Demam Tifoid



DokDin.ID - Penyakit tifus (demam tifoid) tentu bukan suatu penyakit baru yang masih asing di dengar, sebaliknya penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit yang banyak menimpa keluarga atau kerabat kita yang sudah akrab sekali kita dengar namanya. 

        Penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang usus halus. Penyakit tifus (demam tifoid) hampir sama gejalanya dengan penyakit paratifus (demam paratifoid) hanya saja kuman penyebabnya yang berbeda, meskipun tampak mirip. 

        Apakah penyebab penyakit tifus (Demam Tifoid) ? 

    Penyebab penyakit tifus (demam tifoid) adalah kuman/bakteri Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A, Salmonella paratyphi B, dan Salmonella paratyphi C.  

        Penyebaran Penyakit Tifus (Demam Tifoid) Penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit endemis (banyak ditemukan) di Indonesia. Karena penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit yang menular maka pernah suatu ketika di suatu daerah di negara kita, penyakit tifus (demam tifoid) ini menjadi wabah penyakit. 

        Penyakit tifus (demam tifoid) ini biasanya mudah ditemukan di suatu daerah secara terpencar-pencar. Meskipun penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit menular, namun sayangnya sumber penularannya biasanya tidak ditemukan. Sumber penularan penyakit tifus (demam tifoid) ini terutama berasal dari makanan dan minuman yang terkontaminasi dengan kuman Salmonella typhi. 

        Mengapa makanan dan minuman dapat terkontaminasi dengan kuman Salmonella typhi ? Jadi kuman Salmonella typhi ini terdapat dalam tinja dan air kemih individu yang terkena penyakit tifus (demam tifoid). 

            Ketika tempat pembuangan tinja dan air kemih ini mencemari tempat sumber makanan misalnya kebun sayuran, maka kemungkinan besar, sayuran yang dipanen dari kebun tersebut tercemar oleh kuman Salmonella typhi. Jika sayuran tidak dicuci dan dimasak dengan baik, kuman Salmonella typhi ini masih hidup dan jika sayuran tersebut termakan oleh kita, bisa menjadi penyebab penyakit tifus (demam tifoid) saat daya tahan tubuh kita sedang menurun. 

            Kuman Salmonella typhi bukan saja terdapat dalam tinja dan air kemih individu yang sedang sakit tifus (demam tifoid) tapi bisa juga terdapat dalam tinja dan air kemih individu yang sudah sembuh dari penyakit tifus (demam tifoid) ini. Individu yang sudah sembuh dari penyakit tifus (demam tifoid) tapi masih mengandung kuman Salmonella typhi dalam tinja dan air kemihnya disebut carrier. Biasanya kuman Salmonella typhi bertahan dalam tinja dan air kemih carrier ini selama satu tahun atau bahkan lebih. 

            Makanan yang dapat tercemar kuman Salmonella typhi bukan hanya sayuran saja, namun jenis makanan lain misalnya ikan, daging, buah-buahan dapat tercemar kuman ini jika dicuci dengan air yang tercemar Salmonella typhi atau jika disimpan pada tempat penyimpanan yang juga tercemar kuman ini. Begitulah kira-kira, perjalanan kuman Salmonella typhi sampai menjadi biang penyakit tifus (demam tifoid) pada manusia. 

            Faktor Risiko Penyakit Tifus (Demam Tifoid) 

1. Lingkungan 

Siapa saja dapat terserang penyakit tifus (demam tifoid) namun individu yang tinggal di lingkungan yang kurang bersih, sanitasi kurang baik, kebiasaan makan makanan di pinggir jalan yang kebersihannya kurang baik, serta daya tahan tubuh yang sedang menurun dapat mempermudah terjadinya penyakit tifus (demam tifoid) ini. 

2. Umur 

Di daerah yang banyak penderita penyakit tifus (demam tifoid), biasanya penderita penyakit tifus (demam tifoid) adalah anak-anak. Hal ini berhubungan pada daya tahan tubuh anak-anak yang belum terbentuk dengan sempurna. Sedangkan pada orang dewasa, penyakit tifus (demam tifoid) ini sering menimbulkan gejala-gejala infeksi ringan saja seperti mual, muntah, demam malam hari, yang bisa hilang dengan sendirinya dan kemudian menjadi kebal terhadap penyakit ini. *Dengan catatan, daya tahan tubuh harus dalam kondisi prima. Angka kejadian penyakit tifus (demam tifoid) adalah 70-80 % pada anak usia 12 tahun ke atas. Artinya, dari 100 orang yang kontak dengan kuman Salmonella typhi, sebanyak 70-80 orang anak usia 12 tahun ke atas, terserang penyakit tifus (demam tifoid). Sedangkan, angka kejadian penyakit tifus (demam tifoid) pada individu usia 30-40 tahun hanya 10-20%. Dan pada dewasa usia 40 tahun ke atas, hanya 5-10%. 

3. Jenis kelamin 

Tidak ada perbedaan yang nyata terhadap jenis kelamin, apakah laki-laki atau perempuan yang lebih dominan untuk terserang penyakit tifus (demam tifoid). Kemungkinan terjadinya tidak berdasarkan jenis kelamin. 

4. Musim 

Penyakit tifus (demam tifoid) dapat ditemukan sepanjang tahun. Lalu bagaimanakah perjalanan kuman Salmonella typhi ini saat masuk ke dalam tubuh manusia untuk kemudian menimbulkan penyakit tifus (demam tifoid) ? 

Kuman Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh manusia saat makanan dan minuman yang dikonsumsi individu tersebut sudah tercemar. Saat masuk makanan dan minuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan mati, namun jika daya tahan tubuh individu tersebut kurang prima, maka sebagian kuman Salmonella typhi akan masuk ke dalam usus halus. 

Kuman ini kemudian menembus lapisan usus halus, memasuki aliran getah bening, dan akhirnya berhasil masuk ke pembuluh darah dan mengikuti alur sirkulasi darah. Pada saat kuman, mampu menembus usus halus, dapat terjadi perlukaan dan perdarahan pada usus halus. Dan gejala-gejala penyakit tifus (demam tifoid) mulai timbul. 

Gejala Penyakit Tifus (Demam Tifoid) Gejala-gejala penyakit tifus (demam tifoid) ternyata baru muncul setelah individu tersebut sudah terinfeksi selama 10-14 hari (masa tunas 10-14 hari). 

Gejala penyakit tifus (demam tifoid) yang biasanya muncul pada minggu pertama adalah sbb ; Demam sore-malam hari, Nyeri kepala, Pusing berputar, Nyeri otot (biasanya di otot betis dan leher belakang), Tidak nafsu makan, Mual, Muntah, Buang air besar tidak lancar, Kadang-kadang diare, Perasaan tidak enak di perut, dan Batuk . 

Gejala penyakit tifus (demam tifoid) yang biasanya muncul pada minggu kedua adalah sbb ; Demam, Lidah tampak putih/kotor, Pembesaran hati (hepatomegali), Pembesaran limpa (splenomegali), Bahkan sampai ada gejala psikis seperti mengacau, selalu mengantuk (somnolen), atau koma. Penyakit tifus (demam tifoid) jika tidak diobati dengan segera dapat menimbulkan komplikasi yang fatal (dapat menimbulkan kematian). 

Mengingat hal itu, jika anggota keluarga kita menderita demam lebih dari tiga hari, yang tidak kunjung turun dengan pengobatan biasa, segeralah konsultasikan pada Dokter. 

Apa saja komplikasi penyakit tifus (demam tifoid) yang dapat timbul ? 

Penyakit tifus (demam tifoid) dapat menimbulkan komplikasi yang fatal berupa kematian biasanya jika daya tahan tubuh terlalu lemah misalnya pada bayi, keadaan kekurangan gizi , atau telah menderita penyakit lainnya yang menyerang daya tahan tubuh seperti HIV. 

Komplikasi penyakit tifus (demam tifoid) yang dapat timbul pada usus adalah sbb ; Perdarahan Perforasi (Usus halus berlubang), dan Ileus paralitik (Usus tidak bisa berkontraksi sehingga penderita penyakit tifus tidak dapat buang air besar atau bahkan buang gas). 

Sedangkan komplikasi penyakit tifus (demam Tifoid) yang terjadi di luar usus halus adalah sbb ; 

  1. Komplikasi pada jantung 
    • kegagalan jantung untuk melakukan peredaran darah di seluruh tubuh
    • radang otot jantung (miokarditis)
  2. Komplikasi pada darah 
    • anemia 
    • penurunan kadar trombosit darah (trombositopenia)
  3. Komplikasi paru-paru 
    • pneumonia (radang paru-paru)
    • empiema (mengumpulnya nanah/kuman pada jaringan paru)
    • pleuritis (radang selaput pleura)
  4. Komplikasi hati dan kandung empedu 
    • hepatitis
    • kolestitis (radang pada kandung empedu)
  5. Komplikasi saraf dan kejiwaan 
    • gejala kebingungan (delirium)
    • meningitis (radang selaput otak) 
    • gangguan jiwa (psikosis)
  6. Komplikasi tulang 
    • radang tulang
    • radang sendi (artritis)
  7. Komplikasi ginjal 
    • radang pada ginjal (glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis).
Pengobatan Penyakit Tifus (Demam Tifoid) Mengetahui bahwa komplikasi penyakit tifus (demam tifoid) ini bukan main-main, maka penderita penyakit tifus (demam tifoid) memang harus dirawat dengan penuh perhatian. 

Mulai dari tirah baring baik di rumah atau di rumah sakit, pengobatan antibiotik yang teratur, dan pemilihan diet makanan yang tepat. 

1. Tirah Baring 

Biasanya jika seseorang terserang penyakit tifus (demam tifoid) dan keadaan umumnya sudah mulai menurun, maka ia akan dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif, terutama jika gejala muntah-muntah sudah hebat sehingga makanan tidak lagi dapat masuk melalui mulut. Tirah baring perlu dilakukan sampai 7 hari bebas demam untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus. 

2. Antibiotik 

Pengobatan untuk membunuh kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi adalah antibiotika. Antibiotika biasanya akan diresepkan oleh Dokter untuk beberapa hari lalu Dokter akan menganjurkan untuk kontrol kembali jika Anda melakukan rawat jalan. Tujuan melakukan kunjungan Dokter kembali adalah bahwa Dokter perlu melihat apakah kondisi pasien sudah terbebas dari demam untuk kemudian meresepkan obat antibiotika selama 7 hari setelah bebas demam. Pemberian antibiotik dilakukan dengan cara diminum (oral) jika penderita tidak muntah-muntah, atau diberikan dengan cara disuntik (intravena) ke pembuluh darah atau melalui jalur infus jika penderita penyakit tifus (demam tifoid) dirawat di rumah sakit. Ingat, minumlah obat antibiotika yang diresepkan Dokter sampai habis untuk mencegah kuman Salmonella menjadi kebal terhadap antibiotika tersebut dan supaya penyakit tifus (demam tifoid) dapat segera disembuhkan dengan total. 

3. Pemilihan Diet Makanan 

Diet makanan yang baik untuk penderita penyakit tifus (demam tifoid) adalah makanan lunak (bubur) dan diet rendah serat. Hindarilah sayuran dan buah yang mempunyai serat kasar. 

Setiap orang yang terinfeksi Salmonella, akan mengeluarkan kuman tersebut melalui tinja dan air kemihnya selama 3 bulan setelah sembuh. Jika setelah sembuh selama 3 bulan, tetapi individu tersebut masih mengeluarkan kuman Salmonella dalam tinja dan air kemihnya, maka mereka disebut sebagai carrier. Carrier ini memegang peranan yang cukup penting dalam alur penularan penyakit tifus (demam tifoid) sehingga penyakit tifus (demam tifoid) dapat mudah ditemukan di manapun.