buku, dan belajar bahasa baru dapat meningkatkan intelegensia dan mencegah kepikunan. 

 Lalu bagaimana cara menjaga kesehatan wanita usia 40 tahun ke atas ? 

 Sebenarnya faktor yang paling penting diingat untuk menjaga kesehatan wanita usia 40 tahun ke atas ada 3 poin. 

3 poin yang paling penting untuk menjaga kesehatan wanita usia 40 tahun ke atas adalah : 

 1. Kelola Stres Dengan Positif Setiap manusia memiliki tingkat stres yang berbeda-beda. 

Masalah yang sama bisa bernilai berbeda-beda pada setiap orang. Ada beberapa orang yang menilai masalah itu berat. Namun, ada juga beberapa orang yang menanggulangi masalah yang sama dengan ringan. Mengapa bisa begitu ? Itulah yang disebut sudut pandang seseorang. 

Masalah boleh sama namun sudut pandang yang membedakan. Masalah bisa berakibat positif atau negatif, tergantung sudut pandang seseorang. Meskipun demikian, selalu ingatlah bahwa selalu ada hikmah dalam setiap masalah. 

 Memiliki sudut pandang yang positif terhadap berbagai masalah akan berdampak sehat terutama bagi diri kita sendiri. Karena itu, kelola stres dengan sudut pandang yang positif agar kita selalu sehat dan panjang umur. 

 2. Nutrisi Tepat Porsi Tepat 

 Nutrisi tepat namun jika tidak dengan porsi yang tepat tentu akan semakin memperburuk penimbunan lemak perut yang mudah terjadi akibat penurunan hormon estrogen pada wanita usia 40 tahun ke atas. 

Asupan sumber protein yang baik untuk wanita usia 40 tahun ke atas adalah bersumber dari ikan atau produk kedelai seperti tahu dan tempe. Ikan mengandung asam lemak omega 3 yang dapat mencegah penyakit jantung yang banyak terjadi pada usia 40 tahun ke atas. 

 Sedangkan produk kedelai seperti tahu dan tempe sangat baik dikonsumsi oleh wanita usia 40 tahun ke atas karena kandungan phytoestrogen-nya. 

Phytoestrogen mampu mengatasi masalah-masalah akibat penurunan kadar hormon estrogen pada masa perimenopause. Bahkan terdapat suplemen kesehatan untuk wanita perimeopause dan menopause yang komposisinya ya phytoestrogen itu. 

 Kemudian buah-buahan yang dianjurkan untuk wanita usia 40 tahun ke atas adalah buah berry (strawberry, blueberry, rasberry, cranberry, blackberry) dan anggur merah karena mengandung banyak antioksidan yang mampu mengatasi proses penuaan dini. 

 Sayur-sayuran seperti brokoli dan wortel juga banyak mengandung antioksidan yang sangat baik untuk kesehatan wanita usia 40 tahun ke atas. Sumber karbohidrat yang baik untuk wanita usia 40 tahun ke atas adalah beras merah dan oat meal. 

 Gantilah minyak goreng Anda dengan minyak zaitun, minyak bunga matahari, atau minyak kedelai. Karena minyak-minyak tersebut adalah minyak tidak jenuh yang tidak berbahaya bagi tubuh. 

 Di samping memperhatikan asupan makanan yang masuk, wanita usia 40 tahun ke atas juga dianjurkan untuk menjaga asupan cairan sesuai kebutuhan. 

Hendaknya asupan cairan ini tidak berlebihan atau tidak kekurangan agar fungsi ginjal tetap terjaga baik. Kebutuhan cairan usia 40 tahun adalah 30 - 35 ml / Kg berat badan / hari. Jadi jika Anda memiliki berat badan 60 Kg, maka kebutuhan cairan tubuh Anda adalah 1800 - 2100 ml / hari. 

 3. Olahraga 

 Jika ingin sehat, kita tidak bisa melepaskan olahraga dalam kehidupan kita. 

Olahraga yang cocok untuk wanita usia 40 tahun ke atas adalah berenang, menunggang kuda, bersepeda santai, berjalan pagi, atau aerobik air (berjalan atau berlari di dalam kolam renang). 

 Selain 3 poin di atas, penting untuk segera mengatasi masalah kesehatan yang mungkin sudah terjadi ketika menginjak usia 40 tahun. 

Masalah kesehatan yang biasanya terjadi pada wanita usia 40 tahun ke atas adalah hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia (kolesterol), osteoartritis, osteoporosis, dan tumor payudara. 

 Usia 40 tahun juga adalah waktu yang dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan mamogram bagi wanita untuk mendeteksi adanya tumor payudara. Jika tumor payudara ditemukan masih dalam stadium dini maka bisa segera disembuhkan. 

 Usia 40 tahun adalah anugerah di mana di usia ini, seseorang akan tampak tingkat kematangan dirinya. Namun, menjaga kesehatan wanita usia 40 tahun ke atas tidaklah sama dengan menjaga kesehatan wanita saat usia sebelum 40 tahun. 
This entry was posted in

Osteoporosis Setelah Menopause




DokDin.ID -
Setelah menopause, wanita mudah alami osteoporosis atau disebut juga pengeroposan tulang. 

Sebenarnya kehilangan massa tulang, sudah terjadi sejak usia 40 tahun, dan kehilangan massa tulang ini berlanjut terus sampai usia 85-90 tahun. Selama masa hidup wanita, akan kehilangan tulang sebesar 20-30%. 

Dikatakan bahwa pada 25% wanita menopause, kehilangan massa tulang sebanyak 3% setahun. Sehingga setelah menopause, wanita mudah alami osteoporosis. 

 Osteoporosis pada wanita menopause disebut osteoporosis tipe I atau osteoporosis menopause, yaitu osteoporosis yang dimulai dari trabekel tulang ( dari bagian dalam tulang). 

 Sedangkan osteoporosis tipe II atau osteoporosis senilis, jika pengeroposan tulang sudah mengenai bagian korteks tulang (bagian luar tulang). 

 Setelah menopause, wanita mudah alami osteoporosis paling sering pada tulang belakang dan bagian dada, ditandai dengan berkurangnya tinggi badan dan posisi badan yang membungkuk (kifosis). Karena densitas tulang menurun, kekuatan tulang menurun, maka pada wanita osteoporosis sering terjadi patah tulang spontan, terutama di pergelangan tangan, tulang belakang, dan daerah paha. 

 Oleh karena itu, gejala nyeri tulang pada wanita menopause jangan diabaikan, karena kemungkinan itu adalah gejala akibat osteoporosis. 

Mengapa setelah menopause, wanita mudah alami osteoporosis? 

 Setelah menopause, wanita mudah alami osteoporosis karena pada usia menopause, terjadi penurunan produksi hormon estrogen ovarium (indung telur) karena berkurangnya jumlah folikel yang aktif. Jika folikel ovarium yang aktif ini sudah tidak ada sama sekali, maka produksi hormon estrogen ovarium menghilang. 

 Proses osteoporosis ini akibat menurun sampai menghilangnya hormon estrogen ovarium ini. Osteoporosis adalah salah satu dari berbagai keluhan yang terjadi pasca menopause terkait penurunan hormonal ini. 

 Diketahui bahwa estrogen meningkatkan penyerapan kalsium di usus dan saluran ginjal, mengurangi pelarutan kalsium di tulang sehingga menghambat terjadinya pengeroposan tulang, menurunkan pengeluaran kalsium di urin. 

 Diperkirakan ada reseptor estrogen pada osteoblas (sel-sel pembentuk tulang), di mana dengan adanya estrogen akan merangsang osteoblas dalam pembentukan tulang baru terutama medula (tengah). Estrogen juga menekan aktivitas osteoklas (sel-sel yang melarutkan tulang). 

 Terapi hormon dalam mengatasi masalah-masalah pasca menopause, sekarang diperlukan hormon progesteron di samping hormon estrogen. 

 Telah diteliti bahwa Progesteron bersifat membangun tulang dengan merangsang osteoklas (sel-sel yang melarutkan tulang) untuk menyimpan massa tulang. 

 Meskipun kebanyakan setelah menopause, wanita mudah alami osteoporosis, namun tidak semua wanita mengalami masalah osteoporosis pada usia menopause mereka. 

 Sekitar 18% wanita menopause tidak mengalami keluhan. 56% wanita menopause mengalami keluhan dalam 1-5 tahun setelah menopause dimulai. 26% sisanya, mengalami keluhan pasca menopause setelah 5 tahun.
This entry was posted in

Selasa, 20 Oktober 2020

Perubahan Kulit Saat Proses Penuaan Terjadi



DokDin.ID - Tidak ada yang pasti dalam kehidupan ini. Namun pepatah mengatakan yang pasti terjadi ada 3 hal, yaitu : Tua, Sakit, dan Mati.
Jika kita panjang umur, maka kita pasti akan mengalami proses penuaan. Proses penuaan adalah sebuah proses perubahan yang bukan hanya fisik dan psikologis saja yang berubah, namun kehidupan sosial seseorang juga akan berubah. 

Proses penuaan itu bersifat multidimensial. Penuaan bukan merupakan suatu penyakit, namun suatu proses alamiah tubuh yang telah dimulai sejak kita lahir. 

Ada beberapa teori aging process, misalnya : 

  1. Teori Wear and Tear :Dimana proses penuaan terjadi akibat kerusakan DNA, sebuah proses glikolisasi, efek dari radikal bebas, dan cross linking (gen). 
  2. Teori Program : Teori Telomerase, yang disebut sebagai gen yang terkait umur panjang. 
  3. Teori Limited Cell Replication : Dimana penuaan terkait proses imun dan neuroendokrin. Pada saat proses penuaan dimulai, terjadi perubahan setiap organ tubuh kita, termasuk kulit. 
Nah, apa saja sih perubahan kulit pada proses penuaan? 

Inilah perubahan kulit pada proses penuaan. 

1. KULIT MENJADI LEBIH TIPIS 

Perubahan kulit pada proses penuaan yang paling tampak adalah lapisan kulit menjadi lebih tipis karena lemak subkutan (lemak bawah kulit) berkurang. 

2. KULIT MENJADI LEBIH KERING 

Pada saat kita tua, kelenjar minyak (glandula sebasea) akan berkurang jumlahnya, demikian juga kelenjar keringat, sehingga kulit menjadi lebih kering. Pemakaian Lotion akan membantu mengatasi kulit kering ini. 

3. KULIT MENJADI KERIPUT/KENDUR 

Kulit keriput dan kendur akibat zat kolagen dan elastis pada lapisan dermis kulit berkurang kepadatannya saat tua, padahal adanya zat kolagen dan elastin inilah yang membuat kulit padat, kenyal, dan kuat. 

4. KULIT KUSAM 

Saat proses penuaan dimulai, perlu waktu lebih lama untuk kulit dapat mengelupas sel-sel kulit mati dengan sendirinya. Sehingga terjadi penumpukan sel-sel kulit yang mati di lapisan luar kulit. Kulit menjadi terlihat kusam. Perubahan kemampuan kulit untuk mengelupas sel kulit mati ini akan menyebabkan perabaan kulit menjadi berkurang. 

5. TIMBUL BINTIK HITAM 

Selain efek buruk sinar matahari terhadap kulit yang tidak dilindungi tabir surya, perubahan kulit pada proses penuaan yang dapat terjadi adalah pembentukan noda bintik hitam akibat pertumbuhan sel pigmen dalam kulit yang menjadi tidak teratur. 

Terjadinya perubahan kulit pada proses penuaan akan berlangsung lebih cepat dan progresif pada Anda jika Anda memiliki beberapa faktor-faktor pemicu terjadinya proses penuaan dini seperti : 
  1. Faktor Genetik (sifat bawaan) Anda memiliki faktor genetika di mana Anda mudah mengalami proses penuaan jika dibandingkan dengan orang lain. Perubahan kulit pada proses penuaan yang Anda alami dapat terjadi lebih progresif.
  2. Gaya Hidup Jika selama ini gaya hidup Anda jauh dari pola hidup sehat, seperti jarang berolahraga, jarang makan sayur dan buah, sebaliknya sering makan makanan junk food, merokok, atau sering mengkonsumsi alkohol, maka perubahan kulit pada proses penuaan akan lebih cepat terjadi.
  3. Nutrisi Kurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk meregenerasi sel-sel kulit mati juga dapat mempercepat terjadinya perubahan kulit pada proses penuaan yang terjadi lebih dini dari seharusnya.
  4. Kondisi Lingkungan Jika Anda tinggal di lingkungan yang pernuh polusi udara, baik dari banyaknya kendaraan bermotor atau pun pabrik, seperti misalnya di kota-kota besar, maka Anda berpotensi mengalami perubahan kulit pada proses penuaan dini dibandingkan dengan jika Anda tinggal di lingkungan pegunungan yang sejuk. 
    Perubahan kulit pada proses penuaan ini dapat terjadi pada setiap orang. Kejadiannya tidak dapat dicegah namun bisa diperlambat sampai selama mungkin. 

Jika Anda menerapkan pola hidup sehat, melindungi kulit dari paparan sinar UV secara langsung dengan menggunakan sunblock, atau melakukan perawatan kecantikan yang bertujuan untuk meregenerasi sel-sel kulit yang telah mati menjadi sel-sel kulit yang baru, Anda dapat memperlambat terjadinya perubahan kulit pada proses penuaan.
This entry was posted in

Sabtu, 19 September 2020

Awet Muda : Antara Pikiran dan Makanan

DokDin.ID - "Jangan stres supaya awet muda".Kita sering mendengar nasihat ini bahwa untuk awet muda, kita harus bisa mengontrol emosi. Dan memang, orang yang tampak awet muda, adalah mereka yang memiliki kepribadian easy going dan dapat mengendalikan emosi dan pikiran meski tertimpa masalah sekalipun, dengan tetap memikirkan solusi permasalahan tentunya.

Saat kita mengembangkan persepsi kita tentang masalah menjadi peluang untuk hal yang lebih baik lagi ini akan menciptakan optimisme, dan sikap optimis sejalan dengan pikiran positif. Sudut pandang positif terhadap berbagai hal dalam kehidupan ini akan meredakan stres yang kita rasakan. Karena stres bisa mempercepat terjadinya penuaan dini.

Untuk mencegah penuaan dini, kita juga harus memilih makanan mana yang berguna bagi tubuh kita. Jadi, ketika kita memilih makanan, kita berpikir apakah makanan ini baik untuk saya, apakah tubuh saya memerlukannya, bukan hanya karena selera makan makanan tertentu tetapi ternyata makanan itu tidak diperlukan oleh tubuh.

Pikiran dan makanan yang sehat sangat mempengaruhi proses penuaan yang terjadi.

You are what you eat!

Anda adalah apa yang Anda makan.

Jika kita mengkonsumsi makanan sehat maka tubuh kita dapat mengatasi stres baik stres internal dan stres eksternal.

Stres internal adalah stres yang datangnya dari diri sendiri seperti stres yang terjadi saat perubahan hormon. 

Stres eksternal adalah faktor stres yang datangnya dari luar tubuh kita baik disadari atau tidak disadari akan mempercepat proses penuaan seperti sinar matahari, paparan zati kimia, polusi udara, paparan kosmetik, dan makanan tidak sehat.

Lalu, makanan apa sih yang bisa memperlambat proses penuaan?

Makanan yang bisa memperlambat proses penuaan adalah makanan sehat.

Dokter Hiromi Shinya, seorang dokter asal Jepang, memiliki teori bahwa rahasia kesehatan tubuh manusia besumber dari makanannya. 




This entry was posted in

Senin, 07 September 2020

Inilah Tanda Proses Penuaan

tanda proses penuaan, sign of aging, penuaan

DokDin.ID
- Proses penuaan tidak terjadi begitu saja. proses penuaan terjadi secara bertahap yang dimulai saat kita beruisa 25 tahun. Bahkan proses penuaan dapat terjadi sebelum usia 25 tahun. Proses penuaan yang terjadi di bawah usia 25 tahun dkatakan penuaan dini. 

 Sebenarnya adakah tanda yang dapat kita kenali saat proses penuaan mulai terjadi? 

Inilah tanda proses penuaan yang dapat kita kenali. 


1. Tanda Proses Penuaan : Tulang Menjadi Rapuh 

    Tulang mulai mengalami pengeroposan seiring dengan bertambahnya usia kita. Saat pengeroposan tulang sudah terjadi, tulang menjadi rapuh sehingga mudah patah. Cairan sendi pun akan ikut berkurang produksinya saat pengeroposan mulai terjadi akibat proses penuaan sehingga setiap kali sendi begerak menimbulkan nyeri. pengeroposan dan berkurangnya cairan sendi juga dapat terjadi di tulang belakang. Sebagai penopang tubuh, ketika tulang belakang mengalami osteoporosis, maka bentuk tubuh tidak akan tegak lagi, melainkan dapat membungkuk, atau tubuh akan tampak miring. 

2. Tanda Proses Penuaan : Kuku Kusam 

    Ketika proses penuaan terjadi, warna kuku menjadi lebih kusam. Kuku dapat berwarna kuning kecoklatan, coklat, atau kehitaman, dan harus dapat dibedakan dengan penyakit jamur kuku. Kuku juga terasa sangat keras jika dipotong.

3. Tanda Proses Penuaan : Perubahan Gigi 

    Perubahan gigi yang terjadi saat proses penuaan terjadi disebabkan oleh pengikisan lapisan terluar gigi, yaitu lapisan email. Terkikisnya lapisan email gigi akan menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif. Lapisan email yang terkikis akan berpotensi mengalami keropos lalu tanggal.

4. Tanda Proses Penuaan : Penurunan Fungsi Otak 

    Ketika proses penuaan terjadi maka fungsi otak akan menurun. Fungsi otak yang menurun menyebabkan seseorang menjadi pikun. Sering lupa bisa juga terjadi pada usia yang lebih muda karena tingkat stres yang tinggi.


5. Tanda Proses Penuaan : Perubahan Kulit 

    Kulit yang keriput merupakan salah satu tanda proses penuaan yang mudah sekali dikenali karena tampak dari luar sehingga. mudah terlihat. Proses penuaan yang menyebabkan berkurangnya produksi kolagen menimbulkan gejala kulit menjadi keriput, kulit menjadi kendur, pori-pori kuliat membesar, warna kulit kusam, timbul flek hitam, dan adanya penumpukan lemak di bawah kulit.
    

6. Tanda Proses Penuaan : Perubahan Rambut 

    Saat proses penuaan terjadi, rambut menjadi lebih mudah rontok, semakin lama semakin menipis, rambut kering, kusam, rambut kusut, dan kasar. Mirip dengan rambut yang rusak.


7. Tanda Proses Penuaan : Membutuhkan Kacamata Baca

    Ketika proses penuaan terjadi, penurunan fungsi mata menyebabkan seseorang membutuhkan kacamata baca untuk membaca. Hal ini karena presbiopia atau mata tua, sudah terjadi. Seseorang akan mengalami rabun dekat ketika presbiopia terjadi.
This entry was posted in

Senin, 24 Agustus 2020

Inilah Proses Penuaan Yang Sebenarnya Terjadi Pada Kita

proses penuaan subklinik, proses penuaan klinik, subclinic aging process, clinic aging process, transition aging process, proses penuaan

DokDin.ID - Menjadi tua tidak terjadi secara tiba-tiba. Tiba-tiba menjadi keriput. Tiba-tiba rambut menjadi beruban. Tiba-tiba tulang sakit. Tiba-tiba banyak keluhan, karena yaa sudah tua. Bukan... Bukan begitu... Menjadi tua terjadi secara perlahan. Proses penuaan sudah terjadi sejak beberapa waktu yang lalu sebelum kita mengalami keluhan-keluhan itu. Apa saja proses penuaan yang sebenarnya terjadi pada kita.

Inilah proses penuaan yang sebenarnya terjadi pada kita :


1. Proses Penuaan Fase Subklinik


Proses Penuaan Fase Subklinik terjadi sekitar usia 25 tahun sampai 35 tahun, di mana produksi hormon reproduksi dan hormon pertumbuhan mulai berkurang sekitar 14%. 

Berkurangnya hormon Testosteron pada lelaki dan hormon Estrogen pada perempuan yang disertai dengan berkurangnya Growth Hormone akan memicu terjadinya kerusakan DNA pada sel tubuh dan terjadinya akumulasi radikal bebas dalam tubuh.

Dengan adanya akumulasi radikal bebas dalam tubuh, kinerja organ tubuh mulai menurun. 
Radikal bebas biasanya berasal dari unhealthy lifestyle, stres, dan polusi udara.

Ketika proses penuaan fase subklinik sudah terjadi, kesehatan tubuh kita belum terpengaruh, sehingga tanda-tanda penuaan belum terlihat meskipun proses penuaan itu sendiri sudah mulai terjadi.


2. Proses Penuaan Fase Transisi

Proses penuaan fase transisi terjadi sekitar usia 35-45 tahun. Hormon pertumbuhan dan hormon reproduksi akan berkurang sekitar 25% pada proses penuaan fase transisi ini.


Pada proses penuaan fase transisi, tanda-tanda munculnya penuaan dari luar sudah mulai terlihat.


Biasanya saat proses penuaan fase transisi ini terjadi, seseorang mulai memerlukan kacamata plus untuk gejala rabun dekat karena penuaan (presbiopia), pendengaran berkurang, rambut mulai beruban, kulit wajah sudah mulai tampak garis-garis halus, dan sebagainya.


3. Proses Penuaan Fase Klinik

Proses penuaan fase klinik bisa dikatakan juga sebagai proses penuaan fase puncak, dimana ini akan terjadi saat kita mencapai usia 45 tahun ke atas.


Pada fase klinik proses penuaan, hormon testosteron dan estrogen akan sangat menurun, sehingga kadarnya dalam tubuh tersisa sangat sedikit. Demikian pula hormon pertumbuhan. 


Saat ini, gejala penuaan juga sudah sangat terlihat jelas dari penampilan luar seseorang dimana kulit sudah terlihat mengendur, tulang menjadi rapuh dan berisiko terjadinya osteoporosis, rambut beruban secara merata, gigi mulai tanggal, perut membuncit, daya ingat menurun, dan berisiko terkena penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes melitus.


Meski demikian, proses penuaan tidak mesti benar-benar terjadi sesuai dengan umur tersebut di atas. Proses penuaan bisa terjadi lebih cepat dari usia yang seharusnya. Keadaan ini biasa disebut penuaan dini. 


Berbagai faktor seperti gaya hidup yang tidak sehat, adanya penyakit penyerta, tingkat stres yang tinggi, pemilihan makanan yang tidak sesuai dengan usia, bisa menjadi faktor risiko terjadinya penuaan dini.







This entry was posted in