Minggu, 22 November 2020

Bawang Putih : Apa Saja Manfaatnya?


DokDin.ID - Bumbu dapur yang hampir selalu ada di setiap menu masakan kita ini, bawang putih, sangat bermanfaat bagi kesehatan. Bukan hanya sekedar bumbu pelengkap masakan, bawang putih, yang mempunyai nama latin Allium sativum albus, sudah tak diragukan lagi kegunaannya dalam kesehatan dan kecantikan. 

 Fakta ini sudah ribuan tahun diakui sepanjang sejarah. 

 Hippocrates, Bapak Kedokteran Dunia, sudah menyebutkan penggunaan bawang putih untuk berbagai penyakit. Bahan aktif yang terkandung dalam bawang putih ini adalah Allicin , senyawa sulfur, yang dihasilkan dengan cara mengunyah bawang putih segar. 

 Saat dikunyah, bawang putih ini akan mengeluarkan senyawa sulfur aktif lainnya seperti ajoene, sulfida alil, dan vynil dithiins. 

 Bawang putih sudah diekstraksi kira-kira sejak 7000 tahun yang lalu. 

Jadi Apa Saja Manfaat Bawang Putih?

Adapun manfaat bawang putih adalah sebagai berikut: 
  1. anti peradangan, 
  2. anti iritasi, 
  3. menstimulasi kemampuan kulit untuk meregenerasi kerusakan, 
  4. antibiotika, 
  5. anti hipertensi, 
  6. anti dislipidemia, 
  7.  anti aging, dan 
  8. banyak kegunaan bawang putih lainnya. 
Salah satu studi meneliti tentang efek antibiotika dari bawang putih dengan melakukan pencampuran bawang putih dan sayuran yang tercemar oleh bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. 

 Hasil penelitian menunjukan bahwa bakteri yang terdapat dalam sayuran tersebut berkurang jumlahnya dengan pemberian bawang putih. Semakin banyak konsentrasi bawang putih yang diberikan, semakin berkurang jumlah bakteri tersebut. 

 Dikatakan bahwa memasak bawang putih selama 30 menit dengan air yang mendidih, atau dengan suhu 100 derajat celcius, akan merusak kemampuan antibiotika bawang putih. Sehingga bawang putih yang terlalu matang tidak lagi mampu membunuh kuman. 

 Uji klinik yang lain, yang telah diterangkan dr.Husniah Rubiana Th.Akib, M.Kes, Sp.FK, Sp.Ak(K), meneliti pemberian umbi bawang putih sebanyak 10 gram setelah makan pagi, selama 2 bulan berturut-turut akan menurunkan kadar kolesterol sebanyak 15% pada pasien dengan kadar kolesterol total 160-250 mg/dl. 

 30 gram umbi bawang putih yang dikonsumsi oleh pasien dengan berat badan 61 Kg dan mempunyai kadar kolesterol total 298 mg/dl, mengalami penurunan sebanyak 18 % setelah mengkonsumsi bawang putih selama 8 bulan. 

 Pada uji klinik lain, pasien dengan kadar kolesterol total 220-290 mg/dl mengalami penurunan kadar kolesterol total sebesar 6,1% dan kadar LDL (kolesterol jahat) sebesar 4%, setelah mengkonsumsi bawang putih 7,2 gram setiap hari selama 6 bulan. 

 Dapat disimpulkan bahwa efektivitas bawang putih sebagai antibiotika dan anti kolesterolemia memang terbukti secara klinis. Uji klinik juga menunjukan bahwa dengan konsumsi bawang putih dapat menghambat terjadinya penggumpalan darah yang dapat berujung pada stroke. Jadi bawang putih juga bermanfaat untuk mencegah terjadinya stroke. 

 Kemampuan anti kolesterol dari bawang putih ini didapat dari kandungan diallyl sulfide dan trisulfide yang menghambat mobilisasi lemak ke dalam sirkulasi darah. 

 Selain senyawa aktif, bawang putih mengandung 200 senyawa tambahan , di antaranya enzim, flavonoid, vitamin dan mineral, dan asam amino. 

 Kemampuan bawang putih menurunkan kadar kolesterol total, menurunkan kadar trigliserida, menurunkan kolesterol jahat LDL, dan dapat meningkatkan kadar kolesterol baik HDL, sangat membantu mencegah terjadinya penyakit jantung. 

 Hasil penelitian lain juga menyimpulkan bahwa di samping manfaat bawang putih yang telah disebutkan di atas, bawang putih juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, menyeimbangkan kadar gula darah, menjaga pencernaan, dan menetralisir racun. 

 Bawang putih dalam bentuk ekstrak sudah banyak diproduksi oleh banyak perusahaan herbal di seluruh dunia untuk memudahkan konsumen yang tidak tahan akan rasa dan aroma bawang putih jika mengkonsumsinya secara langsung.
This entry was posted in

Masih Normalkah Nyeri Haid Anda?



DokDin.ID - Apakah Anda sering mengalami nyeri haid? Masih normalkah nyeri haid Anda? 

Wanita setidaknya pernah mengalami nyeri haid beberapa kali selama 'tamu' bulanan datang. Biasanya nyeri haid dirasakan pada hari pertama sampai hari ketiga periode haid kala haid sedang dalam volume yang besar . 

 Namun, secara ilmiah, wanita yang telah menikah sudah terpapar zat yang bernama prostaglandin yang terdapat pada sperma. Zat prostaglandin menimbulkan sensasi nyeri pada rahim. Sensasi nyeri akibat zat prostaglandin ini semakin lama semakin membuat wanita bisa beradaptasi akan berbagai macam nyeri, salah satunya adalah adaptasi terhadap nyeri haid. Sehingga biasanya wanita yang sudah menikah tidak lagi merasakan nyeri haid seperti saat sebelum menikah. 

 Juga pada wanita yang sudah melahirkan,persalinan membuat wanita terpapar zat prostaglandin dalam jumlah yang sangat sangat banyak, sehingga wanita yang sudah pernah melahirkan sebagian besar sudah tidak merasakan nyeri haid. 

 Masih normalkah nyeri haid Anda? 

 Sebenarnya, nyeri haid sifatnya sangat subjektif. 

Pada beberapa wanita nyeri haid tidak mengganggu aktivitasnya, namun pada beberapa wanita yang lain dapat sangat mengganggu. 

Jika nyeri haid yang Anda rasakan tidak biasa seperti sangat mengganggu aktivitas sehari-hari padahal sebelumnya tidak, nyeri haid yang diikuti oleh perdarahan yang sangat banyak sampai berganti-ganti pembalut berkali-kali dalam jangka waktu kurang dari 4 jam , dan haid lebih dari 7 hari, segeralah berkonsultasi dengan Dokter kandungan. 

 Nyeri haid yang teramat sangat sampai mengganggu aktivitas sehari-hari bisa terkait dengan beberapa gangguan organ reproduksi, meskipun nyeri haid ini tidak selalu berkaitan dengan penyakit tertentu. 

Gangguan organ reproduksi yang bisa saja terjadi dengan ditandai oleh nyeri haid adalah endometriosis, adenomiosis, kehamilan di luar kandungan, penyakit radang panggul (Pelvic Inflammatory Disease), dan kista ovarium (indung telur). 

 Terlepas dari masih normalkan nyeri haid Anda atau tidak, ternyata negara Jepang sangat memperhatikan masalah nyeri haid. Jepang adalah negara pertama yang memberlakukan cuti haid bagi pekerja wanita yang sedang menstruasi. Cuti haid sudah mulai berlaku di Jepang sejak tahun 1947. 

Wanita muda yang mengalami nyeri haid sebagian besar tidak didasari oleh penyakit, apalagi pada wanita yang belum menikah. 

Hal tersebut disebabkan karena wanita lajang belum terbiasa terpapar zat Prostaglandin yang dikeluarkan pada saat terjadi menstruasi.

Pada periode menstruasi, zat Prostaglandin ini berguna untuk membuat rahim berkontraksi, meluruhkan dinding rahim, dan mendorong darah haid ke luar. Aktivitas prostaglandin ini menimbulkan sensasi nyeri. Karena ambang batas nyeri akibat Prostaglandin sudah meningkat pada wanita yang sudah menikah yang sudah terbiasa terpapar zat Prostaglandin, biasanya wanita yang sudah menikah tidak lagi merasakan nyeri haid seperti saat sebelum menikah. 

 Dan lagi, pada wanita yang sudah melahirkan, nyeri haid biasanya akan berkurang jika dibandingkan ketika wanita tersebut masih lajang, karena pada saat melahirkan, wanita akan terpapar zat Prostaglandin dalam jumlah yang banyak. 

 Masih normalkah nyeri haid Anda? 

 Nyeri haid biasanya masih normal jika dirasakan pada : 
  • Wanita dengan berat badan yang kurang, 
  • Menstruasi yang banyak, 
  • Haid tidak teratur, 
  • Usia wanita kurang dari 12 tahun saat pertama kali haid, dan 
  • Kurang olahraga. 
Untuk mengatasi nyeri haid yang bukan karena penyakit tertentu, Anda dapat mengkonsumsi obat anti nyeri, vitamin E, B1, dan B12 biasanya sangat membantu mengatasi nyeri haid ini. 

 Beberapa wanita mendapatkan efek positif dari latihan yoga, terapi akupuntur, dan pijat relaksasi untuk mengurangi nyeri haid. 

 Herbal TCM (Traditional Chinese Medicine) biasa menggunakan bubuk jahe untuk mengurangi nyeri haid. 

 Bagaimana dengan Anda? Cara apa yang Anda lakukan untuk mengurangi nyeri haid?

Faktor Risiko Terjadinya Bunuh Diri?


DokDin.ID - Kita sering mendengar berita seseorang melakukan percobaan bunuh diri. Saya sering membayangkan bagaimana perasaan anggota keluarganya mengetahui kenyataan ini. Jika beruntung, percobaan bunuh diri tidak berhasil dan pelakunya masih bisa diselamatkan. 
Sebenarnya mengapa seseorang melakukan usaha bunuh diri ? 

Apa saja faktor risikonya? 

 Bunuh diri yang klasik terjadi dilakukan oleh mereka yang berada di umur pertengahan, lajang, berjenis kelamin laki-laki, tidak memiliki pekerjaan, baru saja kehilangan sesuatu yang berharga, dan tidak memiliki dukungan psikis dan sosial dari keluarga. 

Namun, saat ini angka kejadian bunuh diri semakin meningkat terjadi pada usia muda, wanita, dan biasanya melibatkan seseorang yang dicintai. Usaha bunuh diri terbanyak pada usia 24-44 tahun. 

Namun jika usaha bunuh diri dilakukan pada usia 55-64 tahun, biasanya ia sungguh-sungguh ingin bunuh diri. 

Kebanyakan seseorang yang melakukan usaha bunuh diri sebenarnya tidak benar-benar ingin membunuh dirinya sendiri. 

Ada faktor kebimbangan (ambivalensi), ketidakmampuan menghadapi masalah, krisis kegelisahan emosi, dan rasa ingin diperhatikan. 

 Selain itu, usaha bunuh diri dapat juga dipicu oleh tekanan emosional dan kenyataan hidup yang tidak berpihak, yang paling utama adalah faktor keimanan yang lemah kepada Sang Maha Pencipta. 

 Faktor Risiko Bunuh Diri yang terjadi pada seseorang adalah sbb. 

 1. Faktor Risiko Terjadinya Bunuh Diri : DEPRESI 


 Pada suatu penelitian, ternyata 3/4 orang yang bunuh diri menderita depresi sebelumnya. Biasanya orang yang depresi berhubungan erat dengan keputusasaan, dan keputusasaan ini yang mendasari seseorang mengambil tindakan untuk mengakhiri hidupnya. 

 Sebanyak 2/3 dari mereka yang mengalami depresi, sebelum mengambil tindakan bunuh diri akan menceritakan maksudnya ini kepada orang lain. Jangan abaikan ketika teman terdekat Anda mengutarakan hal ini kepada Anda. 

 Sementara tanda-tanda klinis yang terlihat sebelum ia melakukan usaha bunuh diri adalah : 
  • Gangguan biologis : gangguan tidur, gangguan makan, penurunan berat badan, keluhan sakit kepala, gangguan pencernaan, dan rasa lelah, 
  • Gangguan emosi : gangguan suasana hati (mood) seperti sebentar-sebentar menangis, sedih, mudah tersinggung, gelisah, apatis, terlihat tidak memiliki harapan hidup. 
  • Gangguan kognitif : rasa rendah diri, rasa bersalah, kehilangan rasa empati terhadap keluarga, dan keinginan bunuh diri. 

2. Faktor Risiko Terjadinya Bunuh Diri : TEKANAN EMOSI & RASA PUTUS ASA 

 Adanya tekanan emosi dari dalam dirinya sendiri atau dari lingkungan adalah faktor pencetus seseorang untuk melakukan bunuh diri. 

 Ketegangan emosional seperti tengah menghadapi perceraian, rasa malu akibat perceraian yang berlebihan, penolakan dari orang yang dicintai, atau kematian seseorang yang dicintai bisa saja menimbulkan keputusasaan dalam jiwa seseorang. 

 Tambahan lagi jika ada masalah ekonomi yang berat seperti terlilit hutang, tagihan hutang makin lama makin membengkak berikut bunga hutangnya, kehilangan pekerjaan, kehilangan tempat tinggal (kebakaran), dan masalah penyakit medis yang tak kunjung sembuh. 

 Setiap orang yang percaya bahwa kesulitan yang menimpa dirinya tidak ada kemajuan, biasanya merupakan risiko tinggi untuk melakukan bunuh diri. 

3. Faktor Risiko Terjadinya Bunuh Diri :KELAINAN JIWA

 Keadaan panik akut pada skizofrenia (gangguan waham, halusinasi pendengaran) akan memperberat kecenderungan penderita skizofrenia untuk bunuh diri. 

Pada skizofrenia terdapat halusinasi pendengaran, di mana ia berhalusinasi mendengar kata-kata yang menyuruh dirinya untuk bunuh diri. 

4. Faktor Risiko Terjadinya Bunuh Diri : KELAINAN KEPRIBADIAN 

 Sebagian orang yang berkepribadian mudah histeris dan impulsif (bertindak cepat/spontan mengikuti gerakan hati) termasuk dalam kategori yang paling sering mempunyai kecenderungan untuk melakukan bunuh diri jika tidak berhasil menghadapi kenyataan berat yang menimpa dirinya. 

 Kelainan kepribadian yang menimbulkan kecenderungan seseorang untuk bunuh diri biasanya berada dalam lingkungan keluarga yang kacau balau, misalnya gangguan identitas, alkoholisme dalam keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, atau anak hasil dari pernikahan incest (pernikahan sedarah). 

5. Faktor Risiko Terjadinya Bunuh Diri : OBAT & ALKOHOL 


 15-25% pecandu alkohol akan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Kegelisahan dari dalam diri sendiri yang dipengaruhi oleh zat etanol dalam minuman beralkohol dapat memicu munculnya usaha bunuh diri. 

 Selain itu, beberapa jenis obat-obatan yang mempengaruhi pikiran atau emosi seseorang, bisa juga menjadi faktor pencetus adanya keinginan untuk bunuh diri. 

6. Faktor Risiko Terjadinya Bunuh Diri : KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA 


 Kekerasan dalam rumah tangga baik secara fisik atau psikis meningkatkan risiko terjadinya bunuh diri. Bentuk kekerasan lain dalam rumah tangga misalnya pembunuhan, yang sebenarnya diprovokasi oleh korban pembunuhan tersebut, akan memicu tindakan bunuh diri bagi pelaku pembunuhan karena rasa bersalah, tidak sanggup menanggung risiko, dan tidak dapat menahan rasa malu akibat membunuh. 

Pada kekerasan dalam rumah tangga yang memicu tindakan bunuh diri, tidak semua orang yang bunuh diri terlihat depresi. 

7. Faktor Risiko Terjadinya Bunuh Diri : PERNAH MENCOBA BUNUH DIRI SEBELUMNYA 

Seseorang yang sebelumnya pernah mencoba untuk membunuh dirinya untuk dapat mengatasi rasa takut, mencari perhatian sekitar, dan ingin mencari jalan pintas untuk menghadapi masalah, biasanya akan mengulangi bunuh diri pada suatu saat. 

Secara statistik, percobaan bunuh diri yang tidak berhasil sebelumnya biasanya justru akan meningkatkan risiko terhadap adanya upaya bunuh diri yang sempurna, jika masalah mental yang mendasari tidak segera diobati. 


8. Faktor Risiko Terjadinya Bunuh Diri : RIWAYAT BUNUH DIRI DALAM KELUARGA 

Jika terdapat anggota keluarga yang meninggal karena bunuh diri, biasanya akan meninggalkan khayalan bagi keluarga yang ditinggalkan untuk bisa berkumpul dengan keluarga yang dicintainya, yang akhirnya memicu seseorang melakukan tindakan bunuh diri. 

Meskipun kebanyakan orang yang mencoba untuk bunuh diri itu sebenarnya tidak benar-benar ingin membunuh dirinya, namun setiap usaha bunuh diri yang tidak berhasil, tidak boleh dianggap bahwa tindakan tersebut hanya bertujuan untuk mencari perhatian semata. 

Risiko untuk mengulangi tindakan bunuh diri tetap ada pada orang yang sebelumnya mencoba untuk bunuh diri. 

 Berkonsultasi dengan Ahli Jiwa adalah solusi yang tepat untuk mereka yang pernah berusaha untuk bunuh diri agar mereka dapat terbantu menghadapi masalah yang sedang dihadapinya dan juga mendapatkan pengobatan yang tepat jika ada gangguan kejiwaan yang mendasari tindakan bunuh diri tersebut. 

 Jika dalam keluarga dipenuhi keimanan dan ketakwaan pada Tuhan Sang Pencipta disertai rasa saling mencintai, saling memperhatikan, dan saling mengasihi di antara anggota keluarga, hal seperti bunuh diri ini bisa dihindari sejauh mungkin.

Minggu, 15 November 2020

Berbagai Penyakit Yang Timbul Pada Lansia


DokDin.ID - Penyakit-penyakit pada usia lanjut (lansia) sering terkait dengan fenomena alami manusia di mana setelah terjadi kelahiran, perkembangan dan pertumbuhan sampai batas tertentu, lalu setelah itu timbul kemunduran fungsi organ, dan akhirnya terjadi kematian. 

 Terjadinya berbagai penyakit pada usia lanjut (lansia) adalah berdasarkan proses kemunduran fungsi organ saat manusia menempuh perjalanan hidupnya menuju kematian. 

 Berbagai penyakit pada usia lanjut (lansia) bisa dicegah secara ilmiah menurut ilmu kedokteran untuk menghambat terjadinya kemunduran fungsi organ yang harapannya bisa memperpanjang harapan hidup Anda. Tapi ilmu kedokteran secanggih apapun tidak dapat menandingi takdir-Nya. Kenyataannya, umur kita yang sudah digariskan oleh takdir tidak bisa diperpanjang dengan berbagai pola hidup sehat yang sifatnya preventif terhadap berbagai penyakit pada usia lanjut (lansia) ini. 

 Upaya pencegahan penyakit pada usia lanjut (lansia) hanya bisa mencegah timbulnya penuaan dini dengan cara menghambat sampai semaksimal mungkin agar tidak terjadi berbagai kemunduran fungsi organ yang dapat menimbulkan penyakit kronis, yang bisa mempercepat kematian. 

 Upaya pencegahan penyakit pada usia lanjut (lansia) tidak bisa memperpanjang rentang hidup alami atau yang disebut Natural Life Span. Karena Natural Life Span kita adalah kuasa-Nya. Namun, siapa sih yang ingin mengalami penyakit kronis menjelang usia lanjut (lansia)? 

Kita semua inginnya selalu sehat sampai kematian menjemput kita, ya, kan. Nah, Semoga dengan mengetahui apa saja penyakit pada usia lanjut (lansia) yang sering terjadi dan cara untuk mencegahnya, Anda bisa mengatur pola hidup sehat dan terhindar dari berbagai penyakit pada usia lanjut (lansia) ini, ya. 

Menurut Anda, apa saja penyakit pada usia lanjut (lansia) yang sering terjadi? 

Inilah penyakit-penyakit pada usia lanjut (lansia) yang sering terjadi. 

 1. Hipertensi 

 Penyakit hipertensi pada usia lanjut (lansia) bisa dianggap biasa oleh kebanyakan orang yang belum paham tentang kesehatan. Kebanyakan dari mereka mengatakan jika tekanan darah 150/90 mmHg dialami oleh lansia, maka hal itu sangatlah biasa. 

 Hipertensi pada lansia dianggap biasa karena pada lansia telah terjadi perubahan fungsi tubuh terkait proses penuaan, sehingga menurut mereka, normal saja jika terjadi peningkatan tekanan darah pada lansia. 

 Padahal kenyataannya, tekanan darah tinggi 150/90 mmHg pada lansia dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi akibat tekanan darah yang tidak normal tersebut seperti penyakit jantung dan stroke. 

 2. Penyakit Jantung Koroner 

 Timbulnya penyakit jantung koroner biasa dikaitkan dengan seseorang yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dengan baik dan memiliki profil lipid darah yang buruk. 

 Penyakit jantung koroner bisa disebabkan akibat adanya sumbatan akibat penumpukan lemak pada pembuluh darah yang keluar atau menuju jantung. Akibat adanya sumbatan lemak pada pembuluh darah jantung timbul gangguan peredaran darah yang keluar masuk jantung. 

Akibatnya jantung kesulitan mendapatkan oksigen untuk meregenerasi sel-sel yang rusak. Dengan demikian, jantung mudah mengalami kerusakan dan akhirnya muncul penyakit jantung koroner. 

 3. Stroke 

 Stroke pada usia lanjut (lansia) paling banyak disebabkan oleh tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dan penyakit kolesterol yang biasanya tidak disadari tanpa Anda melakukan cek darah untuk kolesterol. 

 Tekanan darah tinggi dapat menekan pembuluh darah dari dalam sehingga pembuluh darah dapat pecah. Pecahnya pembuluh darah dalam otak menyebabkan stroke akibat perdarahan (Stroke hemorraghic) yang bisa mengancam nyawa saat itu juga. Sedangkan kadar kolesterol jahat dalam darah yang tinggi dapat menyumbat pembuluh darah tak terkecuali pembuluh darah dalam otak menyebabkan stroke tanpa perdarahan, yang dalam istilah medis disebut sebagai stroke ischemic. 

4. Kanker 

 Penyakit kanker dahulu paling banyak ditemui pada usia lanjut, tapi tidak pada zaman sekarang. Gaya hidup serba instan membuat kebanyakan orang jarang melakukan olahraga dan makan makanan sehat yang alami. Apalagi mereka yang bekerja dari pagi hingga larut malam. 

Kebanyakan orang akan memakan makanan yang mudah ditemui dan siap saji (junk food) yang sebenarnya sangat minim nilai gizi. Makanan junk food biasanya mengandung pengawet makanan dan penyedap rasa yang jika dikonsumsi secara berlebihan bisa memicu timbulnya kanker. 

 5. PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) 

 Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) sebenarnya sudah mulai berproses ketika seseorang mulai merokok. Paru-paru akan kesulitan untuk mendapatkan oksigen karena saluran napas yang menuju paru-paru mengalami gangguan. 

 Pada penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), perjalanan penyakitnya makin lama makin progresif. Tidak ada obat yang bisa mengembalikan fungsi paru seperti keadaan semula sebelum orang tersebut merokok. Maka, sebelum penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) ini semakin berjalan lebih lanjut, hentikan merokok, mulai dari sekarang. 

 Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang sudah berlangsung lama biasanya menimbulkan kelainan jari berupa jari tabuh (clubbing finger). 

6. Diabetes Mellitus Type-2 

 Kebanyakan lansia memang mengidap penyakit Diabetes Melitus tipe-2 ini. Tapi sekarang zaman sudah bergeser, penyakit Diabetes Melitus tipe-2 ini sekarang menyerang anak dan remaja. 

 Diabetes melitus tipe-2 pada usia lanjut (lansia) tanpa general check up, biasanya baru diketahui ketika lansia mengalami berbagai komplikasi. 

 Oleh karena itu, sebaiknya Anda kenali lebih jauh 10 tanda klinis Diabetes Melitus tipe-2 ini agar Anda dapat lebih mewaspadai dan segera berkonsultasi dengan Dokter ketika gejala diabetes melitus muncul. 

 7. Osteoporosis 

 Osteoporosis pada usia lanjut (lansia) sering terjadi. Sebenarnya, osteoporosis atau pengeroposan tulang sudah terjadi sejak usia 40 tahun, yang kemudian berlanjut hingga usia 85-90 tahun. 

Osteoporosis adalah suatu keadaan di mana massa tulang Anda semakin lama semakin berkurang per unit volume, sampai tulang tidak bisa menopang berat badan Anda lagi. Puncaknya, jika pengeroposan tulang ini terus berlangsung, tulang Anda dapat mengalami patah tulang spontan meskipun tanpa aktivitas. 

 Yang terjadi pada tulang ketika osteoporosis ini, dapat Anda cegah dengan rajin berolahraga, terpapar sinar matahari pagi sebelum jam 8 untuk mendapatkan asupan vitamin D alami, makan makanan tinggi kalsium dan suplemen kalsium. Hendaknya pencegahan osteoporosis ini Anda lakukan sebelum mencapai usia 35 tahun agar osteoporosis benar-benar dapat Anda cegah secara optimal. 

8. Osteoarthritis 

 Pengapuran sendi (osteoarthritis) sering terjadi pada usia lanjut (lansia).Namun, tidak menutup kemungkinan, pengapuran sendi (osteoarthritis) dapat terjadi bahkan sebelum usia 40 tahun. 

Osteoarthritis yang terjadi sebelum usia 40 tahun terkait dengan banyak tidaknya faktor risiko untuk terjadinya pengapuran sendi (osteoarthritis). Semakin banyak faktor risiko pengapuran sendi, semakin mungkin orang itu mengalami pengapuran sendi (osteoarthritis). 

 9. Kolelithiasis 

 Kolelithiasis adalah istilah medis untuk penyakit batu empedu. Penyakit batu empedu sering dialami lansia terkait pola makan yang tinggi lemak dan minim serat. Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko terkena penyakit batu empedu yang hanya bisa disembuhkan melalui jalan operasi ini. 

 Membicarakan pencegahan penyakit pada usia lanjut (lansia) tentu tak lepas dari suatu cabang ilmu kedokteran yaitu Gerontologi. 

 Gerontologi adalah suatu ilmu yang mempelajari proses menua yang lahir dari kesadaran manusia atas adanya fenomena kelahiran, kemunduran, dan kematian. 

 Gerontologi sangat terkait dengan ilmu kedokteran karena masalah gangguan kesehatan pada usia lanjut (lansia) adalah yang paling menonjol dari masalah kesehatan yang lain. Sehingga dengan adanya ilmu gerontologi medis ini, penyekit-penyakit pada usia lanjut (lansia) bisa dipelajari untuk dicari bagaimana cara pencegahan penyakit usia lanjut (lansia) agar tidak sampai terjadi. 

 Bagaimana cara pencegahan penyakit pada usia lanjut (lansia)? 

Cara pencegahan penyakit pada usia lanjut (lansia) adalah sebagai berikut. 

 Sebenarnya cara pencegahan penyakit pada usia lanjut (lansia) itu sendiri terbagi atas 3, yaitu : Pencegahan primer, Pencegahan sekunder, dan Pencegahan tersier 

 1. Pencegahan Primer 

Terkait Penyakit pada Lanjut Usia (Lansia) Yang dimaksudkan upaya pencegahan primer adalah bagaimana cara Anda untuk mengurangi atau lebih baik lagi jika Anda bisa menghindari faktor risiko untuk menderita sakit pada usia lanjut, misalnya dengan cara melakukan imunisasi. 

 2. Pencegahan Sekunder 

Terkait Penyakit pada Lanjut Usia (Lansia) Pencegahan sekunder adalah saat Anda melakukan general check up lalu kemudian melakukan terapi terhadap gangguan kesehatan yang ditemukan pada hasil pemeriksaan. Misalnya Anda melakukan general check up meliputi cek darah. 

 Saat hasil laboratorium sudah selesai, Anda menemukan ada beberapa gangguan kesehatan berupa hasil laboratorium yang abnormal seperti kadar kolesterol darah yang tinggi atau kadar asam urat darah yang tinggi. Lalu Anda berkonsultasi ke Dokter untuk mengobati keadaan tersebut agar tidak muncul komplikasi yang lebih berat. Misalnya untuk kadar kolesterol yang tidak normal jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan penyakit jantung koroner atau stroke di masa yang akan datang. 

 3. Pencegahan Tersier 

 Pencegahan tersier adalah ketika penyakit kronis degeneratif ini sudah terlanjur terjadi, lalu Anda melakukan berbagai upaya agar penyakit tersebut tidak berkembang menjadi lebih parah dan menimbulkan ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu (disabilitas). 

 Misalnya ketika seseorang terkena penyakit pada lanjut usia (lansia) yang menyerang sendi lutut, yaitu osteoarthritis (pengapuran). Jika ia tidak mencari bantuan pengobatan, osteoarthritis ini akan berkelanjutan menyebabkan ketidakmampuan untuk berjalan. 

 Osteoarthritis yang berkepanjangan tanpa pengobatan akhirnya bisa menyebabkan kelumpuhan akibat sendi lututnya terlalu kaku, sehingga sulit untuk digerakkan. 

 Apa yang harus Anda lakukan untuk mencegah penyakit pada usia lanjut (lansia)? 

 Ini yang harus Anda lakukan untuk mencegah penyakit pada usia lanjut (lansia). Sebagai pencegahan primer penyakit hipertensi pada usia lanjut (lansia), Anda dapat melakukannya sekarang! Jangan terlalu sering mengkonsumsi makanan yang asin, berlemak, sehingga Anda dapat mengontrol berat badan Anda. 

 Konsumsi terlalu banyak garam dapat meningkatkan tekanan darah Anda. Tambahan lagi jika Anda memiliki postur tubuh yang gemuk (overweight). Kegemukan meningkatkan penyakit hipertensi. Jadi jika Anda gemuk dan penyuka makanan asin, waspadalah, penyakit hipertensi siap menyerang Anda.

 Jika penyakit hipertensi sudah terlanjur menyerang Anda, maka lakukanlah pencegahan sekunder yaitu dengan mengkonsumsi obat anti hipertensi secara teratur. Minum obat anti hipertensi secara teratur dapat menurunkan risiko terkena komplikasi akibat penyakit hipertensi. 

 Mungkin timbul pertanyaan dalam benak Anda tentang apa saja komplikasi akibat penyakit hipertensi. 

Komplikasi yang mungkin timbul akibat penyakit hipertensi pada usia lanjut yang tidak mendapat pengobatan secara teratur misalnya penyakit jantung HHD (Hypertensive Heart Disease), Stroke akibat perdarahan otak (Haemorraghic Stroke), atau penyakit ginjal hipertensi. 

 Jika penyakit jantung HHD, stroke, dan berbagai penyakit lain akibat komplikasi ini sudah muncul, maka yang dapat Anda lakukan hanya berusaha agar penyakit-penyakit tersebut tidak menimbulkan disabilitas (ketidakmampuan) untuk melakukan kegiatan sehari-hari. 

 Misalnya pada penyakit stroke. Meskipun penyakit stroke telah bisa diobati, namun hendaya yang muncul akibat serangan stroke akan tersisa. Hendaya pasca serangan stroke yang sering terjadi adalah kelumpuhan. Jika sudah terjadi kelumpuhan, maka hal yang dapat Anda lakukan adalah melakukan pencegahan tersier agar kelumpuhan ini tidak berjalan lama sehingga menimbulkan kelumpuhan yang permanen. Biasanya fisioterapi dan terapi akupunktur kerap disarankan oleh Dokter untuk dilakukan oleh mereka selepas serangan stroke. 

 Penyakit jantung koroner dan stroke adalah dua penyakit yang terkait dengan tekanan darah tinggi yang tidak segera diobati. Oleh karena itu, jika Anda mempunyai riwayat hipertensi, lakukanlah pemeriksaan rutin untuk mengecek tekanan darah Anda. Upayakan agar tekanan darah selalu dalam batas normal. 

Dengan mengontrol tekanan darah Anda agar selalu dalam nilai yang normal, Anda dapat mencegah timbulnya penyakit jantung koroner dan stroke di kemudian hari. Selain mengontrol tekanan darah Anda, untuk mencegah timbulnya penyakit jantung koroner dan stroke pada usia lanjut (lansia), Anda harus melakukan pola hidup sehat. 

 Pola hidup sehat seperti tidak merokok, menjaga berat badan agar tetap ideal, mengurangi konsumsi lemak, dan rajin berolahraga, dapat sangat jauh menurunkan faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke. 

 Penyakit kanker saat ini marak terjadi bukan hanya pada usia lanjut saja karena gaya hidup instan jaman sekarang sudah mempengaruhi pola makan dari makanan yang natural ke makanan junk food. Penyakit kanker pada usia lanjut seakan menurun angka kejadiannya dikarenakan penyakit kanker sudah menyerang pada usia yang lebih muda dari usia 60 tahun. 

Untuk mencegah timbulnya kanker di masa yang akan datang, sebaiknya Anda hanya makan makanan sehat yang alami ketimbang makanan instan yang minim nilai gizi bagi tubuh Anda. Juga jika Anda adalah perokok aktif, sebaiknya hentikan merokok. 

Merokok mengandung zat-zat karsinogenik yang dapat menimbulkan kanker. Makanan yang mengandung banyak lemak dan pengawet juga berpotensi menimbulkan kanker. Jadi sebaiknya Anda mulai mengurangi makanan berlemak dan junk food. 

 Beralihlah ke makanan yang lebih sehat dan alami yang banyak mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. 

 Untuk Kanker serviks yang banyak menyerang wanita belakangan ini, bisa Anda cegah dengan melakukan imunisasi. 

 Penyakit paru obstruktif kronik pada usia lanjut berhubungan dengan aktivitas merokok. Maka, untuk mencegah terjadinya penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), Anda harus berhenti merokok atau terbebas dari pajanan asap rokok. 

 Pada usia lanjut, penyakit Diabetes Melitus tipe-2 juga sering terjadi. Untuk mencegah terjadinya penyakit Diabetes Melitus tipe-2 saat usia lanjut, Anda dapat melakukan olahraga teratur agar proses metabolisme tubuh Anda berjalan dengan semestinya. 

 Pada usia lanjut, proses metabolisme tubuh menurun. Jika saat usia lanjut, pola makan Anda tetap sama dan jarang melakukan olahraga, sedangkan proses metabolisme tubuh sudah menurun, maka pertambahan berat badan pasti akan terjadi. Itulah mengapa orang tua cenderung gemuk dan susah menurunkan berat badan. Padahal mempunyai berat badan ideal adalah penting untuk dilakukan untuk menurunkan risiko terkena penyakit Diabetes Melitus tipe-2. 

 Selain memiliki berat badan ideal, terdapat berbagai cara mencegah penyakit DIABETES MELITUS TIPE-2 lainnya yang bisa Anda terapkan sehari-hari. 

 Osteoporosis pada usia lanjut dapat dicegah jika sebelum usia Anda 35 tahun, asupan kalsium Anda mencukupi. Makanan tinggi kalsium saat lanjut usia tidak begitu membawa pengaruh besar, karena transpor kalsium untuk bisa masuk ke dalam tulang adalah hormon estrogen. 

 Pada usia lanjut, Wanita sudah mengalami menopause di mana hormon estrogen sudah tidak diproduksi lagi. Sehingga konsumsi kalsium saat usia lanjut untuk dapat mencegah osteoporosis masih dipertanyakan tentang keberhasilannya, mengingat transportasi kalsiumnya sendiri, yaitu hormon estrogen, sudah tidak diproduksi lagi. Hindari juga mengkonsumsi minuman bersoda dan beralkohol karena bisa mempengaruhi kesehatan tulang dan sendi. 

 Masalah tulang dan sendi memang banyak dialami oleh lansia. Masalah pengapuran sendi (osteoarthritis) bahkan bisa menjadi penyakit serius meskipun tidak mengancam nyawa seperti penyakit jantung, stroke, dan lain-lain. 

 Pengapuran sendi (osteoarthritis) pada usia lanjut (lansia) bisa menyebabkan kelumpuhan jika tidak segera ditangani yang akan diperparah dengan kegemukan. Karena itu, Anda harus menjaga diet sehat dan alami yang sesuai dengan kebutuhan kalori Anda agar tidak kelebihan berat badan. 

 Anda dapat menghitung sendiri kebutuhan kalori harian Anda jika berat badan Anda saat ini sudah normal dengan cara ini. Namun, jika berat badan Anda saat ini overweight, maka hasil perhitungan kebutuhan kalori harian Anda dengan cara tadi, harus dikurangi lagi dengan kalori yang harus dihilangkan untuk mencapai penurunan berat badan yang diinginkan guna mencapai berat badan ideal. 

Berat badan ideal mempunyai peran penting untuk kesehatan dan juga penampilan Anda. Berat badan ideal juga bisa mencegah terjadinya penyakit kolelitiasis (batu empedu) pada usia lanjut (lansia) selain berbagai penyakit yang tersebut di atas.
This entry was posted in

Demam Tifoid



DokDin.ID - Penyakit tifus (demam tifoid) tentu bukan suatu penyakit baru yang masih asing di dengar, sebaliknya penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit yang banyak menimpa keluarga atau kerabat kita yang sudah akrab sekali kita dengar namanya. 

        Penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang usus halus. Penyakit tifus (demam tifoid) hampir sama gejalanya dengan penyakit paratifus (demam paratifoid) hanya saja kuman penyebabnya yang berbeda, meskipun tampak mirip. 

        Apakah penyebab penyakit tifus (Demam Tifoid) ? 

    Penyebab penyakit tifus (demam tifoid) adalah kuman/bakteri Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A, Salmonella paratyphi B, dan Salmonella paratyphi C.  

        Penyebaran Penyakit Tifus (Demam Tifoid) Penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit endemis (banyak ditemukan) di Indonesia. Karena penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit yang menular maka pernah suatu ketika di suatu daerah di negara kita, penyakit tifus (demam tifoid) ini menjadi wabah penyakit. 

        Penyakit tifus (demam tifoid) ini biasanya mudah ditemukan di suatu daerah secara terpencar-pencar. Meskipun penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit menular, namun sayangnya sumber penularannya biasanya tidak ditemukan. Sumber penularan penyakit tifus (demam tifoid) ini terutama berasal dari makanan dan minuman yang terkontaminasi dengan kuman Salmonella typhi. 

        Mengapa makanan dan minuman dapat terkontaminasi dengan kuman Salmonella typhi ? Jadi kuman Salmonella typhi ini terdapat dalam tinja dan air kemih individu yang terkena penyakit tifus (demam tifoid). 

            Ketika tempat pembuangan tinja dan air kemih ini mencemari tempat sumber makanan misalnya kebun sayuran, maka kemungkinan besar, sayuran yang dipanen dari kebun tersebut tercemar oleh kuman Salmonella typhi. Jika sayuran tidak dicuci dan dimasak dengan baik, kuman Salmonella typhi ini masih hidup dan jika sayuran tersebut termakan oleh kita, bisa menjadi penyebab penyakit tifus (demam tifoid) saat daya tahan tubuh kita sedang menurun. 

            Kuman Salmonella typhi bukan saja terdapat dalam tinja dan air kemih individu yang sedang sakit tifus (demam tifoid) tapi bisa juga terdapat dalam tinja dan air kemih individu yang sudah sembuh dari penyakit tifus (demam tifoid) ini. Individu yang sudah sembuh dari penyakit tifus (demam tifoid) tapi masih mengandung kuman Salmonella typhi dalam tinja dan air kemihnya disebut carrier. Biasanya kuman Salmonella typhi bertahan dalam tinja dan air kemih carrier ini selama satu tahun atau bahkan lebih. 

            Makanan yang dapat tercemar kuman Salmonella typhi bukan hanya sayuran saja, namun jenis makanan lain misalnya ikan, daging, buah-buahan dapat tercemar kuman ini jika dicuci dengan air yang tercemar Salmonella typhi atau jika disimpan pada tempat penyimpanan yang juga tercemar kuman ini. Begitulah kira-kira, perjalanan kuman Salmonella typhi sampai menjadi biang penyakit tifus (demam tifoid) pada manusia. 

            Faktor Risiko Penyakit Tifus (Demam Tifoid) 

1. Lingkungan 

Siapa saja dapat terserang penyakit tifus (demam tifoid) namun individu yang tinggal di lingkungan yang kurang bersih, sanitasi kurang baik, kebiasaan makan makanan di pinggir jalan yang kebersihannya kurang baik, serta daya tahan tubuh yang sedang menurun dapat mempermudah terjadinya penyakit tifus (demam tifoid) ini. 

2. Umur 

Di daerah yang banyak penderita penyakit tifus (demam tifoid), biasanya penderita penyakit tifus (demam tifoid) adalah anak-anak. Hal ini berhubungan pada daya tahan tubuh anak-anak yang belum terbentuk dengan sempurna. Sedangkan pada orang dewasa, penyakit tifus (demam tifoid) ini sering menimbulkan gejala-gejala infeksi ringan saja seperti mual, muntah, demam malam hari, yang bisa hilang dengan sendirinya dan kemudian menjadi kebal terhadap penyakit ini. *Dengan catatan, daya tahan tubuh harus dalam kondisi prima. Angka kejadian penyakit tifus (demam tifoid) adalah 70-80 % pada anak usia 12 tahun ke atas. Artinya, dari 100 orang yang kontak dengan kuman Salmonella typhi, sebanyak 70-80 orang anak usia 12 tahun ke atas, terserang penyakit tifus (demam tifoid). Sedangkan, angka kejadian penyakit tifus (demam tifoid) pada individu usia 30-40 tahun hanya 10-20%. Dan pada dewasa usia 40 tahun ke atas, hanya 5-10%. 

3. Jenis kelamin 

Tidak ada perbedaan yang nyata terhadap jenis kelamin, apakah laki-laki atau perempuan yang lebih dominan untuk terserang penyakit tifus (demam tifoid). Kemungkinan terjadinya tidak berdasarkan jenis kelamin. 

4. Musim 

Penyakit tifus (demam tifoid) dapat ditemukan sepanjang tahun. Lalu bagaimanakah perjalanan kuman Salmonella typhi ini saat masuk ke dalam tubuh manusia untuk kemudian menimbulkan penyakit tifus (demam tifoid) ? 

Kuman Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh manusia saat makanan dan minuman yang dikonsumsi individu tersebut sudah tercemar. Saat masuk makanan dan minuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan mati, namun jika daya tahan tubuh individu tersebut kurang prima, maka sebagian kuman Salmonella typhi akan masuk ke dalam usus halus. 

Kuman ini kemudian menembus lapisan usus halus, memasuki aliran getah bening, dan akhirnya berhasil masuk ke pembuluh darah dan mengikuti alur sirkulasi darah. Pada saat kuman, mampu menembus usus halus, dapat terjadi perlukaan dan perdarahan pada usus halus. Dan gejala-gejala penyakit tifus (demam tifoid) mulai timbul. 

Gejala Penyakit Tifus (Demam Tifoid) Gejala-gejala penyakit tifus (demam tifoid) ternyata baru muncul setelah individu tersebut sudah terinfeksi selama 10-14 hari (masa tunas 10-14 hari). 

Gejala penyakit tifus (demam tifoid) yang biasanya muncul pada minggu pertama adalah sbb ; Demam sore-malam hari, Nyeri kepala, Pusing berputar, Nyeri otot (biasanya di otot betis dan leher belakang), Tidak nafsu makan, Mual, Muntah, Buang air besar tidak lancar, Kadang-kadang diare, Perasaan tidak enak di perut, dan Batuk . 

Gejala penyakit tifus (demam tifoid) yang biasanya muncul pada minggu kedua adalah sbb ; Demam, Lidah tampak putih/kotor, Pembesaran hati (hepatomegali), Pembesaran limpa (splenomegali), Bahkan sampai ada gejala psikis seperti mengacau, selalu mengantuk (somnolen), atau koma. Penyakit tifus (demam tifoid) jika tidak diobati dengan segera dapat menimbulkan komplikasi yang fatal (dapat menimbulkan kematian). 

Mengingat hal itu, jika anggota keluarga kita menderita demam lebih dari tiga hari, yang tidak kunjung turun dengan pengobatan biasa, segeralah konsultasikan pada Dokter. 

Apa saja komplikasi penyakit tifus (demam tifoid) yang dapat timbul ? 

Penyakit tifus (demam tifoid) dapat menimbulkan komplikasi yang fatal berupa kematian biasanya jika daya tahan tubuh terlalu lemah misalnya pada bayi, keadaan kekurangan gizi , atau telah menderita penyakit lainnya yang menyerang daya tahan tubuh seperti HIV. 

Komplikasi penyakit tifus (demam tifoid) yang dapat timbul pada usus adalah sbb ; Perdarahan Perforasi (Usus halus berlubang), dan Ileus paralitik (Usus tidak bisa berkontraksi sehingga penderita penyakit tifus tidak dapat buang air besar atau bahkan buang gas). 

Sedangkan komplikasi penyakit tifus (demam Tifoid) yang terjadi di luar usus halus adalah sbb ; 

  1. Komplikasi pada jantung 
    • kegagalan jantung untuk melakukan peredaran darah di seluruh tubuh
    • radang otot jantung (miokarditis)
  2. Komplikasi pada darah 
    • anemia 
    • penurunan kadar trombosit darah (trombositopenia)
  3. Komplikasi paru-paru 
    • pneumonia (radang paru-paru)
    • empiema (mengumpulnya nanah/kuman pada jaringan paru)
    • pleuritis (radang selaput pleura)
  4. Komplikasi hati dan kandung empedu 
    • hepatitis
    • kolestitis (radang pada kandung empedu)
  5. Komplikasi saraf dan kejiwaan 
    • gejala kebingungan (delirium)
    • meningitis (radang selaput otak) 
    • gangguan jiwa (psikosis)
  6. Komplikasi tulang 
    • radang tulang
    • radang sendi (artritis)
  7. Komplikasi ginjal 
    • radang pada ginjal (glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis).
Pengobatan Penyakit Tifus (Demam Tifoid) Mengetahui bahwa komplikasi penyakit tifus (demam tifoid) ini bukan main-main, maka penderita penyakit tifus (demam tifoid) memang harus dirawat dengan penuh perhatian. 

Mulai dari tirah baring baik di rumah atau di rumah sakit, pengobatan antibiotik yang teratur, dan pemilihan diet makanan yang tepat. 

1. Tirah Baring 

Biasanya jika seseorang terserang penyakit tifus (demam tifoid) dan keadaan umumnya sudah mulai menurun, maka ia akan dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif, terutama jika gejala muntah-muntah sudah hebat sehingga makanan tidak lagi dapat masuk melalui mulut. Tirah baring perlu dilakukan sampai 7 hari bebas demam untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus. 

2. Antibiotik 

Pengobatan untuk membunuh kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi adalah antibiotika. Antibiotika biasanya akan diresepkan oleh Dokter untuk beberapa hari lalu Dokter akan menganjurkan untuk kontrol kembali jika Anda melakukan rawat jalan. Tujuan melakukan kunjungan Dokter kembali adalah bahwa Dokter perlu melihat apakah kondisi pasien sudah terbebas dari demam untuk kemudian meresepkan obat antibiotika selama 7 hari setelah bebas demam. Pemberian antibiotik dilakukan dengan cara diminum (oral) jika penderita tidak muntah-muntah, atau diberikan dengan cara disuntik (intravena) ke pembuluh darah atau melalui jalur infus jika penderita penyakit tifus (demam tifoid) dirawat di rumah sakit. Ingat, minumlah obat antibiotika yang diresepkan Dokter sampai habis untuk mencegah kuman Salmonella menjadi kebal terhadap antibiotika tersebut dan supaya penyakit tifus (demam tifoid) dapat segera disembuhkan dengan total. 

3. Pemilihan Diet Makanan 

Diet makanan yang baik untuk penderita penyakit tifus (demam tifoid) adalah makanan lunak (bubur) dan diet rendah serat. Hindarilah sayuran dan buah yang mempunyai serat kasar. 

Setiap orang yang terinfeksi Salmonella, akan mengeluarkan kuman tersebut melalui tinja dan air kemihnya selama 3 bulan setelah sembuh. Jika setelah sembuh selama 3 bulan, tetapi individu tersebut masih mengeluarkan kuman Salmonella dalam tinja dan air kemihnya, maka mereka disebut sebagai carrier. Carrier ini memegang peranan yang cukup penting dalam alur penularan penyakit tifus (demam tifoid) sehingga penyakit tifus (demam tifoid) dapat mudah ditemukan di manapun. 


This entry was posted in

Demam Berdarah Dengue


DokDin.ID - Di negara kita jika musim hujan datang, identik dengan banjir dan penyebaran penyakit demam berdarah.

Meskipun bukan hal yang baru bahwa demam berdarah akan meningkat kejadiannya seiring dengan musim hujan, namun kita akan me-review mengenai penyakit infeksi demam berdarah dengue ini supaya kita selalu ingat akan tanda-tanda klinisnya.



Dengue 1 dan 2 ditemukan di Papua ketika berlangsungnya Perang Dunia II, sedangkan Dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954.

Virus Dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, dan stabil pada suhu 70 derajat celcius.

Ke-4 serotipe virus Dengue ditemukan di Indonesia. Virus Dengue serotipe 3 yang paling sering beredar.

Vektor utama virus Dengue di Indonesia adalah Nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus. 

Nyamuk Aedes bersarang pada penampung air bersih seperti bak mandi, drum penyimpan air, kaleng bekas, talang air, dan lain-lain.


Adanya nyamuk Aedes tersebut berhubungan erat dengan dengan faktor sbb:

  1. kebiasaan warga menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari,
  2. sanitasi lingkungan yang kurang baik,
  3. penyediaan air bersih yang langka,
  4. keadaan lingkungan di mana terdapat banyak genangan air hujan.

Terjangkitnya penyakit demam berdarah semakin sering jika :

  1. antar rumah jaraknya berdekatan, yang memungkinkan penularan karena jarak terbang Aedes aegypti 40-100 meter,
  2. dalam suatu daerah terdapat banyak warga, karena nyamuk Aedes aegypti betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple biter), yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu yang singkat.

Oleh karena itu, penyakit demam berdarah semakin lama semakin meningkat jumlahnya, terutama di kota besar, di mana tingkat kepadatan penduduknya sangat tinggi.

Demam berdarah Dengue cenderung meningkat pada musim hujan, kemungkinan disebabkan  oleh :

  1. Perubahan musim mempengaruhi gigitan nyamuk, karena pengaruh musim hujan, puncak jumlah gigitan terjadi pada siang dan sore hari.
  2. Perubahan musim mempengaruhi sikap manusia sendiri dalam sikapnya terhadap gigitan nyamuk, misalnya lebih banyak berdiam diri selama musim hujan.

Gambaran klinis demam berdarah dengue sangat bervariasi di antaranya dari yang paling ringan Dengue Fever, Demam Berdarah Dengue, sampai yang paling berat Dengue Shock Syndrome. 

Seseorang yang digigit nyamuk Aedes aegypti, dan terinfeksi oleh virus Dengue, akan menimbulkan gejala setelah 3-15 hari, atau rata-rata 5-8 hari.

Gejala yang dapat timbul pada Dengue Fever atau Demam Dengue yaitu :

  1. Suhu meningkat secara tiba-tiba,
  2. Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada daerah di atas mata atau di belakang mata,
  3. Nyeri hebat pada otot dan tulang (break bone fever),
  4. mual muntah,
  5. batuk ringan,
  6. Otot sekitar mata terasa berat dan pegal, terlihat pembengkakan sekitar mata, dan sensitif terhadap cahaya (fotofobia).

Jika pada stadium Demam Dengue dilakukan pemeriksaan lab darah maka hasil yang ditemukan hitung sel leukosit yang menurun (leukopenia), trombosit di sini belum menurun.

Jika daya tahan tubuh kuat dan mampu melawan virus Dengue, maka ia akan sembuh pada hari ke 4-5 hari. Namun jika infeksi virusnya berkembang maka Demam Dengue berubah menjadi Demam Berdarah Dengue.

Gejala pada Demam Berdarah Dengue berupa :

  1. Demam yang menurun pada hari ke 3-5, yang diikuti dengan tanda perdarahan yaitu bintik-bintik perdarahan (petekia), memar (hematoma), buang air besar hitam (melena), muntah darah (hematemesis), atau yang paling mudah dikenali seperti mimisan. Semua gejala tersebut di atas tidak semuanya dapat dialami oleh setiap penderita demam berdarah dengue.
  2. Terkadang ditemukan pembesaran kelenjar getah bening yang lunak tapi tidak nyeri di lipatan ketiak, lipatan paha, atau leher.
  3. Hati umumnya membesar dan menimbulkan nyeri pada perut sebelah kanan atas.
  4. Gejala tambahan yang mungkin timbul seperti lidah yang tampak kotor dan keputihan (coated tongue) kesulitan buang air besar.

Jika seseorang melakukan cek lab darah pada stadium ini, maka ditemukan kadar trombosit kurang dari normal (trombositopenia) dan pengentalan darah (hemokonsentrasi).

Pada hari ke 3-7 bukan selalu seseorang yang terinfeksi virus Dengue menjadi penderita Demam Berdarah Dengue, bahkan dapat jatuh pada keadaan syok yang mengancam pada kematian, yaitu DSS (Dengue Shock Syndrome).

Dengue Shock Syndrome adalah Demam Berdarah Dengue Derajat IV, yaitu derajat yang paling berat di  mana saat ini tekanan darah dan nadi seseorang sudah tidak dapat terukur oleh Dokter yang merawat.

Sebelum seseorang jatuh pada keadaan syok, tanda-tanda klinis yang harus diperhatikan adalah :

  1. kulit menjadi lembab dan dingin,
  2. pada ujung hidung, jari-jari tangan dan kaki tampak kebiruan (sianosis perifer),
  3. penurunan tekanan darah (hipotensi).

Jika gejala-gejala renjatan tersebut muncul, harus segera dilakukan tindakan medis yang intensif agar keadaan tidak jatuh pada keadaan syok yang dapat menimbulkan kematian.

This entry was posted in

tanda penyakit demam berdarah

demam berdarah dokdin.id


DokDin.ID - Sesuai namanya, penyakit demam berdarah dengue, pastinya setiap orang yang mengalami penyakit ini akan mengalami demam. Tapi, pertanyaannya adalah bisakah gejala demam
dijadikan patokan sebagai tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue?


Saat Anda mengalami demam yang tidak segera turun setelah beberapa hari meskipun Anda sudahmeminum obat penurun panas, mungkin saja Anda akan berpikir bahwa demam yang Anda alami adalah bukan demam biasa.

Demam yang tak kunjung hilang selama beberapa hari sering dihubungkan dengan demam berdarah dengue atau demam tifoid meskipun bukan hanya penyakit demam berdarah dengue dan penyakit tifoid saja yang bisa menimbulkan keluhan demam.

Demam adalah suatu reaksi kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang mengganggu kesehatan, bisa karena infeksi, ketidakseimbangan hormon, trauma, radang, atau tumor/keganasan. Demam juga bisa dikaitkan dengan reaksi tubuh terhadap obat-obatan, misalnya antibiotika.

Jadi, demam itu sendiri bukanlah suatu penyakit. Demam seperti sebuah alarm tubuh yang menandakan bahwa sedang terjadi sesuatu di dalam tubuh kita.

Lalu, jika demam bukanlah suatu tanda utama dari penyakit demam berdarah dengue dan tidak bisa dijadikan patokan diagnosa penyakit demam berdarah dengue, bagaimana cara agar Anda mengetahui tanda-tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue?

Inilah tanda-tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue yang patut Anda ketahui.

Tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue adalah demam yang Anda alami terjadi dan semakin meningkat secara tiba-tiba. Demam yang meningkat begitu saja disertai dengan nyeri kepala yang hebat terutama di area sekitar mata.

Tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue juga bisa diketahui saat Anda tiba-tiba mudah sekali mengalami perdarahan seperti gusi berdarah, bercak bintik-bintik merah bawah kulit, buang air besar berdarah, mimisan, dan muntah yang disertai darah.

Selain itu, gejala nyeri otot, nyeri perut, diare, yang menyertai demam dan tanda perdarahan, juga bisa merupakan tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue.

Dasar kelainan Demam Berdarah Dengue adalah reaksi Antigen-Antibodi yang mengakibatkan vaskulopati, trombositopenia, koagulopati, dan perubahan imunitas humoral dan seluler.

Trombositopenia adalah keadaan di mana jumlah trombosit dalam darah Anda kurang dari normal. Trombositopenia juga merupakan salah satu tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue.

Cara untuk mengetahui trombositopenia yaitu Anda harus melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengecek keadaan darah lengkap, namanya cek darah lengkap atau DL. .

Saat Anda terserang penyakit demam berdarah dengue, Anda juga akan mengalami mata merah (injeksi konjungtiva), mata sering berair (lakrimasi), dan tiba-tiba Anda menjadi lebih sensitif terhadap cahaya atau merasa silau ketika melihat ke luar rumah (fotopobia).

Berikut adalah daftar tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue.

Ini adalah tanda klinis yang penting pada Demam Berdarah Dengue.
  1. Injeksi konjungtiva, lakrimasi, fotopobia,
  2. Nyeri tekan pada otot-otot,
  3. Eksantema pada kulit (initial and terminal Rash),
  4. Kurva suhu bifasik- saddle back fever ( Suhu tubuh tinggi selama 3-7 hari, setelah itu demam hilang beberapa jam sampai 2 hari, lalu demam kembali),
  5. Lidah kotor,
  6. Perdarahan kulit (petekia, purpura, ekimosis),
  7. Perdarahan saluran hidung mimisan/epistaksis, melena, hematemesis,
  8. Hepatomegali (pembesaran hati) yang bisa teraba di bagian perut kanan atas, dan
  9. Tanda-tanda syok (tensi rendah dan nadi cepat).
Dari banyak tanda Anda terserang demam berdarah dengue, terdapat gambaran demam berdarah dengue derajat yang mana yang Anda alami. Karena demam berdarah dengue itu mempunyai derajat penyakit.

Inilah derajat demam berdarah dengue yang bisa Anda ketahui dari keluhan yang dirasakan.

1. DERAJAT 1 -DEMAM DENGUE, DENGUE FEVER (RINGAN)
  • Demam 5-7 hari, bifasik,
  • Sefalgia hebat,
  • Nyeri retroorbital,
  • Mialgia,
  • Nyeri tulang/sendi,
  • Mual muntah,
  • Timbul ruam pada awal penyakit (1-2 hari) lalu hilang (hari ke-6 sampai ke-7), terutama di kaki, tangan, atau telapak kaki, telapak tangan,
  • Uji Tourniquet (Rumple Leede) positif,
  • Mungkin ada perdarahan spontan, tetapi tidak ada hemokonsentrasi,
  • Bila tak ada perdarahan spontan, tidak perlu dirawat di RS, cukup diobservasi.

2. DERAJAT II -DENGUE HEMORRAGHIC FEVER, DHF ( SEDANG)
  • Terjadi perdarahan spontan (gusi, saluran cerna, batuk darah),
  • Ada kebocoran plasma sehingga terjadi peningkatan hematokrit, efusi pleura/peritoneum, hipoproteinemia,
  • Hepatomegali,
  • Perlu dirawat di RS.
3. DERAJAT III -DENGUE SHOCK SYNDROME, DSS (BERAT)
  • Terjadi saat suhu menurun antara hari ke-3 dan ke-7.
  • Letargi atau gelisah,
  • Tanda syok,
  • Perlu dirawat di RS.
4.DERAJAT IV -DSS (SANGAT BERAT)
  • Ada tanda syok yang berat seperti nadi tidak teraba, tensi tidak terukur,
  • Perlu dirawat di RS.
Tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue juga bisa diketahui dengan cek darah. Pemeriksaan Laboratorium yang bisa dilakukan untuk menunjang diagnosis demam berdarah dengue adalah sbb :
  1.  Uji komplemen fiksasi (CF test),
  2. Uji hemaglutinasi inhibisi (HI test),
  3. Uji netralisasi (NT test),
  4. IgM ELISA (Mac.ELISA),
  5. IgG ELISA,
  6. Trombositopenia,
  7. Peningkatan Hematokrit.
Penyakit demam berdarah dengue juga bisa menimbulkan komplikasi jika tidak segera ditangani oleh Dokter. Komplikasi penyakit demam berdarah dengue adalah sbb :
  1. Perdarahan spontan,
  2. Syok hipovolemia,
  3. Perdarahan Intravaskuler Menyeluruh,
  4. Efusi pleura.
Jadi jika terdapat tanda-tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue seperti yang telah disebutkan di atas, segeralah Anda berobat ke rumah sakit. Biasanya penyakit demam berdarah dengue memerlukan beberapa pengobatan oleh Dokter.

Berikut ini pengobatan penyakit demam berdarah dengue yang mungkin diberikan oleh Dokter.
  1. Dokter akan memberikan nasehat Edukatif seperti Anda harus banyak minum air agar kebutuhan cairan tubuh terpenuhi, istirahat - tirah baring, kompres air hangat, dan makan  makanan yang lunak.
  2. Dokter akan memberikan pengobatan simptomatik yaitu pengobatan sesuai keluhan yang Anda rasakan. Misalnya Dokter akan memberikan obat penurun panas untuk menghilangkan keluhan demam yang Anda rasakan atau obat anti muntah jika Anda muntah.
  3. Medikamentosa.
  4. Biasanya Dokter akan memberikan infus pada pasien yang dirawat di rumah sakit.
  5. Transfusi darah pada keadaan tertentu juga bisa dilakukan.
  6. Bila syok tanpa perdarahan, Dokter dapat memberikan infus plasma atau Larutan koloid golongan karbohidrat.
  7. Dokter juga terkadang meresepkan infus albumin pada keadaan jika Anda mengalami kekurangan protein albumin dalam darah.
Jangan tunda pergi ke Dokter jika Anda merasakan keluhan atau tanda-tanda Anda terserang penyakit demam berdarah dengue. 

Penyakit ini bisa disembuhkan namun jika terlambat untuk berobat, penyakit demam berdarah dengue bisa mengancam nyawa.
This entry was posted in

Sabtu, 14 November 2020

Gangguan Psikologis Penyebab Kegemukan

gangguan psikologis dan kegemukan dokdin.id


DokDin.ID - Angka obesitas terus meningkat dan mengancam berjuta penduduk di dunia. Di Amerika Serikat, 34% penduduknya mempunyai berat badan berlebih (overweight) yaitu dengan nilai indeks massa tubuh antara 25-29,9 kg/m2. Sebanyak 30% penduduk yang obesitas, memiliki BMI lebih dari 30 kg/m2.

Selain karena faktor genetik, kerusakan otak dan aktivitas fisik yang kurang dapat menyebabkan obesitas.

Gaya hidup serba instan merupakan faktor penambah berat badan yang paling banyak, misalnya dengan tersedianya kendaraan bermotor, elevator, telepon genggam, komputer, televisi, menyebabkan seseorang jarang bergerak dan penggunaan kalori menjadi berkurang.

Disamping faktor pemicu obesitas tersebut di atas, ternyata gangguan psikologis juga berperan dalam pertambahan berat badan (obesitas). Sebaliknya, obesitas juga dapat berdampak buruk terhadap psikologis seseorang.

Berikut ini adalah gangguan psikologis yang dapat menyebabkan kegemukan : 

1. Gangguan psikologis yang menyebabkan kegemukan : BINGE-EATING DISORDER


Binge-eating disorder merupakan salah satu diagnosis gangguan jiwa. Gambaran klinis binge-eating disorder dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) adalah sbb.
  1. makan setiap periode tertentu, misalnya setiap 2 jam,
  2. mengkonsumsi makanan dalam jumlah sangat banyak,
  3. seseorang tsb menyatakan bahwa ia tak dapat mengontrol keinginannya untuk makan,
  4. tetap makan meskipun tidak lapar,
  5. sering makan sendiri (ada rasa malu bahwa makannya banyak akan diketahui oleh orang lain),
  6. makan dengan cepat hingga rasa kenyang yang berlebihan atau tidak nyaman,
  7. ada rasa jijik terhadap diri sendiri dan rasa bersalah,
  8. penderitaan yang nyata karena makan banyak,
  9. makan banyak terjadi paling sedikit satu kali seminggu selama tiga bulan,
  10. gangguan ini sering dikaitkan dengan depresi.
Seorang dengan obesitas yang datang berobat akibat Binge-eating disorder ini kira-kira sebanyak 30% dari seluruh penderita obesitas.

2. Gangguan psikologis yang menyebabkan kegemukan : NIGHT EATING DISORDER

Night-eating disorder atau disebut juga sindrom makan malam  termasuk kelompok diagnostik Feeding and Eating Disorders dalam DSM-5. Gejalanya adalah sbb.
  1. berulangnya episode makan malam,
  2. makan setelah terbangun dari tidur di tengah malam,
  3. mengkonsumsi makanan secara berlebihan setelah makan malam,
  4. orang tersebut menyadari dan mengingat bahwa ia telah makan,
  5. makan malam tidak disebabkan oleh pengaruh eksternal misalnya budaya sosial secara lokal,
  6. tidak disebabkan oleh efek obat, gangguan medik, atau gangguan mental lainnya,
  7. sindrom makan malam menyebabkan penderitaan atau adanya gangguan fungsi penderitanya. 
Sebanyak 9% orang dengan obesitas datang berobat akibat penyakit night-eating disorder ini.

3. Gangguan psikologis yang menyebabkan kegemukan : GANGGUAN CEMAS (ANXIETAS) DAN DEPRESI

Dikatakan bahwa banyak makan dikaitkan dengan perasaan cemas dan depresi. Beberapa individu menggunakan makanan sebagai "teman baiknya". 

Depresi yang terjadi pada masa kanak-kanak, terutama pada perempuan, dikaitkan dengan obesitas. Sebaliknya, obesitas itu sendiri dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan cemas dan depresi.

Pada lelaki, berat badan berlebih memiliki risiko yang rendah terhadap gangguan depresi. Sedangkan pada perempuan dengan obesitas mempunyai risiko untuk terjadinya depresi sebanyak 50%.

4. Gangguan psikologis yang menyebabkan kegemukan : GANGGUAN AFEK TERKAIT MUSIM

Gangguan afek terkait musim (seasonal affective disorder) dikaitkan dengan berat badan berlebih. Seseorang dengan depresi terkait musim akan mengalami peningkatan nafsu makan ketika musim dingin dan nafsu makan menurun ketika musim panas. 

Sekitar 67% individu dengan depresi terkait musim mengalami penambahan berat badan sebanyak 4 Kg selama musim dingin dan mengalami kesulitan untuk menurunkan berat badannya ketika musim panas.

5. Gangguan psikologis yang menyebabkan kegemukan : PENGGUNAAN PSIKOTROPIKA

Penggunaan obat psikotropika jangka panjang dapat berefek terhadap berat badan. Penderita gangguan depresi mayor, skizofrenia, dan gangguan bipolar yang sedang dalam pengobatan dapat mengalami penambahan berat badan.

Obat antidepresan dapat meningkatkan nafsu makan, menyebabkan ketagihan pada karbohidrat (craving), dan akhirnya menyukai makanan yang manis. 

Obat antipsikotik dapat meningkatkan berat badan.

Gangguan psikologis yang menyebabkan kegemukan sangat bervariasi dan bersifat individual. Tidak ada tipe kepribadian tertentu yang cenderung menjadi gemuk. 

Mengingat berbagai faktor psikologis dapat berpengaruh dalam terjadinya obesitas, maka peran Psikiater (Dokter Spesialis Jiwa) sangat berperan dalam penanganan gangguan psikologis yang menyebabkan kegemukan

Beberapa individu dapat berhasil dengan terapi psikodinamik berorientasi tilikan. Kadang beberapa tahun setelah berhasil dengan psikoterapi, mereka  kembali makan berlebihan bila stres. 

Terapi perilaku adalah pendekatan utama dalam perubahan gaya hidup yang efektif untuk menurunkan berat badan. 

Terapi kelompok dengan penderita gangguan psikologi yang mengalami obesitas juga adalah cara untuk mempertahankan motivasi untuk menurunkan berat badan terkait gangguan jiwa tersebut di atas.

10 Tanda Penyakit Diabetes Melitus


DokDin.ID - Siapa yang tidak kenal dengan penyakit Diabetes Melitus. Penyakit Diabetes Melitus banyak ditemukan di negara kita karena mayoritas penduduk mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Mengkonsumsi nasi secara berlebihan bisa meningkatkan risiko terkena penyakit Diabetes Melitus.

Kalau sudah terkena Diabetes Melitus, kerusakan fungsi bisa mengenai semua organ tubuh. Jadi, gejala diabetes melitus yang dirasakan tiap orang bisa berbeda-beda, tergantung dari organ tubuh yang terkena.

Karena banyak variasi gejala diabetes melitus yang dapat ditimbulkan, Penyakit Diabetes Melitus sering disebut sebagai the great imitator.

Diabetes melitus dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga Anda tidak menyadari bahwa ternyata penyakit diabetes melitus sedang berkembang dalam diri Anda.

Meskipun diabetes melitus bisa mempunyai gejala yang berbeda-beda tergantung organ mana yang terkena, tapi biasanya tiap orang akan memiliki beberapa keluhan yang sama dari 10 tanda yang paling sering ditemukan pada penyakit diabetes melitus. 

Apa saja 10 tanda yang paling sering ditemukan pada penyakit diabetes melitus?

10 tanda ini paling sering ditemukan pada penyakit diabetes melitus.


1. POLIURIA


Tanda klinis diabetes melitus yang paling sering adalah poliuria, yaitu sering buang air kecil.

Jika Anda sebelumnya tidak pernah terbangun pada tengah malam hari karena ingin buang air kecil (nokturia), lalu tiba-tiba suatu saat Anda sering ingin buang air kecil pada tengah malam ,  sebaiknya Anda perlu melakukan cek kadar gula darah.

Pada penyakit diabetes melitus, tanda sering buang air kecil pada malam hari ini sering dikeluhkan oleh orang yang sudah terkena diabetes melitus ketika gula darah sedang tinggi.

Seandainya Anda sudah terlanjur mengalami diabetes melitus, sangat baik jika Anda menyediakan alat cek glukosa darah di rumah sehingga Anda bisa mengecek kadar glukosa darah kapan saja saat diperlukan.

2. POLIFAGIA


Pada penyakit diabetes melitus, sering merasa lapar secara terus menerus, bahkan ketika baru selesai makan, merupakan salah satu tanda khas yang paling sering.

Anda perlu waspada bila suatu saat Anda mengalami gejala polifagia.

Polifagia adalah gejala di mana Anda dapat merasa lapar terus menerus. Meskipun Anda baru selesai makan dengan porsi besar, Anda dapat terus merasa lapar.

Dan anehnya meskipun Anda makan makanan dalam jumlah besar dan frekuensi yang sering, Anda tetap akan merasa lemas, seperti kekurangan nutrisi makanan.

Jika gejala polifagia ini Anda rasakan, segeralah berkonsultasi dengan Dokter. Dokter kemudian akan menyarankan Anda untuk melakukan cek kadar gula darah.

3. POLIDIPSIA


Polidipsia adalah salah satu dari 10 tanda yang paling sering ditemukan pada penyakit diabetes melitus.

Polidipsia adalah keadaan di mana Anda merasa selalu kehausan meskipun Anda sudah sering minum dan tanpa ada aktivitas yang berat.

Polidipsia dapat dengan mudah sekali Anda kenali. Cara mengetahui polidipsia adalah ketika Anda tetap merasa kehausan padahal baru saja Anda meminum segelas air.

4. BERAT BADAN MENURUN


Salah satu dari 10 tanda yang paling sering ditemukan pada penyakit diabetes melitus adalah berat badan yang menurun.

Walaupun banyak makan, biasanya penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol akan tetap merasa lemas. Dan juga berat badannya makin lama makin menurun.

Dalam keadaan normal, saat kita makan dalam jumlah besar dan dalam frekuensi yang sering, harusnya kita akan merasa fit, tambah bersemangat,  lebih berenergi, dan berat badan kita akan bertambah.

Tapi, tidak demikian, jika Anda terkena penyakit diabetes melitus.

Hal ini terjadi karena energi yang dihasilkan dari makanan tidak dapat ditransport ke dalam otot dan organ-organ , energi (gula) tertumpuk dalam darah, sehingga kadar gula darah semakin lama semakin tinggi. Sedangkan berat badan makin lama makin menurun.

5. LEMAH


Lemah adalah salah satu dari 10 tanda yang paling sering ditemukan pada penyakit diabetes melitus.

Dengan banyak makan dan minum, harusnya kita lebih bertenaga.

Namun, tidak demikian, jika diabetes melitus menyerang Anda.

Anda akan tetap merasa lemah meskipun sudah makan berbagai zat nutrisi. Hal ini terjadi karena sumber energi dari makanan tidak masuk ke dalam organ tubuh, oleh karena itu penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol merasa kekurangan energi.

6. KESEMUTAN


Kesemutan adalah salah satu dari 10 tanda yang paling sering ditemukan pada penyakit diabets melitus.

Keluhan kesemutan ini sering dialami penderita diabetes yang telah lama tidak terkontrol. Kesemutan adalah salah satu gejala komplikasi diabetes, Neuropati Perifer, di samping rasa baal, dan rasa lemah.

Neuropati perifer ini berkisar 10%-60% terjadi pada diabetes melitus.

Kesemutan adalah tanda bahwa diabetes melitus yang diderita telah menjadi kronik, bukan pada stadium awal.

7. GATAL


Jika Anda mengalami penyakit diabetes melitus, maka Anda akan sering merasa gatal-gatal tanpa penyebab yang jelas. Tiba-tiba saja Anda merasa gatal.

Kelainan kulit berupa gatal biasanya terjadi di daerah lipatan paha, lipatan ketiak, lipatan di bawah payudara pada wanita, yang biasanya tertutup, lembab.

Gatal pada daerah lipatan tubuh yang lembab tersebut biasanya disebabkan oleh pertumbuhan jamur. Oleh sebab itu, gatal pada penderita diabetes biasanya memerlukan pengobatan anti fungi.

8. PENGLIHATAN KABUR


Keluhan penglihatan mata menjadi kabur akibat diabetes melitus yang tidak terkontrol dapat disebabkan oleh komplikasi Retinopati Diabetik Katarak, atau gangguan-gangguan refraksi akibat perubahan-perubahan pada lensa oleh hiperglikemia (kadar gula darah yang tinggi).

Biasanya penglihatan kabur baru akan terjadi jika diabetes melitus sudah menyerang Anda cukup lama dan biasanya dalam keadaan gula darah yang tidak terkontrol dengan baik.

9. BISUL/LUKA TAK KUNJUNG SEMBUH


Seseorang dengan luka atau bisul yang tak kunjung sembuh atau bahkan semakin lama semakin parah, sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah.

Akibat gula darah yang tinggi dapat menyebabkan luka/infeksi menjadi sukar sembuh. Meskipun luka tersebut disebabkan oleh hal-hal yang sepele, misalnya akibat memakai sepatu, tertusuk jarum, dsb.

10. KEPUTIHAN


Pada wanita, keputihan merupakan salah satu keluhan yang pada awalnya membuat ia datang ke Dokter Spesialis Kandungan, Sp.OG, dan ternyata setelah diperiksa lebih lanjut, diabetes melitus yang melatar belakangi timbulnya keputihan tersebut.

Keputihan tidak selalu diakibatkan oleh diabetes melitus. Terdapat banyak penyebab yang dapat menimbulkan keputihan.

10 tanda inilah yang paling sering ditemukan pada penyakit diabetes melitus.

Kesimpulannya adalah ketika Anda mengalami perubahan kebiasaan seperti minum menjadi lebih banyak, buang air kecil menjadi lebih sering, atau berat badan yang menurun, segeralah berkonsultasi pada Dokter.

Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan, kadang sampai timbul komplikasi diabetes yang bersifat permanen seperti retinopati diabetik (kerusakan retina mata akibat diabetes yang tidak terkontrol).

Kebanyakan saat komplikasi timbul, penderita diabetes melitus baru berkonsultasi pada Dokter, dan mendapati kadar glukosa darahnya tinggi. Terkadang pula gejala yang dirasakan seseorang tidak jelas mengarah pada diabetes, bahkan ada yang tidak menimbulkan gejala sama sekali pada awalnya (asimtomatik).

Setelah Anda mengetahui 10 tanda yang paling sering ditemukan pada penyakit diabetes melitus, semoga Anda bisa lebih peka terhadap keberadaan penyakit ini.

Jangan sampai Anda terlambat menyadari keberadaan penyakit diabetes melitus karena komplikasi penyakit ini bisa bersifat permanen atau tidak bisa disembuhkan.

Berhati-hatilah ketika Anda mengalami beberapa gejala diabetes melitus sebagai berikut.
  1. Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh,
  2. Kelainan kulit seperti gatal tanpa penyebab yang jelas,
  3. Kelainan yang berkaitan dengan kandungan seperti keputihan,
  4. Kesemutan dan rasa baal,
  5. Kelemahan tubuh, misalnya setelah bangun tidur pagi, badan terasa lemas dan mengantuk, dan
  6. Infeksi saluran kemih.
Segeralah berkonsultasi dengan Dokter untuk mendapatkan pengobatan secepatnya sebelum komplikasi diabetes melitus terjadi pada Anda.

This entry was posted in