Rabu, 17 Februari 2021

Gejala Covid-19 pada Ibu Hamil

covid-19 kehamilan

DokDin.ID - Kehamilan di tengah pandemi Covid-19 tentu membuat pikiran berkecamuk antara bahagia dan khawatir karena kehamilan menurunkan daya tahan tubuh sementara kita membutuhkan daya tahan tubuh yang adekuat untuk menangkal virus.

Berbagai virus yang dapat mengancam kehamilan seperti Cytomegalovirus (CMV), varicella-Zooster, Virus Zika, Herpes, HIV, parvovirus B19, Rubella, telah ada sebelum merebaknya virus corona.

Covid-19 ditetapkan oleh World Health organization (WHO) menjadi pandemi pada tahun 2020. 

Bagaimanakah Gejala Covid-19 pada ibu hamil?

Meski pandemi Covid-19 sudah berlangsung kurang lebih selama setahun namun Covid-19 masih tergolong penyakit baru dan masih perlu dipelajari lebih mendalam. Bagaimana pengaruhnya pada kehamilan pun masih perlu penelitian lebih lanjut.

Virus corona merupakan keluarga virus yang bersirkulasi pada manusia dan menyebabkan gejala mulai dari flu sampai kegagalan pernapasan yang serius hingga menyebabkan kematian.

Virus Corona baru seperti yang telah dikenal sebagai SARS-CoV-2 muncul pada manusia di Wuhan,China pada akhir tahun 2019. Virus ini menyebabkan sindrom pernapasan akut parah, yang disebut Covid-19.

Pada dasarnya, Covid-19 adalah penyakit pernapasan yang gejalanya dapat muncul 2-14 hari semenjak terpapar virus corona. Gejala Covid-19 yang paling umum adalah batuk, demam, sesak napas, kelelahan, yang disertai gejala lainnya seperti :

  • Kehilangan bau atau rasa
  • menggigil
  • Nyeri otot
  • Sakit Tenggorokan
  • Sakit kepala
Jika Anda merasakan gejala-gejala tersebut di atas, jangan abaikan. Terlebih lagi jika ibu hamil mengalami gejala-gejala tersebut, Ibu hamil harus segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan yang menanganinya. Biasanya Anda diharuskan untuk melakukan tes PCR untuk mengetahui apakah Anda terinfeksi Covid-19 atau tidak. Semakin cepat diagnosis dapat ditegakkan semakin baik.

Wanita hamil memang lebih rentan terhadap semua jenis infeksi saluran pernapasan seperti flu namun untuk Virus SARS-CoV 2 ini masih perlu dipelajari secara ekstensif apakah benar virus ini lebih berbahaya pada ibu hamil jika dibandingkan pada orang yang tidak hamil.

Namun, dilihat dari pengaruh dari kondisi kehamilan itu sendiri adalah bahwa kehamilan mengubah sistem kekebalan ibu hamil. 

Seberapa bahayanya ibu hamil yang tertular Covid-19 jika dibandingkan dengan mereka yang tertular Covid-19 namun tidak hamil masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun berdasarkan data dari CDC, bahwa wanita hamil yang terkena Covid-19 tidak lebih baik ketimbang ibu hamil yang tidak terinfeksi Covid-19.

Demam tinggi yang dialami oleh ibu hamil dengan Covid-19 bisa mempengaruhi kesehatan janin bahkan memnpengaruhi terjadinya kelainan bawaan janin. Di samping itu, kesehatan janin memang lebih rentan ketika ibu terinfeksi virus manapun seperti Rubella, Varicella, dan lain sebagainya.

Hasil penelitian mengenai gejala Covid-19 pada ibu hamil dari Chen et all dengan responden 118 ibu hamil yang terinfeksi Covid-19  yang dipublikasikan pada Journal of Obstetrics and Gynaecology Research Volume 46, Issue 8 p.1235 - 1245 yang berjudul Clinical Update on Covid-19 in pregnancy : A review article adalah sebagai berikut :


gejala covid-19 pada ibu hamil

Pada jurnal tersebut juga membandingkan hasil beberapa penelitian yang meneliti mengenai gejala Covid-19 pada ibu hamil. Di antaranya penelitian gejala covid-19 pada ibu hamil yang dilakukan oleh Yu et al., Elshafeey at al., dan Dashraath et al sebagai berikut :

gejala covid-19 pada ibu hamil


Secara umum, ibu hamil yang terinfeksi covid-19 mempunyai risiko kematian dan kesakitan yang meningkat terlebih lagi jika ibu hamil mempunyai penyakit penyerta lain yang bisa memperparah keadaan.








Depresi Post Partum

Depresi Post Partum

DokDin.ID -
Depresi post partum adalah gangguan kejiwaan serius yang mempengaruhi 19% dari semua ibu yang baru melahirkan. Sekitar 1 dari 5 orang ibu yang baru melahirkan akan mengalami depresi post partum yang bersifat ringan, sedang, sampai berat. 

Depresi post partum adalah salah satu bentuk dari gangguan jiwa pasca melahirkan selain baby blues dan psikosis post partum. Depresi post partum dapat terjadi pada sebagian besar ibu yang baru melahirkan di seluruh dunia. 


 Penyebab Depresi Post Partum 


 Depresi post partum dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, antara lain ; Perubahan hormon setelah melahirkan yang dapat mempengaruhi kerja otak. 

Seorang ibu dengan riwayat kecemasan atau depresi sebelum hamil. Peristiwa dalam hidup kurang menguntungkan atau penuh dengan tekanan. Mempunyai riwayat keluarga mengalami depresi. Kelelahan. 

Tidak adanya dukungan dari keluarga, kerabat, dan lingkungan sekitar. Bayi yang dilahirkan tidak sesuai dengan harapan, seperti misalnya bayi dengan riwayat pertumbuhan janin terhambat, bayi dengan berat lahir rendah, dan bayi prematur. 

37% depresi post partum disebabkan karena faktor ekonomi rendah. 

Menurut Lovejoy, Graczyk, O'Hare, dan Neuman, 2000, Depresi yang terjadi pada ibu setelah melahirkan akan mengurangi keterlibatan ibu dan bayi secara emosional, merusak komunikasi, dan meningkatkan permusuhan/kebencian ibu terhadap bayi mungilnya yang lucu. 

 Ibu yang kelelahan dalam mengurus buah hati sendirian, tidak adanya dukungan, dan tidak adanya bantuan keluarga, juga dapat menimbulkan gangguan kognitif pada ibu. 

Ibu yang baru saja melahirkan menjadi kehilangan minat terhadap bayinya dan menjadi kurang motivasi untuk merawat bayinya. 


 Gejala Depresi Post Partum 


 Gejala obsesif kompulsif dan gangguan stres pasca trauma dapat dialami oleh sebagian ibu selama periode nifas (post partum). 

 Adanya sejumlah kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan akan memicu timbulnya depresi post partum dengan gejala-gejala sebagai berikut ; Ibu merasa bersalah atas hal-hal yang di luar kuasanya. 

Misalnya dengan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, sang Ibu menyalahkan diri sendiri. 

 Tidak bisa menikmati indahnya kehadiran bayi dan tidak memiliki ketertarikan terhadap si Kecil. Ibu tidak bisa tidur walaupun saat bayi tertidur. Atau justru ibu merasa terlalu lelah, terlalu banyak tidur, dan enggan bangkit dari tempat tidur. 

Merasa kewalahan dan tidak mampu melakukan kegiatan pada siang hari. Tidak mampu berkonsentrasi. Tidak nafsu makan. 

Ibu merasa tidak normal. Ibu tidak mampu membuat keputusan apapun. Merasa gagal sebagai seorang ibu. Merasa sendirian atau kesepian. Ibu sering berpikiran bahwa bayi akan lebih baik tanpa ibunya. 

Ibu yang mengalami depresi post partum seringkali tidak makan. Padahal setelah melahirkan, tentu ibu memerlukan asupan zat gizi yang mencukupi untuk proses penyembuhan pasca persalinan. 


 Cara Mengatasi Depresi Post Partum 


 1. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : DUKUNGAN KELUARGA 


 Biasanya jika lingkungan keluarga mendukung, siap membantu, dan memberikan kasih sayang pada ibu yang baru melahirkan, depresi post partum ini jarang terjadi, kecuali pada ibu yang memang sudah pernah mengalami depresi sebelum terjadinya kehamilan. Jika bantuan yang diberikan keluarga sudah maksimal namun gejala depresi post partum ini tidak juga menghilang atau bahkan meningkat menjadi keinginan untuk bunuh diri, maka langkah selanjutnya yang perlu diambil adalah berkonsultasi dengan Dokter ahli Jiwa. Dokter ahli Jiwa akan memeriksa ibu post partum dan memutuskan apakah ia memerlukan terapi anti depresan atau tidak. 

 2. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : IBU NIFAS YANG MENGALAMI HAL SAMA 


 Bergabung dengan komunitas atau grup ibu nifas yang mengalami hal yang sama dapat membuat ibu merasa tidak sendirian. 

 Berbicara dengan mereka yang mengalami depresi post partum juga dapat membantu ibu untuk mencurahkan isi hati tanpa merasa malu atau tanpa merasa tidak normal. 

Hal ini perlahan dapat mengurangi gejala depresi yang sudah muncul. 

 3. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : GIZI YANG BAIK 


 Pemenuhan zat gizi yang baik untuk ibu nifas sangat membantu mempercepat pemulihan masa nifas termasuk masa depresi. 

 Pada ibu yang tidak nafsu makan, kebutuhan akan vitamin yang diperlukan tubuh dapat diberikan melalui suplemen makanan yang mengandung omega 3 dan multivitamin lainnya. 

 Konsumsi alkohol tidak diperbolehkan pada ibu dalam masa nifas dan mengalami depresi. Selain bisa mempengaruhi kualitas ASI, alkohol juga dapat memperburuk depresi post partum. 

 4. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : ISTIRAHAT CUKUP


 Istirahat sangat diperlukan ibu untuk penyembuhan. Kebanyakan ibu yang mengalami depresi post partum memang akan mengalami kesulitan untuk tidur. 

 Hal-hal yang dapat membantu bunda untuk tidur di antaranya adalah ; mandi air hangat sebelum tidur, pijat relaksasi, terapi akupunktur meditasi Pada malam hari, keluarga dapat membantu ibu untuk tidur dengan memberikan ASI perah yang telah disimpan di dalam lemari es. 

Sementara itu, ibu bisa tidur sebanyak yang dibutuhkan. 

 5. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : BAHAGIA


 Usahakan untuk merasa bahagia, jika ibu tidak bisa, maka carilah kebahagiaan itu. Cobalah lakukan sesuatu yang menjadi kesukaan ibu sebelum terjadinya depresi post partum. 

 Contoh kegiatan yang bisa menimbulkan kebahagiaan di antaranya adalah ; kegiatan keagamaan (menjalankan ibadah), berkumpul dengan teman-teman dan keluarga yang peduli, menghabiskan waktu berdua dengan suami, mendengarkan musik, dll. 

6. CARA MENGATASI DEPRESI POST PARTUM : OLAHRAGA


 Olahraga dapat membantu untuk mengeluarkan hormon beta endorfin yang akan memberikan efek bahagia. Olahraga yang cocok untuk ibu nifas adalah senam nifas. 

 Sebenarnya skrining dapat dilakukan sebagai langkah pertama untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya depresi post partum pada wanita hamil yang sudah menampakkan gejala-gejala depresi. 

 Namun, nampaknya masih sedikit fasilitas kesehatan yang melakukan skrining depresi post partum pada wanita hamil yang melakukan kunjungan prenatal. 

Produk Skincare Yang Aman Untuk Ibu Hamil

Skincare ibu hamil

DokDin.ID - Proses kehamilan kadang bisa menimbulkan masalah tersendiri pada kulit terkait dengan perubahan hormon yang terjadi. Hiperpigmentasi atau pembentukan flek hitam pada kulit terjadi pada hampir semua ibu hamil. 

Perubahan hormon estrogen dan progesteron dalam kehamilan diketahui mempunyai peran dalam pembentukan flek hitam pada ibu hamil. 

 Di samping peranan hormon estrogen dan progesteron dalam pembentukan flek, atau yang biasa disebut melanogenesis dalam bahasa kedokteran, peningkatan kadar serum melanocyte stimulating hormone (MSH) pada trimester kedua kehamilan juga dikatakan dapat bekaitan dengan pembentukan flek. 

 Selain hiperpigmentasi, masalah kulit wajah yang sering terjadi pada kehamilan adalah jerawat atau disebut juga acne vulgaris. 

 Keluhan kulit wajah pada ibu hamil ini tentu dapat membuat ibu hamil kebingungan untuk merawat wajahnya karena produk skincare yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah kulit wajah selama kehamilan juga terbatas terkait dengan tingkat keamanan produk skincare tersebut terhadap janin 

 Lalu bagaimanakah caranya untuk memilih produk skincare yang aman untuk ibu hamil? 

Langkah awal untuk memilih produk skincare yang aman untuk ibu hamil adalah berkonsultasi pada Dokter ObGyn Anda. Tanyakan pada Dokter ObGyn Anda perihal produk skincare yang Anda pakai. Biasanya produk skincare tertentu dapat mengandung bahan-bahan kimiawi yang bisa berbahaya terhadap janin Anda. 

 Berhati-hatilah dalam memilih produk skincare yang aman untuk ibu hamil. Sebaiknya Anda menghindari kosmetik-kosmetik di bawah ini selama kehamilan karena bisa saja mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi janin Anda. 

 Produk skincare yang berfungsi memutihkan kulit wajah atau menghilangkan flek wajah terkadang bisa mengandung bahan berbahaya yang sudah tidak memiliki izin edar di beberapa negara. 

 Penggunaan bahan whitening tersebut penggunaannya dapat sangat terbatas dan harus dalam pengawasan Dokter. 

Namun, ternyata produk pemutih wajah yang mengandung bahan whitening tersebut masih banyak beredar di pasaran dan dijualbebas. 

 Berhati-hatilah terhadap produk skincare whitening yang belum jelas kandungannya dan belum terdaftar dalam BPOM karena bisa jadi produk skincare tersebut mengandung bahan aktif whitening yang berbahaya terutama terhadap janin. 

 Meskipun belum dapat disimpulkan efek samping berbahaya produk skincare whitening ini terhadap manusia secara langsung, namun beberapa penelitian terhadap hewan yang hamil bisa menjadi 'perwakilan' atas efek samping produk skincare whitening ini selama kehamilan. 

 Penggunaan produk skincare whitening dengan bahan-bahan aktif tertentu bisa menyebabkan kelahiran mati, cacat bawaan, dan berat badan lahir yang lebih rendah dari normal pada hewan. 

 Meskipun belum dapat disimpulkan efek sampingnya terhadap manusia, lebih baik jika kita tidak mengambil kemungkinan yang demikian berisiko untuk sekedar memakai produk skincare whitening. Jangan khawatirkan flek hitam yang muncul pada kehamilan. 

Karena flek hitam tersebut dapat hilang dan memudar dengan sendirinya setelah Anda melahirkan. Hindarilah pemaparan sinar matahari selama kehamilan jika memungkinkan untuk meminimalisir pembentukan flek hitam dan gunakanlah tabir surya atau sunblock yang berbahan dasar alami. 

 Untuk beberapa keadaan, flek hitam ini dapat menetap dan bertambah meskipun setelah melahirkan, misalnya jika ibu menggunakan kontrasepsi hormonal seperti KB suntik dan pil KB. 

 Namun, selama menyusui juga tidak dianjurkan untuk memakai produk skincare whitening yang bisa berbahaya dan terserap melalui ASI. 

 Oleh karena itu, disarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter ObGyn Anda jika ingin memilih produk skincare whitening selama kehamilan dan juga berkonsultasi dengan Dokter Anak Anda jika ingin memakai produk skincare whitening selama masa menyusui.

Penyebab Gagal Ginjal Yang Paling Sering

penyebab gagal ginjal


DokDin.ID - Gagal ginjal kronik merupakan kondisi klinis akibat kerusakan ginjal yang progresif dan tidak dapat disembuhkan (irreversibel). Perjalanan gagal ginjal hingga mencapai tahap terminal End Stage Renal Disease,dapat bervariasi dari 2-3 bulan hingga 30-40 tahun. 

 Stadium akhir dari kerusakan ginjal ini memerlukan penanganan berupa cuci darah dan transplantasi ginjal. Meskipun penanganan gagal ginjal ini telah maju, namun angka kematian masih tinggi karena prevalensi penyakit diabetes dan kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). 

 Dengan mengetahui penyebab gagal ginjal yang paling sering, Anda dapat menjalankan pola hidup sehat dan menghindari penyebab gagal ginjal tersebut agar Anda bisa mencegah terjadinya gagal ginjal. 

 Apa saja penyebab gagal ginjal yang paling sering? 


 Inilah penyebab gagal ginjal yang paling sering. 


 1. Penyebab Gagal Ginjal Yang Paling Sering : Diabetes (34%) 


 Nefropati Diabetika adalah penyakit ginjal pada pasien diabetes. Nefropati diabetika merupakan penyebab kematian terpenting pada diabetes yang lama. 

 Lebih dari 1/3 penderita diabetes yang baru menyadari mereka mempunyai diabetes melitus dan baru akan menjalani pengobatan diabetes,ternyata sudah mengalami gangguan pada ginjal mereka.

Telah diperkirakan bahwa sekitar 35%-40% Diabetes Tipe 1 akan berkembang menjadi gagal ginjal kronik dalam waktu 15-25 tahun setelah gejala diabetes muncul. 

Diabetes type 2 lebih sedikit berkembang menjadi gagal ginjal kronik yaitu 10%-20% . Penderita diabetes mellitus perlu menerapkan perilaku hidup sehat dan teratur minum obat agar tidak berlanjut menjadi nefropati diabetika atau komplikasi lainnya. 

 2. Penyebab Gagal Ginjal Yang Paling Sering : Hipertensi (21%) 


 Hipertensi dan gagal ginjal memiliki kaitan erat. Jika hipertensi merupakan penyakit primer dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. 

 Sebaliknya, penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi. Hipertensi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan penebalan pada dinding pembuluh darah (sklerosis), dan bila sklerosis terjadi pada pembuluh darah yang melalui ginjal, ginjal dapat mengalami kerusakan, yang pada akhirnya dapat timbul gagal ginjal 


 3. Penyebab Gagal Ginjal Yang Paling Sering : Glomerulonefritis (17%) 


 Glomerulonefritis adalah penyakit peradangan pada kedua ginjal (bilateral). Pada glomerulonefritis, unit fungsional dari ginjal yaitu nefron, dapat rusak seluruhnya pada stadium akhir, dan dapat menimbulkan gagal ginjal. 

 Gejala klinis dari glomerulonefritis ini dapat berupa hematuria (terdapatnya darah dalam urin), proteinuria (terdapatnya protein dalam darah), hipertensi, oedema (seluruh tubuh bengkak) akibat cairan, dan akhirnya menimbulkan kematian akibat uremia. 

 4. Penyebab Gagal Ginjal Yang Paling Sering : Penyakit polikistik ginjal (3,5%) 


 Penyakit polikistik ginjal ditandai dengan kista-kista yang banyak yang berkembang terus, yang lambat laun akan mengganggu fungsi ginjal kemudian merusak ginjal akibat penekanan. 

 Penyakit ini adalah penyakit bawaan dan diturunkan secara dominan autosomal herediter. Ginjal dapat membesar, misalnya sebesar sepatu bola, dan terisi oleh banyak kista yang menyerupai anggur. 

 Kista itu dapat terisi cairan jernih atau darah (hemoragik), dan mudah mengalami komplikasi seperti infeksi saluran kemih berulang, hematuria (terdapatnya darah dalam urin), poliuria (jumlah urin lebih banyak dari normal), dan ginjal mudah membesar/menonjol. 

Sering terjadi hipertensi. Penurunan fungsi ginjal yang progresif biasa terjadi pada penderita polikistik ginjal yang menyebabkan 50% gagal ginjal pada usia 60 tahun. 

 Penyebab gagal ginjal yang lainnya relatif tidak sering terjadi. Meskipun penyebab gagal ginjal bervariasi dan gejala penyakit ginjal stadium dini berbeda-beda, namun pada stadium akhir gejala klinik gagal ginjal hampir sama.
This entry was posted in

Penyebab Anak 5 Tahun Ke Atas Masih Mengompol

anak 5 tahun masih mengompol



DokDin.ID -
Mengompol pada malam hari atau nocturnal enuresis biasanya lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. 

Mengompol biasanya dialami oleh 30% anak usia 4 tahun, 10% usia 5-6 tahun, dan 3% pada anak usia 12 tahun ( The University of British Columbia) . Sebagian orang tua berpikir bahwa mengompol adalah kesalahan anak yang malas untuk bangun tidur ketika hasrat untuk buang air kecil muncul. 

Ternyata, pada sebagian anak, mengompol adalah sesuatu yang tidak dapat ia kendalikan. 

Apa penyebab anak 5 tahun ke atas masih mengompol? 


Inilah penyebab anak 5 tahun ke atas masih mengompol. 


  • Infeksi saluran kemih, 
  • Anatomi saluran kemih tidak normal misalnya katup saluran kemih uretra letaknya di belakang (posterior uretral valve), 
  • Gangguan sistem saraf bisa akibat kondisi medis ,misalnya meningomielocele dan adanya trauma pada susunan saraf pusat, 
  • Penderita Diabetes Insipidus dan Diabetes Mellitus tipe I, 
  • Adanya masalah di luar saluran kemih yang menyebabkan anak harus buang air kecil lebih sering, walaupun kandung kemih belum penuh, misalnya adanya hernia inguinalis (turun berok) pada anak yang menyebabkan penekanan pada kandung kemihnya, atau akibat konstipasi, 
  • Faktor psikologis, misalnya Anak yang terlalu dimanja akan menyebabkan keterlambatan perkembangan psikis (maturation delay), atau bisa karena stres akibat metode pola asuh yang terlalu keras bagi Anak, 
  • Faktor keturunan, 
  • Faktor lingkungan, misalnya Anak tidak diajarkan toillet training sehingga Anak tidak terbiasa pergi ke toilet karena biasanya sepanjang hari mengenakan diapers. 
Anak tidak terbiasa pergi ke toilet sendiri karena biasanya selalu dibantu oleh orang tua atau pengasuh. Anak tidak berani atau takut dimarahi saat menyatakan ingin buang air kecil pada orang tua ketika malam hari karena orang tua menerapkan pendidikan yang terlalu "keras" bagi Anak. 

Adanya kecemasan yang tinggi bagi Anak misalnya kelahiran adik baru, pindah ke rumah baru, pindah sekolah, jarang bertemu orang tua akibat kesibukan, atau pengasuh yang tidak cocok. Tempat tidur yang sama ketika Anak masih bayi. 

Lalu bagaimana cara mengatasi anak 5 tahun ke atas yang masih mengompol? 

Inilah cara mengatasi Anak 5 tahun ke atas yang masih mengompol. 


Jika masalah mengompol Anak 5 tahun ke atas terkait dengan kondisi medis maka segerakan konsultasikan hal ini pada dokter Anak Anda, Masalah psikologis Anak dapat kita atasi sendiri atau menyertakan ahli psikologi dapat juga dipertimbangkan jika orang tua frustasi. 

Inilah yang dapat kita lakukan : 

Yakinkan Anak bahwa mengompol adalah masalah umum dan beri dukungan padanya, jangan memarahinya, karena biasanya anak usia 5 tahun ke atas sudah sadar akan perasaan malu, merasa bersalah, dan memiliki kecemasan tersendiri. jika orang tua terlalu menekan Anak untuk segera berhenti mengompol dikhawatirkan Anak mengalami stres. 

Beri penjelasan bahwa Anda akan membantu Anak untuk belajar menguasai ketrampilan menahan, atau bisa bangun dari tidurnya ketika kandung kemihnya penuh. Ingatkan pada Anak bahwa biasanya Anak yang sudah besar tidak mengompol lagi karena mengompol itu sangatlah tidak nyaman. 

Baju dapat basah, bau, dan menimbulkan gatal ketika Anak mengompol. Perhatikan waktu kapan diapers Anak basah, catat jam-jam saat Anak biasanya mengompol,lalu latihlah Anak untuk bangun dan buang air kecil di toilet sekitar jam-jam tersebut. 

Lakukan beberapa malam dan perhatikan diapers pada pagi harinya, apakah Anak bisa menjaganya tetap kering. 

Bila Anak sudah terbiasa bangun tidur pada malam hari atau dapat menahan buang air kecil sampai pagi hari maka itulah tandanya Anak Anda sudah siap melepaskan diapers nya. 

Biasakan mengajarkan Anak untuk mandiri pergi ke toilet sendiri tanpa dibantu orang tua atau pengasuh. Jangan mempermalukan Anak jika masih mengompol dengan memberitahukan tentang kebiasaan mengompolnya di depan orang lain. 

Selain tidak ada manfaatnya bagi keberhasilan latihan, Anak pun dapat "mogok" dan sengaja untuk terus mengompol. Batasi jumlah cairan Anak pada malam hari terutama 1-2 jam sebelum tidur dan sebelum tidur biasakan Anak untuk buang air kecil terlebih dahulu. 

Doronglah Anak untuk bertanggung jawab atas kebiasaan mengompolnya dengan ikut membantu membersihkan atau mengganti alas tidur yang basah. Agar Anak mempunyai motivasi lagi untuk tidak mengompol malam berikutnya. 

Berikan pujian, pelukan, hadiah atau mainan stiker saat Anak berhasil tidak mengompol.Ini akan menumbuhkan semangat Anak untuk terus tidak mengompol dan mengetahui bahwa usahanya untuk berhenti mengompol tidak sia-sia. 

Memang dibutuhkan kesabaran ekstra saat Anda melatih anak untuk tidak mengompol lagi. Namun dengan dilakukan latihan rutin dan dukungan pada anak, upaya ini akan cepat berhasil. 

Pada banyak anak yang tidak dilatih, kebiasaan mengompol ini hilang dengan sendirinya saat usia remaja.
This entry was posted in

Selasa, 16 Februari 2021

Faktor Risiko Pengapuran Sendi : Osteoarthritis



DokDin.ID - Apakah Anda pernah mengalami kesulitan untuk berjalan karena sendi lutut Anda terasa sangat nyeri dan kaku? Jika Anda pernah mengalaminya, kemungkinan besar Anda mengalami pengapuran sendi Osteoartritis. 

 Pengapuran sendi Osteoartritis adalah suatu penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembangnya sangat lambat. Karena berkembangnya sangat lambat, Anda tidak akan menyadari bahwa selama ini telah terjadi proses pengapuran sendi osteoartritis. 

 Pengapuran sendi osteoartritis sebetulnya belum diketahui penyebab pastinya. Namun, terjadinya pengapuran sendi osteoartritis dikaitkan dengan berbagai faktor risiko seperti ketika mulai terjadi proses penuaan dalam diri Anda. 

 Dahulu, pengapuran sendi osteoartritis banyak dihubungkan pada lansia atau mereka yang berusia di atas 40 tahun, tapi ternyata, karena berbagai faktor risiko, pengapuran sendi osteoartritis dapat dialami sebelum usia 40 tahun. 

 Banyak orang tua yang tidak dapat berjalan walaupun hanya dari kamar tidur ke dapur akibat penyakit degeneratif ini. Pengapuran sendi osteoartritis benar-benar dapat sangat membatasi aktivitas Anda karena biasanya terjadi pada sendi-sendi lutut dan tangan, sendi yang menanggung suatu beban. 

 Meskipun penyebab pengapuran sendi osteoartritis belum diketahui, dengan mengetahui berbagai faktor risiko pengapuran sendi osteoartritis, Anda dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya pengapuran sendi osteoartritis. 

 Apa saja faktor risiko pengapuran sendi osteoartritis? 


 Inilah faktor risiko pengapuran sendi osteoartritis. 


 1. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : UMUR 


 Angka kejadian pengapuran sendi osteoartritis dengan bertambahnya umur, semakin meningkat. 

Tingkat keparahan pengapuran sendi osteoartritis pun meningkat seiring bertambahnya usia. 

 Pengapuran sendi osteoartritis hampir tidak pernah terjadi pada anak-anak, jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun, dan sering terjadi di atas 60 tahun. 

 2. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : JENIS KELAMIN


 Wanita lebih sering terkena pengapuran sendi osteoartritis lutut dan pengapuran sendi osteoartritis banyak sendi. Sedangkan laki-laki lebih sering terkena pengapuran sendi osteoartritis paha, pergelangan tangan, dan leher. 

 Secara keseluruhan, pada usia 40-45 tahun, angka kejadian pengapuran sendi osteoartritis pada wanita dan pria adalah kurang lebih sama. 

 Namun pada usia di atas 50 tahun (setelah menopause), frekuensi pengapuran sendi osteoartritis lebih banyak pada wanita jika dibandingkan pada pria. 

 Hal ini menunjukan bahwa adanya hubungan antara pengapuran sendi osteoartritis dengan hormon. 

 3. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : GENETIK

 Anak-anak perempuan yang memiliki ibu yang terserang pengapuran sendi osteoartritis, mempunyai kecenderungan terjadi pengapuran sendi osteoartritis pula sebanyak 3 kali lipat, jika dibandingkan dengan anak-anak perempuan yang dilahirkan dari seorang ibu tanpa pengapuran sendi osteoartritis. 

 Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan, dikatakan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada pengapuran sendi osteoartritis tertentu. 

 4. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : KEGEMUKAN
 


 Angka kejadian pengapuran sendi osteoartritis meningkat nyata akibat berat badan berlebih, baik pada wanita maupun pria. Kegemukan ternyata tidak hanya berpengaruh pada sendi yang menanggung beban seperti sendi lutut, namun juga mempengaruhi sendi lainnya, seperti sendi pada tangan, dada, dan bahu (sterno-klavikula). 


 5. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : PENYAKIT METABOLIK


 Seseorang dengan osteoartritis mempunyai risiko terjadinya hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung koroner yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang lain yang tanpa osteoartritis. 

 6. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARTHTRITIS) : CEDERA SENDI, PEKERJAAN, DAN OLAHRAGA 


 Pekerjaan yang menggunakan hanya satu sendi secara terus menerus misalnya tukang gado-gado yang selalu menggunakan sendi pergelangan tangannya cenderung terserang osteoartritis pergelangan tangan. Pekerjaan seperti tukang pahat cenderung terkena osteoartritis sendi bahu. 

 Cedera sendi, pekerjaan berat, dan bahkan olahraga yang mencederai sendi berkaitan dengan kejadian osteoartritis. 

 Beban benturan yang berulang dapat menjadi suatu faktor penentu lokasi terjadinya osteoartritis pada orang-orang yang memiliki kecenderungan terjadinya pengapuran ini. Misalnya pada riwayat genetik. 

 7. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) : KELAINAN PERTUMBUHAN 


 Kelainan bawaan dan kelainan pertumbuhan paha, misalnya pada penyakit Perthes atau penyakit dislokasi kongenital paha, telah dikaitkan dengan timbulnya osteoartritis pada usia muda. Mekanisme ini diduga berperan pada lebih banyaknya pengapuran paha pada laki-laki dalam ras tertentu. 

 8. FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) :  

KEPADATAN TULANG 


 Kepadatan tulang yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya pengapuran. Tulang yang padat atau keras tidak membantu saat tulang berbenturan ketika seseorang beraktivitas, akibatnya benturan ini mencederai sendi, bahkan sendi dapat robek. MIsalnya saja pada pelari yang berusia lanjut, pelari akan memiliki kepadatan tulang yang tinggi, sementara tulang rawan sendinya memiliki risiko terjadinya pengapuran ketika usia lanjut. 

 9.  FAKTOR RISIKO PENGAPURAN SENDI (OSTEOARHTRITIS) LAINNYA


 Derajat keparahan osteoartritis tidak selalu berjalan selaras dengan keluhan yang dirasakan penderita. Meskipun derajat osteoartritisnya sama, keluhan bisa saja lebih dirasakan mengganggu pada individu yang lain. 

 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada wanita dan orang gemuk cenderung lebih sering mempunyai keluhan seperti nyeri, pembengkakan sendi, keterbatasan/kekakuan sendi, dan perubahan anatomi sendi. 

 Seseorang yang merokok, menderita hipertensi, kulit putih, dan secara psikologis kurang baik, diduga meningkatkan timbulnya keluhan akibat osteoatritis yang dideritanya.
This entry was posted in

Sariawan di Lidah

Sariawan lidah

DokDin.ID - Sariawan di lidah sangat tidak nyaman dan menyakitkan. Sariawan di lidah menyebabkan aktivitas sehari-hari yang sederhana seperti makan, minum, sikat gigi, dan berbicara, menjadi sulit untuk dilakukan. Meskipun demikian, sariawan di lidah biasanya tidak berbahaya atau bisa sembuh sendiri dalam waktu satu sampai 2 minggu. 

 Sariawan di lidah berbentuk bulat atau oval, berwarna merah seperti tengah mengalami peradangan di sekitarnya. Dasar sariawan di lidah bisa berwarna keabuan, kehijauan, kekuningan, atau putih. Di sekitar sariawan di lidah tampak membengkak. 

Perlukah ke Dokter jika Anda mengalami sariawan di lidah ? 

 Pada umumnya, sariawan di lidah tidak membahayakan meskipun sangat nyeri. Namun, rasa nyeri yang tidak tertahankan ini, membuat orang datang berobat ke Dokter. 

Dokter biasanya akan memberikan resep obat antibiotika, anti nyeri, atau bahkan obat anti radang untuk Anda, agar rasa nyeri, pembengkakan, dan rasa tidak nyaman yang Anda rasakan akibat sariawan di lidah bisa berkurang. 

 Meskipun, sariawan di lidah biasanya tidak berbahaya, namun Anda tetap harus waspada jika sariawan di lidah tidak kunjung sembuh sampai 3 minggu atau lebih. Atau saat sariawan di lidah ini semakin lama bukan semakin sembuh, tapi justru semakin membesar dan semakin nyeri. 

 Sariawan yang tidak kunjung sembuh bisa jadi terjadi karena adanya infeksi bakteri atau virus, atau bisa juga disebabkan karena keganasan (kanker lidah). Sariawan di lidah yang disebabkan oleh infeksi bakteri memerlukan pengobatan antibiotika sedangkan yang disebabkan oleh virus biasanya akan sembuh sendiri dalam satu minggu. 

 Sariawan di lidah karena virus biasanya berupa manifestasi penyakit hand, foot, and mouth disease yang biasanya terjadi pada anak-anak di bawah usia 10 tahun, namun bisa juga terjadi pada orang dewasa. 

 Pada penyakit hand, foot, and mouth disease ini selain sariawan di lidah, gejala lain yang paling sering adalah terdapat pula bercak-bercak yang dapat melepuh pada tangan dan kaki, demam, dan sakit tenggorokan. 

 Infeksi virus selain hand, foot, and mouth disease yang bisa menimbulkan gejala sariawan di lidah adalah penyakit infeksi herpes simpleks. Sariawan di lidah yang disebabkan oleh herpes simpleks memerlukan pengobatan anti virus. 

 Selain infeksi bakteri dan virus, ternyata infeksi jamur Candida albicans pada mulut juga bisa menimbulkan sariawan di lidah. Sariawan di lidah karena jamur tentunya memerlukan obat anti-jamur. 

 Sariawan di lidah yang tak kunjung sembuh meskipun telah diobati kemungkinan adalah kanker lidah. 

Selain gejala sariawan di lidah, kanker lidah juga menunjukan gejala-gejala lainnya seperti: Adanya penebalan atau penonjolan di lidah atau daerah mulut sekitar lidah, Lidah terasa nyeri berkepanjangan, sampai-sampai nyerinya terasa hingga ke rahang, Terdapat bercak putih pada lidah bagian atas, gusi, tonsil, atau bagian mulut lainnya, Lidah mudah berdarah, Lidah sulit digerakkan, Lidah mati rasa, Sakit tenggorokan sehingga sulit untuk menelan atau mengunyah. 

Biasanya orang dengan kanker lidah memiliki faktor risiko seperti jenis kelamin paling banyak laki-laki, merokok, minum minuman beralkohol, kebersihan mulut tidak terjaga dengan baik, berumur 40 tahun atau lebih, mempunyai riwayat keluarga kanker lidah, dan daya tahan menurun seperti pada penyakit AIDS. 

 Selain kanker lidah, infeksi bakteri, virus, dan jamur, apa lagi yang menjadi penyebab terjadinya sariawan di lidah ? 

 Penyebab lain sariawan di lidah selain kanker lidah adalah : 
  •  Penyakit Autoimun seperti Lupus, 
  •  Leukoplakia (iritasi kronis yang terjadi pada lidah), 
  • Penyakit pencernaan seperti penyakit radang usus (kolitis), 
  • Penyakit infeksi sekunder dari gigi atau gusi yang menyebar ke lidah, 
  • Kebersihan mulut yang tidak terjaga dengan baik, 
  • Jarang sikat gigi, 
  • Kurang berhati-hati dalam menyikat gigi sehingga melukai lidah, 
  • Lidah yang tergigit saat mengunyah makanan, 
  • Memakan makanan yang keras dan tajam sehingga melukai lidah, 
  • Efek samping minum obat tertentu, dan 
  • Kontak lidah dengan bahan penambal gigi. 

Apa yang harus dilakukan jika mengalami sariawan di lidah? 

 Jika mengalami sariawan di lidah, maka Anda harus memperbaiki kebersihan mulut dengan cara rajin menyikat gigi dan berkumur-kumur dengan cairan khusus antiseptik untuk mulut. 

Saat mengalami sariawan di lidah tentu akan sangat nyeri untuk melakukan hal tersebut. Namun, Anda tetap harus menyikat gigi dan berkumur dengan cairan antiseptik mulut agar sariawan di lidah cepat sembuh. 

 Selain itu, Anda dapat minum obat anti nyeri untuk mengurangi ketidaknyamanan saat mengalami sariawan di lidah. 

Untuk mengkonsumsi obat antibiotik atau anti radang, Anda harus berkonsultasi dengan Dokter terlebih dahulu. Berhati-hatilah saat makan, jangan sampai lidah tergigit. 

Dan hindarilah makan makanan yang pedas dan asam karena dapat lebih mengiritasi sariawan di lidah. 

 Jika memang sariawan di lidah tidak kunjung sembuh selama 3 minggu atau lebih, segeralah mengunjungi Dokter gigi Anda, untuk mendapatkan diagnosa yang pasti, sehingga Anda dapat segera mendapat pengobatan yang tepat. 

 Jangan abaikan sariawan di lidah, terutama jika sariawan di lidah menetap atau semakin parah setelah 3 minggu. 

Sariawan di lidah yang semakin parah bisa ditandai dengan sariawan di lidah yang makin lama makin membesar, membengkak, semakin nyeri dan memerah.
This entry was posted in

Merawat Kulit Usia 30 Tahun

Merawat Kulit Usia 30 Tahun

DokDin.ID - Cara Merawat Kecantikan kulit usia 30 tahun ke atas tidaklah sama seperti kita berusia 20 tahun. Usia 30 tahun dikatakan sebagai batas usia di mana mulai terjadi proses penuaan. 

 Di mana saat usia kita 30 tahun, sudah mulai terjadi perubahan pada kulit akibat proses penuaan. Saat usia kita 30 tahun, terjadi perubahan hormon estrogen yang sangat berpengaruh pada kecantikan kulit, rambut, atau bahkan kuku, di mana pada usia ini terjadi penurunan hormon estrogen jika dibandingkan dengan saat usia 20 tahun. 

 Pada usia 20 tahun, hormon estrogen berada pada kadar tertinggi dalam tubuh wanita, sehingga pada usia 20 tahunlah, kecantikan kulit berada pada puncaknya. Seiring dengan penurunan kadar hormon ini, kecantikan kulit pada usia 30 tahun ke atas makin lama makin menurun. 

Dan jika kecantikan kulit tidak dirawat dengan baik, maka mudah terjadi tanda-tanda penuaan dini seperti kerutan, garis halus di sekitar mata, dan flek hitam. Tanda-tanda penuaan dini ini juga terjadi karena pada usia 30 tahun sudah mulai terjadi penurunan kadar kolagen dan elastin dalam lapisan kulit, yang membuat kulit mulai mengendur. 

 Selain itu, kadar asam hialuronat yang mempertahankan kelembaban kulit juga berkurang, sehingga kulit cenderung kehilangan kelembabannya dan menjadi kering. Keadaan kulit yang kehilangan kelembabannya memicu terjadinya kerutan atau garis halus pada wajah. 

 Jika Cara Merawat Kecantikan Kulit Usia 30 Tahun Ke Atas tidak sesuai, tanda-tanda penuaan dini akan semakin nyata. Seperti misalnya, wanita usia 30 tahun ke atas yang berkulit putih, akan lebih mudah terjadi flek atau bintik hitam pada wajahnya. 

Dan pada ia yang berkulit gelap, akan mulai tampak warna kulit yang tidak merata dan bertambah kusam. Cara merawat kecantikan kulit usia 30 tahun ke atas wajib dilakukan secara rutin untuk menghindari terjadinya kulit yang kendur akibat kehilangan elastisitasnya karena kadar kolagen dan elastin dalam kulit sudah mulai berkurang. 

 Bagaimana cara merawat kecantikan kulit usia 30 tahun ke atas? 

 Pada usia 20 tahun, kita tidak memerlukan pengelupasan atau eksfoliasi kulit karena kecepatan kulit untuk meregenerasi lapisan kulit yang mati pada usia 20 tahun terbilang cukup. 

 Pada usia 30 tahun, kemampuan kulit untuk meregenerasi lapisan kulit yang mati menjadi lapisan kulit yang baru sudah melambat, sehingga kita memerlukan proses eksfoliasi tambahan melalui perawatan kulit. 

 Salah satu perawatan kulit yang bertujuan untuk meng-eksfoliasi lapisan kulit mati adalah dengan memakai krim malam yang mengandung zat yang bisa membantu pengelupasan sel kulit mati ini. 

 Selain pemakaian krim malam, pengelupasan sel kulit mati juga bisa dilakukan dengan melakukan scrubbing minimal seminggu satu kali. 

 Atau melakukan perawatan mikrodermabrasi dan dermaroller dengan Dokter, untuk membantu mengelupas sel kulit mati, merangsang produksi kolagen, dan mengecilkan pori-pori yang besar sehingga kulit tampak lebih muda. 

 Untuk sehari-hari, cara merawat kecantikan kulit usia 30 tahun ke atas adalah sbb. 

 1. Sabun Pembersih Wajah 

 Gunakan sabun pembersih wajah yang mengandung AHA (Alpha Hydroxi Acid) yang dapat membantu pengelupasan sel kulit mati sehingga kulit lebih cerah dan halus. 


 2. Krim Pagi Gunakan krim pagi yang dapat memberikan perlindungan kulit terhadap sinar UV. 

Anda dapat memilih antara tabir surya (sunscreen) atau sunblock , sesuai dengan kebutuhan Anda. Di usia 30 tahun, lebih baik Anda memilih krim pagi yang juga mengandung pelembab untuk mencegah kekeringan pada kulit, misalnya pelembab yang mengandung asam hialuronat untuk mengembalikan kelembaban kulit Anda. 


 3. Krim Malam 

 Krim malam yang mengandung asam retinoat-turunan vitamin A, dapat membantu pengelupasan sel kulit mati sehingga membantu kecepatan kulit untuk beregenerasi.