Senin, 24 Agustus 2020

Inilah Proses Penuaan Yang Sebenarnya Terjadi Pada Kita

proses penuaan subklinik, proses penuaan klinik, subclinic aging process, clinic aging process, transition aging process, proses penuaan

DokDin.ID - Menjadi tua tidak terjadi secara tiba-tiba. Tiba-tiba menjadi keriput. Tiba-tiba rambut menjadi beruban. Tiba-tiba tulang sakit. Tiba-tiba banyak keluhan, karena yaa sudah tua. Bukan... Bukan begitu... Menjadi tua terjadi secara perlahan. Proses penuaan sudah terjadi sejak beberapa waktu yang lalu sebelum kita mengalami keluhan-keluhan itu. Apa saja proses penuaan yang sebenarnya terjadi pada kita.

Inilah proses penuaan yang sebenarnya terjadi pada kita :


1. Proses Penuaan Fase Subklinik


Proses Penuaan Fase Subklinik terjadi sekitar usia 25 tahun sampai 35 tahun, di mana produksi hormon reproduksi dan hormon pertumbuhan mulai berkurang sekitar 14%. 

Berkurangnya hormon Testosteron pada lelaki dan hormon Estrogen pada perempuan yang disertai dengan berkurangnya Growth Hormone akan memicu terjadinya kerusakan DNA pada sel tubuh dan terjadinya akumulasi radikal bebas dalam tubuh.

Dengan adanya akumulasi radikal bebas dalam tubuh, kinerja organ tubuh mulai menurun. 
Radikal bebas biasanya berasal dari unhealthy lifestyle, stres, dan polusi udara.

Ketika proses penuaan fase subklinik sudah terjadi, kesehatan tubuh kita belum terpengaruh, sehingga tanda-tanda penuaan belum terlihat meskipun proses penuaan itu sendiri sudah mulai terjadi.


2. Proses Penuaan Fase Transisi

Proses penuaan fase transisi terjadi sekitar usia 35-45 tahun. Hormon pertumbuhan dan hormon reproduksi akan berkurang sekitar 25% pada proses penuaan fase transisi ini.


Pada proses penuaan fase transisi, tanda-tanda munculnya penuaan dari luar sudah mulai terlihat.


Biasanya saat proses penuaan fase transisi ini terjadi, seseorang mulai memerlukan kacamata plus untuk gejala rabun dekat karena penuaan (presbiopia), pendengaran berkurang, rambut mulai beruban, kulit wajah sudah mulai tampak garis-garis halus, dan sebagainya.


3. Proses Penuaan Fase Klinik

Proses penuaan fase klinik bisa dikatakan juga sebagai proses penuaan fase puncak, dimana ini akan terjadi saat kita mencapai usia 45 tahun ke atas.


Pada fase klinik proses penuaan, hormon testosteron dan estrogen akan sangat menurun, sehingga kadarnya dalam tubuh tersisa sangat sedikit. Demikian pula hormon pertumbuhan. 


Saat ini, gejala penuaan juga sudah sangat terlihat jelas dari penampilan luar seseorang dimana kulit sudah terlihat mengendur, tulang menjadi rapuh dan berisiko terjadinya osteoporosis, rambut beruban secara merata, gigi mulai tanggal, perut membuncit, daya ingat menurun, dan berisiko terkena penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes melitus.


Meski demikian, proses penuaan tidak mesti benar-benar terjadi sesuai dengan umur tersebut di atas. Proses penuaan bisa terjadi lebih cepat dari usia yang seharusnya. Keadaan ini biasa disebut penuaan dini. 


Berbagai faktor seperti gaya hidup yang tidak sehat, adanya penyakit penyerta, tingkat stres yang tinggi, pemilihan makanan yang tidak sesuai dengan usia, bisa menjadi faktor risiko terjadinya penuaan dini.







This entry was posted in

Jumat, 07 Agustus 2020

Tempat Tidur Rumah Sakit Benar-Benar Aman? Banyak Pasien Yang Jatuh!


dokdin.id - Tempat tidur rumah sakit sudah didesain sedemikian rupa untuk menjamin keselamatan pasien saat sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Pasien rawat jalan dan rawat inap adalah pengguna utama dari tempat tidur rumah sakit ini. Namun, apakah tempat tidur rumah sakit benar-benar aman?

Ternyata, pertanyaan apakah tempat tidur rumah sakit benar-benar aman ini mempunyai jawaban .... 

Tempat tidur rumah sakit ternyata tidak benar benar aman jika praktek keselamatan pasien di rumah sakit tidak dijalankan secara benar. 

Dari salah satu jurnal tentang insiden keselamatan pasien yang berkaitan dengan tempat tidur rumah sakit tercatat jatuh dari tempat tidur rumah sakit, terjebak di 'bedrail' tempat tidur rumah sakit, dan infeksi nosokomial (atau yang sering disebut Hospital Acquired Infection, adalah kejadian tidak diharapkan yang paling sering terjadi berkaitan dengan tempat tidur rumah sakit.


Insiden pasien jatuh di rumah sakit sendiri merupakan insiden yang paling sering terjadi di rumah sakit. Dan angka kejadian pasien jatuh dari tempat tidur rumah sakit menempati urutan ketiga setelah pasien jatuh saat transfer atau pemindahan ruangan dan pasien jatuh di toilet.

Untuk mencegah pasien jatuh dari tempat tidur rumah sakit, pihak rumah sakit menyediakan tempat tidur yang dilengkapi dengan 'bedrail' atau penyangga di sisi tempat tidur, namun apakah tempat tidur rumah sakit benar-benar aman karena sudah dilengkapi 'bedrail' sejak lama? 

Ternyata,,,

Pasien yang banyak jatuh dari tempat tidur rumah sakit adalah mereka dengan tempat tidur rumah sakit yang menggunakan 'restrictive bed rail'. 


Ini terjadi ketika kedua sisi 'bedrail' terpasang, dan pasien hendak bangun dari tempat tidur, hendak pergi ke toilet misalnya, mereka tidak bisa menurunkan bedrail, dan tidak ada asisten atau keluarga yang menjaga pasien, kebanyakan pasien akan melompati bedrail dan akhirnya TERJATUH.


Dampak pasien jatuh dari tempat tidur rumah sakit sangat variatif. Dari salah satu penelitian, dampak yang banyak terjadi akibat pasien jatuh dari tempat tidur rumah sakit adalah status mental yang terganggu misalnya pasien mendadak menjadi panik dan traumatik, cedera kepala, kelemahan otot bahu, dan  kehilangan kesadaran. Bahaya pasien jatuh dari tempat tidur juga bisa timbul kematian.